Apple Salip Nvidia, Investor Mulai Ragukan Strategi Belanja AI Jumbo Big Tech
Perusahaan raksasa teknologi dunia Apple Inc kembali menjadi perusahaan publik dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia setelah menyalip Nvidia. Bahkan, pada perdagangan Selasa (28/7) waktu Amerika Serikat, nilai pasar pembuat iPhone itu sempat menyentuh US$ 5 triliun atau Rp 90.440 triliun untuk pertama kalinya, meski akhirnya ditutup sedikit di bawah level tersebut.
Mengutip CNBC Internasional, Selasa (28/7), saham Apple sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 342,89 atau Rp 6,20 juta per lembar sebelum ditutup di level US$ 340,08 atau Rp 6,125 juta. Dengan harga tersebut, kapitalisasi pasar perusahaan berada tepat di bawah ambang US$ 5 triliun.
Kenaikan saham Apple sepanjang tahun ini mencapai sekitar 25%, jauh melampaui Nvidia yang hanya naik sekitar 6%. Padahal, selama dua tahun terakhir Nvidia menjadi simbol kebangkitan industri kecerdasan buatan (AI) berkat dominasi chip grafis atau GPU yang digunakan untuk melatih model AI generatif.
Perubahan kinerja saham kedua perusahaan mencerminkan bergesernya pandangan investor terhadap strategi investasi AI para raksasa teknologi.
Selama ini, perusahaan seperti Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft mengalokasikan belanja modal hingga ratusan miliar dolar AS untuk membangun pusat data, infrastruktur komputasi, serta mengembangkan model AI mereka sendiri.
Sebaliknya, Apple memilih pendekatan yang lebih konservatif. Perusahaan menjaga belanja modal tetap rendah dan memanfaatkan infrastruktur komputasi awan serta teknologi AI milik Google untuk mendukung sebagian pengembangan layanan berbasis AI.
Strategi tersebut sempat dipandang sebagai kelemahan. Tahun lalu, investor menilai Apple tertinggal dalam perlombaan AI karena belum menghadirkan pembaruan besar untuk Siri dan tidak melakukan investasi agresif seperti para pesaingnya.
Namun, sentimen pasar mulai berubah. Investor kini semakin mencermati besarnya pengeluaran perusahaan teknologi untuk AI yang belum sepenuhnya diikuti peningkatan laba maupun arus kas. Kekhawatiran terhadap tingginya belanja modal dan potensi tekanan terhadap profitabilitas membuat pendekatan Apple dinilai lebih disiplin secara finansial.
Di sisi lain, Apple tetap mempertahankan pertumbuhan bisnisnya meski menghadapi kenaikan biaya komponen akibat kelangkaan memori global. Perusahaan bahkan mulai menaikkan harga sejumlah produk seperti MacBook dan iPad untuk mengimbangi peningkatan biaya tersebut.
Apple juga memperkenalkan program Upgrade, layanan baru di Amerika Serikat yang memungkinkan pelanggan menyewa iPhone dan perangkat Apple lainnya melalui skema berlangganan, dibandingkan membeli perangkat secara langsung. Langkah ini dinilai dapat memperkuat pendapatan berulang atau recurring revenue perusahaan.
Persaingan antara Apple dan Nvidia kini menjadi simbol perdebatan yang lebih luas mengenai arah industri AI. Jika Nvidia menjadi representasi perusahaan yang memperoleh keuntungan dari lonjakan investasi AI global, Apple justru menunjukkan bahwa valuasi tinggi tetap dapat dicapai tanpa harus menggelontorkan belanja modal dalam jumlah besar.
Apple dijadwalkan mengumumkan kinerja keuangan kuartalan pada Kamis (30/7) waktu Amerika Serikat. Laporan tersebut menjadi perhatian investor untuk melihat apakah strategi investasi yang lebih efisien mampu terus menopang pertumbuhan perusahaan di tengah kompetisi AI yang semakin ketat.
Konferensi kinerja tersebut juga menjadi yang terakhir dipimpin Tim Cook sebagai CEO sebelum jabatan itu resmi beralih kepada John Ternus pada 1 September 2026.
