Apa Itu HAARP yang Dikaitkan dengan Erupsi Gunung? Ini Penjelasannya

Rahayu Subekti
9 September 2026, 16:48
apa itu haarp?, erupsi gunung, erupsi anak krakatau,
ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/wsj.
Asap vulkanis keluar dari kawah Gunung Semeru terlihat dari Desa Ranupani, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (9/9/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Istilah HAARP atau High-frequency Active Auroral Research Program belakangan viral di tengah erupsi beberapa gunung api di Indonesia. Fasilitas penelitian milik University of Alaska Fairbanks (UAF) ini disebut-sebut dapat memicu aktivitas vulkanik.

Namun, tudingan bahwa erupsi sejumlah gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata merupakan klaim yang tidak memiliki dasar dalam ilmu kebumian, menurut mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG sekaligus anggota IABI, Daryono Perwira Sakti.

Ia mengatakan, erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi dalam skala sangat besar yang tidak dapat disimulasikan, dibangkitkan, maupun dikendalikan oleh teknologi buatan manusia.

"Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian," kata Daryono dikutip dari cuitan di X.com, Selasa (8/9).

Menurut dia, energi yang memicu erupsi berasal dari dinamika mantel bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan.

Erupsi terjadi ketika magma naik akibat gaya apung karena densitasnya lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya, disertai penumpukan tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

Daryono menjelaskan tekanan di kantong magma dapat mencapai ratusan MegaPascal. Karena itu, tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja.

Lantas, apa sebenarnya HAARP dan apakah teknologi ini bisa memicu gunung api?

Apa Itu HAARP?

Mengutip penjelasan resmi HAARP yang dikelola University of Alaska Fairbanks (UAF) dalam situs resminya, HAARP merupakan fasilitas penelitian yang digunakan untuk mempelajari ionosfer, yakni bagian atmosfer atas bumi yang berada mulai sekitar 50 hingga 400 mil di atas permukaan.

"Ionosfer membentuk batas antara atmosfer bagian bawah bumi, tempat kita hidup dan bernapas dan ruang hampa angkasa," demikian tertulis dalam situs resmi UAF.

Fasilitas ini merupakan pemancar radio frekuensi tinggi berdaya besar yang digunakan untuk mempelajari proses fisika di bagian atas atmosfer, terutama ionosfer dan termosfer.

Instrumen utamanya disebut Ionospheric Research Instrument (IRI). Sistem ini terdiri dari 180 antena crossed-dipole frekuensi tinggi yang tersebar di area sekitar 33 acre. Antena tersebut dapat memancarkan daya hingga 3,6 megawatt ke atmosfer atas dan ionosfer.

Dengan sistem phased array, gelombang radio yang dipancarkan HAARP dapat diarahkan dan dibentuk untuk melakukan eksperimen pada bagian tertentu dari ionosfer.

Namun, kemampuan tersebut berbeda dengan kemampuan untuk mengubah proses geologi di dalam bumi.

Daryono menegaskan, energi yang menggerakkan magma berasal dari proses yang berlangsung jauh di bawah permukaan bumi.

"Erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi berskala sangat masif yang mustahil disimulasi, dibangkitkan, atau dikendalikan oleh teknologi buatan manusia mana pun," ujarnya.

Bagaimana Cara Kerja HAARP?

Secara sederhana, HAARP bekerja dengan mengirimkan gelombang radio frekuensi tinggi ke ionosfer yang mengandung elektron dan ion bebas yang terbentuk akibat interaksi radiasi matahari dengan atmosfer.

Ketika gelombang radio HAARP diarahkan ke wilayah tersebut, energi radio dapat memanaskan elektron dan menghasilkan gangguan kecil atau perturbation yang dapat diamati oleh peneliti.

Tujuannya bukan untuk menciptakan fenomena tersebut dari nol, melainkan membuat gangguan yang terkontrol sehingga ilmuwan dapat mempelajari bagaimana ionosfer merespons energi elektromagnetik.

Eksperimen HAARP juga dapat menghasilkan fenomena airglow buatan. UAF menjelaskan bahwa gelombang radio frekuensi tinggi dapat mengeksitasi elektron di ionosfer sehingga menghasilkan cahaya redup yang menyerupai proses pembentukan aurora secara alami.

Dengan begitu, HAARP memiliki kemampuan memberikan pengaruh terhadap bagian tertentu dari ionosfer. Namun, kemampuan tersebut memiliki batas yang sangat spesifik. Hal ini menjadi penting ketika dikaitkan dengan klaim bahwa HAARP dapat memicu erupsi gunung api.

Daryono mengatakan lapisan batuan padat setebal puluhan kilometer tidak menyediakan mekanisme bagi sinyal buatan manusia untuk menggerakkan magma di kedalaman. Menurutnya, proses erupsi berkaitan dengan akumulasi massa dan energi di dalam kerak bumi yang berlangsung dalam waktu panjang.

HAARP Ada di Mana?

Mengutip situs Geophysical Institute UAF, fasilitas HAARP berada di dekat Gakona, Alaska, Amerika Serikat.

Fasilitas tersebut awalnya dikembangkan dan dimiliki Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Setelah program tersebut tidak lagi dioperasikan oleh militer, pengelolaan fasilitas kemudian dialihkan kepada University of Alaska Fairbanks pada Agustus 2015.

UAF kini mengoperasikan HAARP sebagai fasilitas penelitian untuk mempelajari ionosfer dan berbagai fenomena yang berkaitan dengan atmosfer atas.

