Flood Eye, Riset AI untuk Perkuat Mitigasi Banjir Semarang
Banjir di Kota Semarang dapat datang dengan cepat, terutama akibat aliran air dari wilayah selatan. Kondisi ini membuat kemampuan memprediksi banjir sebelum kejadian menjadi krusial. Kebutuhan tersebut dijawab melalui riset Flood Eye yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) dan berbagai sensor untuk memprediksi potensi banjir.
Studi tersebut merupakan hasil kerjasama antara Telkom University dan University of Wollongong, Australia, yang didukung oleh KONEKSI.
Peneliti senior dari Telkom University, Miftadi Sudjai, mengatakan data yang dihasilkan diharapkan dapat membantu pemerintah mengambil keputusan mitigasi secara lebih cepat dan tepat.
Hal ini disampaikan dalam sesi “Dari Data ke Aksi: Inovasi untuk Kota Tangguh Banjir”, bagian dari seminar Inovasi dan Kepemimpinan untuk Kota Tangguh Iklim dalam rangkaian Road to Katadata SAFE 2026, di Semarang, Senin (31/8/2026).
Menurut Miftadi, Flood Eye berbeda dari sistem early warning system (EWS) yang umumnya mendeteksi banjir ketika kejadian sudah berlangsung. Flood Eye dikembangkan sebagai sistem prediksi yang dapat memperkirakan potensi banjir sebelum air datang.
“Jadi di Flood Eye kita tidak sekadar membangun sistem early warning, tapi juga prediction system,” ulas Miftadi.
Sistem ini, imbuhnya, memanfaatkan AI untuk memprediksi banjir beberapa jam sebelum kejadian. Namun, karakter geografis Semarang menjadi tantangan karena wilayah selatan memiliki topografi yang curam sehingga air dapat bergerak cepat menuju kawasan yang lebih rendah.
Miftadi mengatakan, berdasarkan diskusi dengan BPBD Kota Semarang, air banjir kiriman dari wilayah selatan dalam kondisi tertentu dapat mengalir ke kawasan bawah hanya dalam sekitar 35 menit.
“Awalnya kami berharap 2-3 jam sebelum kejadian banjir, sistem sudah bisa mendeteksi dan menggerakkan,” jelasnya.
Kendati waktu prediksi ideal belum selalu tercapai, informasi lebih awal tetap memberi ruang bagi pemerintah untuk menyiapkan mitigasi. Masyarakat juga dapat menyelamatkan barang yang dinilai penting dan menuju titik evakuasi sebelum banjir datang.
“Waktu itu adalah huge time, waktu yang luar biasa penting untuk instansi bersiap-siap dalam melakukan mitigasi,” bahasnya.
Mengolah Banyak Data
Flood Eye mengumpulkan data dari berbagai sensor yang dipasang di sepanjang sungai dan anak sungai. Sensor radar digunakan untuk mengukur tinggi muka air, rain gauge, mencatat curah hujan lokal, sedangkan kamera memantau kondisi sungai secara visual.
Data tersebut dipadukan dengan informasi kecepatan aliran dan debit air. Seluruh variabel kemudian diolah untuk memprediksi potensi luasan banjir dan ketinggian air di sekitar sungai.
Miftadi menilai data lokal diperlukan karena curah hujan di Semarang dapat bersifat sangat lokal. Hujan di satu wilayah belum tentu menggambarkan kondisi kawasan lain yang hanya berjarak beberapa kilometer.
Dengan menggabungkan curah hujan, arus, debit, tinggi muka air secara real-time, dan visual kamera, AI digunakan untuk memperkirakan wilayah yang berpotensi terdampak.
Riset untuk Mendukung Keputusan
Pengembangan Flood Eye sejak awal melibatkan BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat agar hasil riset menjawab kebutuhan di lapangan.
“Karena riset ini bukan riset untuk memproduksi paper, tapi riset yang berdampak,” ungkap Miftadi.
Informasi Flood Eye tidak hanya disajikan melalui dashboard yang membutuhkan pemahaman data. Tim juga mengembangkan informasi berbasis teks yang lebih sederhana, seperti wilayah terdampak, ketinggian air, luasan banjir, dan rekomendasi tindakan.
Namun, informasi yang akan disampaikan kepada masyarakat tetap membutuhkan verifikasi pemerintah daerah. Informasi yang diteruskan (broadcast) ke masyarakat tentu harus melalui panel expert, yang tidak bisa otomatis oleh mesin.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Semarang, Riyanto, mengatakan hasil riset perlu diikuti peningkatan kapasitas masyarakat agar teknologi dapat digunakan secara efektif.
“Artinya hasil riset ini, tidak berhenti di alatnya saja, tapi juga tetap melibatkan elemen masyarakat itu sebagai penggunaan yang nantinya juga memberikan informasi kepada masyarakat,” ujar Riyanto.
Sementara itu, Kepala Diskominfo Kota Semarang Didik Dwi Hartono menilai tantangan pemerintah bukan sekadar menghadirkan teknologi, tetapi memastikan informasi dapat dipahami, diverifikasi, dan diterjemahkan menjadi tindakan.
“Yang lebih penting menurut saya, bagaimana sumber informasi itu bisa dipahami, kemudian bisa segera diverifikasi dan ada keputusan dan diterjemahkan dalam tindakan lapangan,” kata Didik.
Menurut dia, ketangguhan kota tidak diukur dari jumlah aplikasi yang dimiliki, tetapi dari kecepatan informasi menghasilkan keputusan.
“Kita enggak lomba-lomba bikin aplikasi, kita lomba untuk bisa menghasilkan decision yang paling cepat,” ujarnya.
Flood Eye ditargetkan mulai live pada akhir Oktober 2026. Setelah itu, tim peneliti akan melakukan alih teknologi kepada Pemerintah Kota Semarang, termasuk pelatihan, penguasaan teknologi, operasional, dan pemeliharaan sistem.
Dengan pendekatan tersebut, riset kebencanaan diharapkan tidak berhenti sebagai data atau teknologi, tetapi menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan langkah mitigasi banjir secara lebih cepat dan tepat.
