Jejak Bot di Balik Video Demo Lama Viral Lagi: 9 Retweet dalam 105 Milidetik

Rahayu Subekti
7 Agustus 2026, 17:18
video demo lama,
Katadata/Fauza Syahputra
Mahasiswa BEM Universitas Indonesia menggelar aksi demonstrasi di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Video demo lama yang kembali viral di media sosial (medsos) menjelang momentum 17 Agustus, memunculkan dugaan adanya pola penyebaran yang tidak berlangsung secara organik. Analisis terpisah Drone Emprit dan Monash University menemukan sejumlah indikasi penyebaran terkoordinasi, terutama potensi penggunaan bot.

Salah satu temuan yang mencolok yakni aktivitas sembilan retweet yang dilakukan hanya dalam waktu sekitar 105 milidetik. Temuan ini muncul dalam analisis Monash University terhadap penyebaran video demo pada 26 Juli-1 Agustus . Dari 34.935 unggahan di X yang dianalisis, sebanyak 99,46% merupakan retweet.

Tren konten di X, Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook dengan kata kunci demo, demonstrasi, aksi, mahasiswa, video, liput selama 26 Juli sampai 1
Tren konten di X, Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook dengan kata kunci demo, demonstrasi, aksi, mahasiswa, video, liput selama 26 Juli sampai 1 (Monash University)
 

Peneliti juga menemukan sejumlah akun melakukan aktivitas yang dinilai nyaris mustahil dilakukan secara manual. Salah satunya adalah akun yang melakukan sembilan retweet berbeda hanya dalam waktu sekitar 105 milidetik.

Sejumlah akun lainnya juga melakukan beberapa retweet dengan jeda kurang dari satu detik. "Pola ini mengindikasikan penggunaan skrip, aplikasi otomatis, atau mekanisme bulk retweet, yang tujuannya memang untuk menaikkan engagement percakapan," demikian dikutip dari laporan Monash University.

Merujuk pada temuan itu, Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom Alfons Tanujaya menilai, secara teknis, aktivitas itu paling mungkin dilakukan oleh bot. "Bot tetap dikendalikan manusia, tetapi kalau sampai ada upaya seperti itu kemungkinan memang ada kepentingan tertentu yang ingin dicapai," kata dia kepada Katadata.co.id, Jumat (7/8).

Menurut Alfons, manusia rata-rata membutuhkan sekitar 150 milidetik hanya untuk satu kali klik atau sentuhan layar. Dengan demikian, sembilan retweet dalam 105 milidetik menunjukkan aktivitas tersebut kemungkinan dilakukan menggunakan mekanisme otomatis.

"Kalau sembilan retweet dilakukan dalam 105 milidetik berarti rata-rata sekitar 12 milidetik per retweet. Itu bahkan lebih cepat dari refresh rate layar. Belum selesai refresh sudah melakukan retweet," ujarnya.

Indikasi aktivitas terkoordinasi juga terlihat dari konsentrasi penyebaran konten. Monash University mencatat hanya satu unggahan menyumbang 13.446 retweet atau 38,7% dari seluruh retweet. Sementara itu, 10 unggahan teratas menghasilkan 88,5% dari seluruh aktivitas retweet.

Satu unggahan dari akun @dieddfish tercatat menghasilkan 13.446 retweet atau 38,7% dari seluruh retweet. Monash University menyebut pola tersebut sebagai struktur seed-and-amplify. Dalam pola ini, sejumlah kecil akun membuat atau menyebarkan narasi awal, kemudian ribuan akun lain memperkuatnya melalui retweet.

"Kalau satu akun menyumbang 13.446 retweet dan hanya 10 unggahan menguasai mayoritas interaksi, ini merupakan ciri khas seed-and-amplify. Bukan viral organik. Kalau organik seharusnya sumbernya jauh lebih banyak dan independent," kata Alfons.

Monash University juga menyebut pola itu mengindikasikan penggunaan skrip, aplikasi otomatis, atau mekanisme bulk retweet yang bertujuan meningkatkan engagement percakapan.

Temuan Monash University sejalan dengan analisis Drone Emprit mengenai percakapan terkait potensi demonstrasi dan kerusuhan pada 17 Juli-3 Agustus.

Drone Emprit menemukan adanya indikasi inauthentic coordinated behavior atau ICB. Pola ini terlihat dari penyebaran narasi dengan pesan, gambar, dan video yang sangat mirip di berbagai platform media sosial.

Dalam analisisnya, Drone Emprit menemukan konten-konten dengan kesamaan skenario dan narasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa konten tidak semata-mata muncul secara spontan, tetapi sengaja diperbanyak untuk memperluas jangkauan isu.

Selain itu, terdapat sejumlah akun dengan aktivitas tidak lazim. Akun-akun ini antara lain akun baru, akun lama yang kembali aktif, hingga akun yang diduga terindikasi bot atau mengunggah konten serupa dalam waktu berdekatan.

Drone Emprit juga menemukan penyebaran narasi tidak hanya berlangsung melalui unggahan utama. Narasi diperkuat melalui repost, komentar, dan konten serupa yang saling menguatkan di berbagai platform.

Dalam pemantauan itu, Drone Emprit mencatat narasi berkembang dari X kemudian menyebar ke platform lain melalui unggahan ulang, gambar, dan video.

Video Lama Dibingkai Jadi Peristiwa Baru

Salah satu karakteristik percakapan menjelang demonstrasi Agustus yakni munculnya kembali dokumentasi, video, dan pernyataan lama yang dibingkai seolah-olah merupakan peristiwa terbaru.

Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi sebelumnya juga mengakui adanya video demo lama yang kembali diunggah dengan konteks berbeda.

Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan sebagian konten yang beredar merupakan informasi yang sepenuhnya tidak benar. Sebagian lainnya menggunakan materi lama yang disebarkan kembali dengan konteks berbeda atau memanfaatkan peristiwa di luar negeri yang diklaim seolah terjadi di Indonesia.

"Ada yang betul-betul hoaks karena kejadiannya tidak pernah ada. Ada yang menggunakan gambar lama dengan konteks yang berbeda. Ada pula yang menggabungkan kejadian di negara lain seolah-olah terjadi di Indonesia," kata Meutya di Jakarta, Senin (3/8).

Monash University juga menyoroti persoalan pengunggahan ulang rekaman video lama yang diklaim sebagai peristiwa terkini.

Menurut analisis tersebut, praktik itu dapat menyesatkan publik dan merusak gerakan protes yang sesungguhnya. Monash University mendorong masyarakat memverifikasi waktu, sumber, dan konteks video sebelum membagikannya.

Algoritma Perbesar Emosi Negatif

Drone Emprit menemukan bahwa penyebaran narasi kerusuhan berlangsung cepat karena relevan dengan kondisi psikologis masyarakat yang sedang cemas.

Situasi tersebut kemudian diperkuat oleh algoritma media sosial sehingga memperbesar emosi negatif seperti kemarahan dan ketakutan demi meraih interaksi tinggi.

Analisis Drone Emprit menunjukkan mayoritas percakapan justru mendukung penyampaian aspirasi secara damai dan ajakan menghindari provokasi. Namun, narasi yang membangun kekhawatiran hingga potensi kekacauan tetap muncul dan turut membentuk persepsi publik.

Perhatian publik terhadap isu tersebut mencapai puncaknya pada awal Agustus. X menjadi ruang diskusi utama, sedangkan Instagram mencatat interaksi tertinggi sepanjang periode pemantauan.

Pada 3 Agustus, perhatian publik mencapai puncaknya dengan total 6.622 mentions. Sementara itu, selama periode 17 Juli-3 Agustus, X mencatat volume mention terbesar dengan 26.281 mentions, sedangkan Instagram mencatat engagement lebih dari 24,6 juta.

Temuan Drone Emprit
Temuan Drone Emprit (Drone Emprit, digabung dengan AI)
 

Bukan Sekadar Membuat Konten Viral

Alfons menilai penyebaran kembali video lama secara terkoordinasi bukan sekadar bertujuan mendapatkan perhatian publik. Menurutnya, pola tersebut dapat digunakan untuk membangun disinformasi yang menciptakan ilusi bahwa situasi lebih besar dan lebih genting dibandingkan kondisi sebenarnya.

"Tujuannya jelas untuk menyebarkan disinformasi dengan tujuan tertentu seperti menimbulkan ketidaktenangan, ilusi skala dan urgensi yang tidak terjadi serta melakukan delegitimasi institusi," katanya.

Menurut Alfons, dampaknya tidak hanya membuat masyarakat menerima informasi yang menyesatkan. Pola tersebut juga dapat merusak legitimasi demonstrasi yang benar-benar berlangsung.

"Hal ini justru mendelegitimasi aksi demonstrasi yang sah, merusak kemampuan publik membedakan realitas dari rekayasa, dan pada akhirnya membuat masyarakat skeptis terhadap semua informasi. Lama-kelamaan orang bukan hanya tidak percaya hoaks, tetapi juga tidak percaya informasi yang benar," ujarnya.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi juga menilai penyebaran video demonstrasi lama secara terkoordinasi patut dipandang sebagai strategi manipulasi informasi, bukan sekadar penyebaran hoaks biasa.

Menurut Heru, tujuannya dapat berupa membentuk persepsi publik, memprovokasi emosi, menciptakan kesan seolah suatu peristiwa sedang terjadi, hingga memengaruhi opini terhadap isu tertentu.

"Video lama yang dikemas seolah merupakan peristiwa baru dapat memicu kepanikan, polarisasi, bahkan ketegangan sosial. Jika dilakukan secara terorganisasi, disinformasi semacam ini dapat mengganggu stabilitas sosial dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang beredar di ruang digital," kata Heru.

Oleh karena itu, Heru meminta masyarakat tidak langsung mempercayai konten yang sedang viral. Menurutnya, waktu, sumber, dan konteks video perlu diperiksa sebelum konten dibagikan.

Ia juga menilai platform media sosial perlu memperkuat sistem deteksi terhadap konten menyesatkan. Pemerintah, media, akademisi, dan masyarakat juga perlu meningkatkan literasi digital agar publik terbiasa melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi.

Heru menilai upaya melawan disinformasi tidak cukup hanya dengan menghapus konten palsu. Komunikasi pemerintah juga perlu cepat, konsisten, transparan, berbasis data, dan mudah dipahami publik.

Temuan Drone Emprit menunjukkan bahwa di tengah tingginya perhatian terhadap isu demonstrasi, mayoritas percakapan tetap mendukung aksi damai. Namun, amplifikasi konten lama, pola penyebaran yang tidak lazim, dan narasi provokatif dapat memperbesar persepsi ancaman di ruang digital.

Dengan temuan aktivitas retweet dalam hitungan milidetik, konsentrasi retweet pada sejumlah kecil unggahan, serta pola seed-and-amplify, penyebaran video lama menjelang momentum 17 Agustus menjadi lebih dari sekadar persoalan konten yang salah konteks. Data ini menunjukkan adanya indikasi pola amplifikasi yang perlu dicermati dalam melihat bagaimana persepsi publik dibentuk di media sosial.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...