Registrasi Biometrik Pangkas Aktivasi Simcard, Nomor HP Bodong Mulai Hilang

Rahayu Subekti
23 Juli 2026, 17:46
Simcard, nomor hp, komdigi,
ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo/Spt.
Simcard
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kewajiban registrasi simcard HP menggunakan verifikasi biometrik yang dilakukan secara menyeluruh sejak 1 Juli mulai mengubah wajah industri telekomunikasi nasional. Kementerian Komdigi mengklaim kebijakan tidak menekan penjualan kartu perdana, namun di sisi lain tetap berhasil memangkas praktik penggunaan nomor bodong atau Simcard anonim yang selama ini diduga menjadi salah satu pintu masuk kejahatan digital.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan pemerintah melihat perubahan signifikan pada pola aktivasi Simcard setelah registrasi biometrik mulai diterapkan. Sebelum kebijakan itu berlaku, aktivasi nomor seluler baru pernah mencapai sekitar satu juta nomor per hari.

Namun, pemerintah menduga sebagian besar angka tersebut bukan berasal dari pelanggan baru yang sah. "Kalau nggak salah sehari bisa satu juta nomor baru tanpa registrasi biometrik menggunakan NIK yang belum tentu NIK-nya diri sendiri. Sampai sekarang bisa diturunkan sampai kurang lebih 250 ribu hingga 280 ribu per hari," kata Meutya saat menghadiri acara Deklarasi Komitmen Bersama Implementasi Penuh Registrasi Pelanggan Berbasis Data Biometrik di Jakarta, Kamis (23/7).

Menurutnya, penurunan tersebut bukan berarti minat masyarakat membeli Simcard melemah. Justru yang berkurang adalah nomor-nomor anonim yang berpotensi dimanfaatkan untuk penipuan digital, penyebaran spam, hingga aktivitas perjudian online.

"Angka satu juta di awal itu angka bodong. Artinya nomornya ada, orangnya itu lagi itu lagi. Dugaan utama kami digunakan justru untuk kejahatan-kejahatan digital," ujarnya.

Temuan tersebut diperkuat hasil evaluasi Kementerian Komdigi selama tiga pekan pertama implementasi penuh registrasi biometrik. Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan penjualan kartu perdana tetap stabil.

"Penjualan kartu perdana tidak turun, malah stabil di antara 250 sampai 300 ribu, sama seperti sebelum full biometrik," kata Edwin.

Pasar SIMCard Mulai Bergeser

Data tersebut mengindikasikan bahwa registrasi biometrik tidak menggerus bisnis operator seluler sebagaimana kekhawatiran awal industri. Sebaliknya, kebijakan itu mulai menyaring pelanggan yang benar-benar menggunakan identitasnya sendiri saat mengaktifkan nomor telepon.

Perubahan ini juga menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun volume aktivasi SIMCard kemungkinan dipengaruhi oleh praktik praregistrasi, penggunaan NIK milik orang lain, maupun peredaran kartu yang dijual dalam kondisi sudah aktif.

Komdigi menilai penyaringan tersebut penting karena nomor telepon merupakan pintu masuk berbagai layanan digital, mulai dari mobile banking, dompet digital, hingga akun media sosial. Semakin sedikit nomor anonim yang beredar, semakin kecil pula ruang bagi pelaku kejahatan untuk memanfaatkan identitas palsu.

Meutya menyebut registrasi biometrik merupakan upstream solution atau solusi dari sisi hulu. “Ini untuk memutus akar masalah kejahatan berbasis digital dengan berusaha menutup celah anonimitas,” katanya.

Penipuan Digital Tembus Rp 9,1 Triliun

Pemerintah mengaitkan penerapan registrasi biometrik dengan besarnya kerugian akibat penipuan digital di Indonesia. Berdasarkan data Anti-Scam Center, nilai kerugian akibat penipuan digital sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp 9,1 triliun.

Selain itu, Kementerian Komdigi menerima lebih dari 30 ribu laporan nomor telepon yang diduga digunakan untuk aktivitas penipuan selama Januari hingga Juli 2026.

Pemerintah meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih besar karena tidak seluruh korban melapor. “Ini yang dilaporkan oleh masyarakat. Artinya yang tidak dilaporkan bisa lebih banyak lagi,” kata Meutya.

Hingga pertengahan Juli 2026, Kementerian Komdigi mencatat sekitar 10 juta pelanggan telah melakukan registrasi biometrik. Meutya bahkan menambah target registrasi biometrik untuk operator.  

meminta operator menambah 10 juta pelanggan lagi dalam satu bulan ke depan, tidak hanya dari pelanggan baru tetapi juga pelanggan lama yang belum melakukan verifikasi biometrik.

“Mungkin dalam sebulan ke depan 10 juta lagi saya rasa bisa ini teman-teman operator seluler,” katanya.

Berikut rincian jumlah pelanggan masing-masing operator yang sudah melakukan registrasi biometrik hingga 22 Juli 2026:

  • Indosat menjadi operator dnegan jumlah registrasi biometrik terbanyak yakni sekitar 3,9 juta pelanggan.
  • Telkomsel mencatat sekitar 3,35 juta pelanggan yang telah melakukan registrasi biometrik.
  • XLSmart mencatat sekitar 2,79 juta pelanggan sudah melakukan registrasi biometrik

Meski demikian, angka tersebut baru mencakup sekitar 3,45% dari total 291,16 juta pelanggan seluler aktif di Indonesia. Artinya, lebih dari 281 juta pelanggan atau sekitar 96,5% pengguna seluler masih belum melakukan registrasi biometrik.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...