Dengan demikian, HAARP bukan fasilitas rahasia yang keberadaannya tidak diketahui publik. Lokasi, fungsi, instrumen dan kegiatan penelitiannya dijelaskan secara terbuka oleh University of Alaska Fairbanks.

Apakah HAARP Bisa Mengendalikan Cuaca?

Klaim bahwa HAARP dapat mengendalikan cuaca merupakan salah satu teori yang paling sering dikaitkan dengan fasilitas tersebut.

Namun, penjelasan ilmiah dari HAARP sendiri menyatakan bahwa teknologi tersebut tidak dapat mengendalikan cuaca.

Alasannya berkaitan dengan lokasi interaksi gelombang radio HAARP. Cuaca yang kita alami di permukaan Bumi terutama berlangsung di troposfer, sedangkan HAARP dirancang untuk melakukan eksperimen terhadap ionosfer yang berada jauh lebih tinggi.

"Karena tidak ada interaksi tersebut, HAARP menyatakan tidak ada mekanisme bagi sistemnya untuk mengendalikan cuaca," demikian tertulis dalam bagian FAQ resmi HAARP.

HAARP menjelaskan bahwa gelombang radio pada frekuensi yang digunakannya tidak diserap oleh troposfer maupun stratosfer. Karena itu, fasilitas tersebut tidak memiliki mekanisme untuk mengendalikan cuaca.

Penjelasan tersebut juga sejalan dengan NOAA. Dalam artikel pemeriksaan fakta mengenai klaim modifikasi cuaca, NOAA menyatakan bahwa HAARP tidak dapat memodifikasi cuaca.

Mengapa Erupsi Gunung Api Bisa Terjadi Beruntun?

Menurut Daryono, kondisi geografis Indonesia menjadi salah satu penjelasan mengapa aktivitas vulkanik di Indonesia dapat terjadi secara intensif dan beruntun.

Indonesia berada di jalur Cincin Api atau Ring of Fire dan merupakan tempat bertemunya beberapa lempeng tektonik utama dunia, seperti Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina.

Penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng benua membawa air dan sedimen basah ke kedalaman mantel. Proses tersebut memicu pelelehan batuan mantel dan menghasilkan suplai magma secara terus-menerus selama jutaan tahun.

Ketika aktivitas tektonik regional meningkat atau terjadi penyesuaian tegangan di kerak bumi setelah gempa besar, beberapa gunung api yang kantong magmanya sudah berada dalam kondisi kritis dapat terpicu secara hampir bersamaan.

Daryono menyebut fenomena tersebut sebagai respons berantai tektonik, bukan akibat intervensi lokal oleh pihak tertentu.

"Fenomena ini merupakan rekayasa alamiah berupa respons berantai tektonik, bukan akibat intervensi lokal oleh pihak tertentu," ujarnya.

Daryono juga menjelaskan bahwa erupsi gunung api tidak terjadi begitu saja tanpa proses yang mendahuluinya.

Menurut dia, terdapat sinyal prekursor geofisika sebelum erupsi, antara lain berupa seismisitas yang terdiri dari gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tremor akibat rekahan batuan saat magma bergerak naik.

Selain itu, instrumen geodesi seperti GPS dan sensor tiltmeter dapat mencatat deformasi atau pembengkakan tubuh gunung api sebelum letusan, disertai perubahan rasio konsentrasi gas kimia dan peningkatan suhu.

Proses tersebut membutuhkan waktu. "Proses geologi yang cukup lama, tidak seperti membalik tangan," kata Daryono.

Ia mengatakan seluruh akumulasi massa dan energi tersebut membutuhkan waktu bulanan hingga tahunan di dalam kerak bumi dan dapat terekam oleh instrumen geofisika.

Mengapa HAARP Tidak Bisa Memicu Erupsi?

Daryono menilai perbedaan antara proses yang dipelajari HAARP dan proses yang menyebabkan erupsi gunung api menjadi kunci untuk melihat klaim tersebut.

HAARP bekerja pada ionosfer melalui gelombang radio frekuensi tinggi. Sementara itu, erupsi gunung api berkaitan dengan dinamika magma, tekanan gas, batuan dan proses tektonik di bawah permukaan.

"Lapisan batuan padat setebal puluhan kilometer bersifat meredam gelombang elektromagnetik pada jarak yang sangat pendek, sehingga sinyal buatan manusia tidak memiliki mekanisme interaksi fisik untuk menggerakkan magma di kedalaman," ujar Daryono.

Ia juga mengatakan manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma dengan suhu hingga 1.200 derajat Celsius.

Dengan demikian, klaim yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi, menurut Daryono, mengabaikan mekanisme dasar dalam ilmu kebumian.

Erupsi Gunung Api Bukan Rekayasa Teknologi

Erupsi gunung api merupakan fenomena geologi yang berkaitan dengan proses di dalam dan sekitar sistem gunung api, termasuk pergerakan magma, gas, fluida, tekanan dan perubahan struktur bawah permukaan.

Dalam konteks tersebut, tidak terdapat dasar dalam bahan yang digunakan dalam artikel ini untuk menyatakan bahwa eksperimen HAARP terhadap ionosfer dapat memicu erupsi gunung api.

Daryono menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Indonesia merupakan konsekuensi dari dinamika geologi bumi yang terus bergerak.

"Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak," ujarnya. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...