Indonesia Bangun Sovereign AI, Kurangi Ketergantungan Teknologi Asing
Pemerintah mulai menyiapkan fondasi sovereign artificial intelligence (AI) atau AI berdaulat sebagai upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap penguasaan teknologi oleh negara-negara besar. Langkah tersebut ditempuh melalui pembangunan ekosistem AI nasional yang mencakup model AI lokal, infrastruktur komputasi, hingga penguatan talenta digital.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan penguasaan AI tidak lagi sekadar berkaitan dengan inovasi teknologi, tetapi telah menjadi faktor strategis yang menentukan posisi suatu negara dalam rantai pasok teknologi global.
Menurutnya, banyak negara dengan kekuatan ekonomi menengah mulai mendorong pengembangan sovereign AI agar tidak bergantung pada segelintir negara yang menguasai teknologi AI. "Negara-negara yang di tengah, di middle power ini, mencoba mempromosikan sovereign AI karena pada akhirnya penguasaan teknologi AI ini akan jadi choke point buat negara-negara yang besar ini untuk menjaga dominasi mereka," kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya dikutip Jumat (24/7).
Ia menilai Indonesia perlu membangun ekosistem AI secara menyeluruh atau full stack. Menurutnya, kemandirian AI tidak hanya bergantung pada kemampuan mengembangkan model AI, tetapi juga ditopang oleh infrastruktur dasar, mulai dari pasokan listrik, air, kapasitas komputasi berbasis GPU, chip semikonduktor, platform, hingga aplikasi.
"Kalau membangun sovereign AI, semua lapisannya harus dibangun. Mulai dari infrastruktur dasar sampai aplikasi, sehingga kita memiliki ekosistem yang utuh," ujarnya.
Selain infrastruktur, Nezar menilai Indonesia memiliki modal berupa talenta digital yang mampu bersaing di tingkat global. Tantangannya, kata dia, adalah memastikan para pengembang dan peneliti memperoleh akses terhadap infrastruktur AI serta pengetahuan teknis yang memadai.
“Kalau soal digital talent tidak masalah sepanjang anak-anak muda dan talent-talent kita dapat kesempatan. Mereka bisa mengakses infrastruktur AI, terus ada ilmunya, dan kreativitas serta inovasi-inovasi. Saya yakin di bidang compute cluster itu kita bisa bersaing,” ujarnya.
Nezar juga menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai pemilik sumber daya mineral kritis yang menjadi bahan baku industri AI dan semikonduktor. Menurutnya, komoditas tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
"Kita punya sumber daya alam yang sekarang sedang diperebutkan untuk infrastruktur AI, yaitu critical minerals, sehingga harus ada langkah-langkah bagaimana dia bisa kita secure agar menjadi salah satu bargaining power kita di dalam global supply chain," katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa strategi pengembangan AI nasional tidak hanya diarahkan untuk mempercepat transformasi digital di dalam negeri, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan teknologi global yang semakin dipengaruhi oleh penguasaan komputasi, semikonduktor, dan sumber daya mineral pendukung industri AI.
Langkah Indonesia membangun sovereign AI sejalan dengan tren global. Uni Eropa, misalnya, meluncurkan European Technological Sovereignty Package untuk memperkuat kapasitas AI, cloud, dan semikonduktor.
Sementara itu, India juga menjalankan IndiaAI Mission dengan membangun infrastruktur GPU nasional dan mengembangkan foundation model lokal.
Lalu juga Arab Saudi membentuk HUMAIN untuk membangun seluruh rantai nilai AI. Hal ini mulai dari pusat data hingga model AI. Sementara Singapura memperbarui National AI Strategy 2.0 dan membentuk National AI Council untuk memperkuat kemampuan AI nasional.
