Komdigi: AI dan Blockchain Bisa Tekan Kebocoran Sistem Perdagangan Nasional

Rahayu Subekti
24 Juli 2026, 09:25
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dalam audiensi dengan Pengurus Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) di Jakarta, Jumat (3/7)
Dok. Humas Komdigi
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dalam audiensi dengan Pengurus Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) di Jakarta, Jumat (3/7)
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi menilai pemanfaatan kecerdasan buatan alias AI yang dipadukan dengan teknologi blockchain dapat menjadi solusi untuk mengurangi kebocoran dalam sistem perdagangan nasional. Kedua teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan akurasi pencatatan transaksi sekaligus membantu pelaku usaha mengoptimalkan rantai pasok.

Menurutnya, digitalisasi dari hulu hingga hilir memungkinkan pemerintah dan pelaku usaha mendeteksi titik kehilangan, meningkatkan efisiensi, serta menekan potensi kecurangan.

"Kalau bisa dibuat satu sistem perdagangan yang pencatatannya lebih akurat, kita bisa mencegah kebocoran. Produksinya juga bisa lebih baik karena kita dapat mendeteksi titik-titik kehilangan sehingga optimasi bisa dilakukan," kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya dikutip Jumat (24/7).

Menurutnya, blockchain dapat menghadirkan sistem pencatatan transaksi yang transparan dan sulit dimanipulasi. Sementara itu, AI dapat dimanfaatkan untuk menganalisis data perdagangan, memprediksi permintaan pasar, mengoptimalkan produksi, hingga meningkatkan efisiensi distribusi barang.

Ia menilai penerapan kedua teknologi tersebut penting. Senan dari setiap perpindahan data, pembayaran, maupun logistik dalam rantai perdagangan selalu menimbulkan biaya tambahan.

"Setiap perpindahan moda ada cost. Pindah ke platform lain, ada cost lagi. Karena itu sekarang arahnya adalah sistem yang seamlessend-to-end, sehingga proses bisnis menjadi lebih efisien," ujarnya.

Nezar mengatakan sistem perdagangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir juga berpotensi mempersempit ruang terjadinya kecurangan atau fraud. Selain menghasilkan pencatatan yang lebih akurat, sistem tersebut dapat memberikan visibilitas terhadap seluruh proses bisnis sehingga potensi penyimpangan lebih mudah dideteksi.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset BRAIN IPB University Yandra Arkeman mengungkapkan konsep pemanfaatan AI dan blockchain untuk mendukung pengembangan sistem perdagangan nasional. Ini termasuk melalui skema single gate export.

Dalam konsep itu, blockchain digunakan sebagai teknologi pencatatan transaksi. Sementara AI dimanfaatkan untuk menganalisis data perdagangan dan memprediksi kebutuhan pasar.

Nezar menilai, pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat transformasi digital di sektor-sektor produktif. Khususnya agroindustri yang menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.

"Ini bagus dan sesuai juga dengan misi IPB. Teknologi bisa membantu sistem perdagangan menjadi lebih baik, pencatatannya lebih akurat, dan berbagai potensi fraud dapat ditekan," katanya.

Nezar juga mendorong kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi digital, termasuk AI, blockchain, dan komputasi kuantum. Menurutnya, Indonesia perlu berperan sebagai pengembang inovasi, bukan hanya menjadi pengguna teknologi global.

"Kita harus terus memasang mata dan telinga terhadap perkembangan teknologi. Yang paling penting adalah bagaimana solusi-solusi digital yang dikembangkan benar-benar dapat dimanfaatkan untuk mendukung program-program strategis nasional," ujarnya.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...