Meta Lolos dari Satu Gugatan, tapi Dikepung Ribuan Tuntutan Kecanduan Medsos
Meta terbebas dari satu gugatan yang menuduh Instagram membuat remaja mengalami kecanduan media sosial. Namun, induk Facebook dan Instagram ini masih menghadapi ribuan gugatan serupa di Amerika Serikat yang menuduh platform tersebut berdampak buruk terhadap kesehatan mental anak-anak.
Mengutip BBC, Kamis (23/7) seorang remaja asal Florida berusia 15 tahun yang diidentifikasi dengan inisial RKC mencabut gugatan terhadap Meta dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, remaja tersebut juga telah menyelesaikan gugatan dengan TikTok, Snapchat, dan YouTube yang diajukan melalui kasus terpisah.
Kasus terhadap Meta seharusnya akan disajikan di Los Angeles pekan depan. Hal ini sebagai bagian dari rangkaian konferensi yang menguji tanggung jawab perusahaan media sosial atas dugaan dampak platform adiktif mereka terhadap anak-anak.
Juru bicara Meta menyambut pencabutan gugatan tersebut sebagai bukti bahwa tuduhan terhadap perusahaan tidak memiliki dasar. “Klaim tersebut tidak pernah terbukti, dan hasil ini memperjelas bahwa kami tidak akan mundur dari membela diri terhadap gugatan yang tidak berdasar,” kata juru bicara Meta kepada BBC.
Sementara itu, kuasa hukum RKC, Emily Jeffcott dan Rahul Ravipudi, mengatakan klien mereka sejak awal ingin mendorong perusahaan media sosial lebih bertanggung jawab dalam melindungi pengguna muda. Menurut mereka, remaja tersebut memutuskan mengakhiri proses hukum karena ingin fokus pada pemulihan kesehatan mental dan menjalani terapi agar dapat kembali menjalani kehidupan normal.
Meta juga menyatakan RKC tidak menerima pembayaran apa pun sebagai bagian dari pencabutan gugatan tersebut.
Dalam gugatannya, RKC menuding fitur seperti unlimited scroll dan autoplay sengaja dirancang untuk membuat pengguna terus mengonsumsi konten tanpa henti sehingga memicu perilaku kompulsif. Ia mengklaim penggunaan Instagram menyebabkan kecemasan, gangguan tidur, serta berbagai masalah kesehatan mental lainnya.
Meski berhasil lolos dari perkara tersebut, tekanan hukum terhadap Meta belum mereda. Pengadilan Tinggi Los Angeles saat ini masih menangani ratusan gugatan serupa yang ditujukan terhadap Meta dan perusahaan media sosial lainnya. Beberapa di antaranya telah dipilih sebagai perkara percontohan untuk disidangkan, dengan sidang berikutnya yang diadakan pada bulan Oktober.
Di tingkat nasional, Meta bersama sejumlah platform media sosial besar lainnya juga masih menghadapi ribuan gugatan yang merugikan keluarga, sekolah, hingga pemerintah daerah. Gugatan ini menuding layanan Meta membahayakan anak-anak.
Sebelumnya, Meta dan YouTube sempat kalah dalam konferensi yang menampilkan seorang perempuan muda dengan tuduhan serupa. Juri memutuskan kedua perusahaan yang bertanggung jawab atas gangguan kesehatan mental yang dialami penggugat dan diperintahkan pembayaran ganti rugi sebesar US$ 6 juta atau sekitar Rp 107,45 miliar (kurs Rp 17.909 per dolar AS).
Putusan tersebut menjadi yang pertama di Amerika Serikat yang menyatakan platform media sosial bertanggung jawab atas dampaknya terhadap pengguna, meskipun kedua perusahaan kini masih mengajukan banding.
Tekanan terhadap Meta juga datang dari pemerintah daerah. Pada Mei 2026, perusahaan menyelesaikan gugatan yang diajukan ke sebuah distrik sekolah di Amerika Serikat terkait dugaan dampak negatif media sosial terhadap siswa. Nilai penyelesaian tidak diungkapkan, sementara pihak sekolah sebelumnya menuntut ganti rugi sebesar US$ 60 juta atau Rp 1,07 triliun.
Tak lama setelah itu, hakim di New Mexico juga memerintahkan Meta membayar US$ 375 juta atau setara Rp 6,72 triliun karena menilai pengguna mengenai tingkat keamanan platformnya bagi anak-anak.
