Booming AI Bisa Jadi Mesin Cuan Baru Emiten Listrik, Fiber hingga Konstruksi

Rahayu Subekti
21 Agustus 2026, 16:06
emiten, ai, pgas, bren, dssa, dcii, edge, isat,
ChatGPT, Katadata/Desy Setyowati
Ilustrasi tren ai ke emiten
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Demam kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah peta peluang di pasar modal Indonesia. Namun, investor dinilai tidak perlu terpaku pada emiten yang secara langsung bergerak di bisnis akal imitasi.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, sektor yang paling berpotensi menikmati manfaat tren AI di Indonesia bukan pembuat GPU maupun aplikasi AI. Justru, peluang terbesar pada tahap awal perkembangan akal imitasi berada pada perusahaan yang menyediakan infrastruktur fisik untuk menopang teknologi itu.

“Sektor infrastruktur yang menopang ekosistem tersebut paling menikmati, mulai dari data center, listrik, fiber connectivity, cooling hingga konstruksi,” kata Elandry kepada Katadata.co.id, Jumat (21/8).

Menurut Elandry, rantai manfaat AI dapat digambarkan melalui alur AI → GPU → data center → listrik → fiber → cooling → konstruksi → cloud → aplikasi AI. Dengan posisi Indonesia yang belum memiliki eksposur besar pada produsen GPU maupun hyperscaler global, peluang justru terbuka pada bagian tengah rantai tersebut.

“Indonesia belum memiliki exposure besar di sisi GPU maupun hyperscaler global, tetapi punya peluang menjadi lokasi fisik tempat compute tersebut dijalankan,” ujarnya.

Pandangan itu sejalan dengan riset terbaru KB Valbury Sekuritas bertajuk The AI Economy: Unlocking Indonesia's Growth Potential Amid Structural Constraints yang terbit pada Jumat (21/8). Riset ini menilai data center kemungkinan menjadi penerima manfaat terbesar dari belanja modal atau capex AI dalam jangka pendek.

Indonesia sendiri dinilai lebih berperan sebagai pasar infrastruktur AI ketimbang negara pengembang model AI hyperscale atau produsen semikonduktor canggih.

Dalam riset tersebut, pasar pusat data Indonesia diperkirakan tumbuh dari US$ 1,83 miliar atau Rp 32,5 triliun pada 2026 menjadi US$ 3,48 miliar atau Rp 61,87 triliun pada 2031. Pertumbuhan tersebut setara dengan compound annual growth rate (CAGR) 13,7%.

Kapasitas IT load juga diperkirakan meningkat dari 1,44 gigawatt (GW) pada 2025 menjadi 3,56 GW pada 2030, setara CAGR sekitar 19,9%.

Sementara itu, kapasitas pusat data yang sudah beroperasi di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 580 megawatt (MW), dengan tambahan potensi kapasitas sekitar 1,3 GW.

Jika seluruh potensi tersebut terealisasi, nilai investasi infrastrukturnya diperkirakan mencapai US$ 15 miliar - US$ 20 miliar atau sekitar Rp266,6 triliun-Rp355,58 triliun.

Pendiri komunitas pasar saham Cuan Bagger sekaligus Stock Market Analyst CNBC Indonesia, Susi Setiawati, juga menempatkan data center sebagai salah satu sektor yang paling mudah dikaitkan dengan pertumbuhan AI.

Menurut Susi, ledakan AI membutuhkan kapasitas komputasi dan penyimpanan data yang jauh lebih besar dibandingkan aplikasi digital konvensional. Pertumbuhan tersebut berpotensi membuat industri data center Indonesia tumbuh lebih cepat seiring masuknya investasi baru.

Dalam unggahannya di Instagram, Susi juga menyoroti peluang Indonesia mendapatkan relokasi investasi data center setelah pembangunan data center di Singapura menghadapi keterbatasan.

“Sebagian investasi kemudian mengalir ke Malaysia dan kini semakin banyak mengarah ke Indonesia,” tulis Susi.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
Sebuah kiriman dibagikan oleh Susi Setiawati (@susisetiawati22)

Kebutuhan infrastruktur tersebut semakin besar karena server berbasis GPU menghasilkan panas yang tinggi. Susi mengungkapkan kebutuhan pendinginan untuk AI data center dapat mencapai sekitar 100-200 kilowatt (kW) per rack, jauh lebih tinggi dibandingkan data center konvensional yang berada di kisaran 10-35 kW per rack.

“Jadi, boom AI = boom kebutuhan listrik + data center + jaringan + pendingin,” tulisnya.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan tren AI di Indonesia sebaiknya tidak semata-mata dilihat sebagai tema saham teknologi. “Ini lebih tepat dipandang sebagai capex supercycle untuk digital infrastructure,” kata Nafan.

Menurut Nafan, setiap tambahan GPU akan membutuhkan kapasitas pusat data. Data center kemudian membutuhkan pasokan listrik, fiber, cooling, konstruksi, cloud dan konektivitas.

Dalam rantai tersebut, data center menjadi titik monetisasi yang paling langsung. Sementara listrik dan fiber menjadi komponen strategis yang dapat menjadi bottleneck ketika permintaan komputasi meningkat pesat.

Cuan DCII, EDGE, DSSA, ISAT dari Tren AI

Dari sisi emiten, Susi menempatkan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Indointernet Tbk (EDGE) sebagai pure play yang paling mudah dikaitkan dengan pertumbuhan pusat data di tengah booming AI.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga dinilai menarik karena memiliki kombinasi eksposur data center dan energi.

