Nvidia Berpotensi Raup Rp 10.701 Triliun dari OpenAI ChatGPT
Nvidia berpotensi meraup pendapatan hingga US$ 600 miliar atau sekitar Rp 10.701,6 triliun (kurs Rp 17.836 per dolar AS) dari OpenAI hingga 2030. Pendapatan ini berasal dari penjualan kapasitas komputasi untuk mendukung pengembangan dan operasional kecerdasan buatan (AI) OpenAI.
Mengutip Reuters, Senin (17/8), potensi pendapatan tersebut berasal dari penjualan daya komputasi Nvidia sebesar 16 gigawatt (GW) kepada OpenAI hingga 2030.
Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari ekspansi besar-besaran infrastruktur AI OpenAI. Salah satunya melalui pembangunan pusat data berskala besar di Pike County, Ohio yang dikembangkan oleh SB Energy, anak usaha SoftBank.
Nvidia bahkan setuju memberikan jaminan hingga US$ 105 miliar atau Rp 1.872,7 triliun untuk membantu OpenAI menyewa fasilitas pusat data tersebut. Selain itu, Nvidia juga akan menginvestasikan US$ 1,5 miliar atau Rp 26,75 triliun di SB Energy.
Fasilitas di Ohio tersebut akan memiliki kapasitas hingga 8 GW. Tahap awal dengan kapasitas 800 megawatt (MW) ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028. OpenAI akan menyewa lokasi tersebut selama 20 tahun.
Dalam kesepakatan tersebut, Nvidia akan menjadi pemasok chip eksklusif untuk fasilitas pusat data tersebut. Chief Executive Officer Nvidia Jensen Huang mengatakan fasilitas tersebut dapat memberikan pendapatan hingga US$ 200 miliar atau Rp 3.567,2 triliun bagi Nvidia.
Nvidia Jajaki Bisnis Infrastruktur AI
Kesepakatan dengan OpenAI menunjukkan semakin dalamnya keterlibatan Nvidia dalam pembangunan infrastruktur AI. Perusahaan tidak hanya memasok chip, tetapi juga mulai mengambil peran dalam pembiayaan dan pengamanan fasilitas yang akan digunakan untuk menjalankan chipnya.
Nvidia menyatakan total nilai jaminan tersebut mencakup sebagian pembayaran sewa dan biaya listrik. Jaminan itu juga mencakup komitmen untuk menjaga nilai minimum tertentu dari lokasi. Namun, Nvidia tidak menanggung seluruh biaya proyek maupun seluruh kewajiban OpenAI.
Jika OpenAI gagal membayar kewajibannya, Nvidia akan menanggung selisih antara nilai minimum yang dijamin dengan nilai yang dapat diperoleh pemilik properti melalui penyewaan ulang atau penjualan lokasi.
Huang mengatakan langkah tersebut bukan merupakan bentuk pembiayaan melingkar atau pembiayaan sirkular . Menurutnya, Nvidia menggunakan skala bisnis dan visibilitas jangka panjangnya untuk membantu mengamankan infrastruktur komputasi yang membutuhkan OpenAI.
“Kami mengamankan infrastruktur berumur panjang untuk komputasi Nvidia agar OpenAI dapat menghadirkan pabrik AI paling produktif,” ujarnya
Meski demikian, kesepakatan tersebut tetap menimbulkan perhatian investor terkait semakin eratnya hubungan finansial antara perusahaan-perusahaan dalam ekosistem AI.
Analis keuangan AJ Bell Danni Hewson mengatakan kekhawatiran investor terhadap siklus kesepakatan AI yang saling terkait merupakan hal yang wajar. “Ujian terbesarnya adalah apakah investasi ini pada akhirnya akan menghasilkan imbal hasil yang mampu bagi pihak-pihak yang telah mengeluarkan dana, dan hal itu baru dapat diketahui di masa mendatang,” katanya.
Besarnya kapasitas komputasi yang dibutuhkan OpenAI juga menjadikan kebutuhan energi menjadi salah satu tantangan utama. SoftBank dan SB Energy berencana membangun pembangkit listrik baru dengan kapasitas setidaknya 10 GW untuk mendukung operasional fasilitas tersebut.
Keduanya juga akan menginvestasikan US$ 4,2 miliar atau Rp 74,91 triliun untuk membangun infrastruktur jaringan listrik regional melalui kemitraan dengan AEP Ohio. Nvidia memperkirakan 1 GW daya komputasi membutuhkan pasokan listrik yang setara dengan kebutuhan rata-rata sekitar 750 ribu rumah tangga di Amerika Serikat.
Selain kebutuhan energi, ketersediaan lahan dan kapasitas jaringan listrik juga semakin menjadi kendala bagi pembangunan pusat data di Amerika Serikat. Jaringan listrik yang menua dan meningkatnya penolakan masyarakat terhadap proyek baru menjadi tantangan bagi perluasan infrastruktur AI.
Proyek pusat data di Ohio diperkirakan menciptakan sekitar 35 ribu lapangan kerja operasional konstruksi hingga tahun 2032. Selain itu juga sekitar 2.500 lapangan kerja operasional operasional jangka panjang.