Susi juga mengungkapkan PT Indosat Tbk (ISAT) memiliki eksposur langsung terhadap pertumbuhan infrastruktur AI. AI Factory yang akan dibangun di Batang, Jawa Tengah, membutuhkan konektivitas berkapasitas tinggi dan latency rendah.

Indosat juga memperkuat infrastruktur fiber melalui FiberCo yang disebut perusahaan sebagai backbone penting untuk konektivitas skala besar.

Pandangan tersebut sejalan dengan Nafan yang melihat DCII dan EDGE sebagai emiten yang paling langsung menangkap pertumbuhan bisnis data center.

Emiten Listrik Berpeluang Raup Cuan dari Tren AI

Setelah data center berdiri, tantangan berikutnya adalah pasokan energi. Susi mengungkapkan pusat data AI membutuhkan listrik besar, stabil, dan tersedia selama 24 jam setiap hari.

Sejumlah emiten yang dipetakan Susi berpotensi mendapatkan manfaat dari kebutuhan tersebut, antara lain PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS), PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR), PT Barito Pacific Tbk (BREN), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan DSSA dengan karakter eksposur yang berbeda-beda.

PGAS memiliki eksposur pada gas sebagai sumber energi dan POWR pada pembangkitan listrik. Sementara BREN dan PGEO memiliki eksposur pada energi terbarukan dan panas bumi. DSSA memiliki eksposur pada energi sekaligus data center.

Elandry juga melihat POWR, BREN, PGEO dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) berpotensi mendapatkan manfaat dari meningkatnya kebutuhan listrik data center, terutama jika permintaan terhadap energi terbarukan ikut meningkat.

Nafan menempatkan POWR, PGEO dan BREN sebagai emiten yang berpotensi mendapatkan second-order benefit dari meningkatnya kebutuhan listrik akibat pembangunan data center.

Potensi Emiten Fiber dan Menara diTengah Tren AI

Data center juga tidak dapat berdiri sendiri. Kapasitas komputasi yang tersedia harus terhubung dengan pengguna dan pusat data lainnya melalui jaringan komunikasi berkapasitas tinggi.

Susi menempatkan PT Telkom Indonesia (Persero), ISAT, PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) sebagai emiten yang berkaitan dengan kebutuhan fiber optik dan konektivitas.

Elandry menilai TLKM, ISAT, TOWR, MTEL, MORA, KETR dan INET dapat memperoleh manfaat lanjutan karena pertumbuhan AI akan meningkatkan kebutuhan bandwidth dan lalu lintas data.

Setelah data center, listrik dan konektivitas tersedia, lapisan bisnis berikutnya adalah cloud dan layanan AI.

Susi menempatkan TLKM sebagai salah satu emiten yang memiliki eksposur di sejumlah lapisan sekaligus, yakni connectivity, fiber, data center, cloud dan enterprise digital. Selain itu, PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) dinilai menarik dari sisi solusi IT dan ekosistem pusat data.

Efek Domino Tren AI ke Tembaga dan Nikel

Efek domino AI bahkan dapat menjalar lebih jauh ke sektor bahan baku. Susi mencatat kebutuhan AI tidak hanya berkaitan dengan GPU dan prosesor, tetapi juga memory, networking chip, power semiconductor dan storage.

Indonesia memang belum memiliki banyak emiten yang menjadi pure-play semiconductor manufacturer. Namun, terdapat perusahaan yang menyediakan bahan dan material yang dibutuhkan industri elektronik dan semikonduktor.

Salah satunya adalah tembaga. Material ini digunakan untuk kabel listrik, infrastruktur kelistrikan, transformer, busbar, PCB hingga sistem kelistrikan data center.

Dalam pemetaan Susi, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) masuk dalam kelompok emiten yang memiliki eksposur terhadap tembaga.

Sementara aluminium dapat digunakan untuk kabel, infrastruktur listrik, heat management dan konstruksi data center. Susi memasukkan PT Indal Aluminium Industry Tbk (INAI) dan PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI) dalam kelompok tersebut.

Untuk nikel, peluangnya lebih terkait dengan battery, energy storage, backup power dan energi terbarukan, bukan sebagai komponen utama GPU. Emiten yang disebut antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT PAM Mineral Tbk (NICL).

Riset Maybank Sekuritas yang sebelumnya dipublikasikan juga memetakan TINS dan AMMN sebagai emiten yang berpotensi mendapatkan manfaat dari kebutuhan semikonduktor dan bahan baku dalam ekosistem AI.

Kawasan Industri Ikut Kecipratan Cuan Tren AI

Satu lagi sektor yang berpotensi menikmati efek domino adalah kawasan industri. Pembangunan pusat data membutuhkan lahan dengan akses listrik, jaringan telekomunikasi dan infrastruktur pendukung yang memadai.

Susi memasukkan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk sebagai emiten kawasan industri yang berpotensi mendapatkan manfaat.

Elandry juga melihat pembangunan data center dapat menciptakan multiplier effect terhadap konstruksi dan kawasan industri. Ia menyebut TOTL, DMAS, BEST dan KIJA sebagai sejumlah nama yang berpotensi memperoleh manfaat.

Dengan demikian, peluang dari booming AI di pasar modal Indonesia tidak berhenti pada perusahaan teknologi atau pengembang aplikasi AI. Pertumbuhan kebutuhan komputasi dapat menciptakan rantai permintaan yang lebih luas, mulai dari data center, listrik, jaringan, pendinginan hingga konstruksi dan kawasan industri.

Bagi investor, tren tersebut membuat AI dapat dilihat bukan hanya sebagai tema teknologi, melainkan sebagai siklus belanja modal infrastruktur digital yang berpotensi memberikan manfaat kepada berbagai sektor di sepanjang rantai ekosistemnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...