Dari Cip hingga Data Center, Ini Modal Asia untuk Memimpin AI
CEO DBS Tan Su Shan menilai Asia memiliki modal kuat untuk memimpin pertumbuhan akal imitasi (AI). Modal ini mencakup rantai pasok teknologi, sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi, pasar modal, serta penciptaan kekayaan.
Menurut Su Shan, Asia memiliki ekosistem teknologi yang luas, mulai dari cip, memori, konektor, pusat dataatau data center, perangkat lunak (software), bioteknologi, hingga energi. Kawasan ini juga memiliki populasi muda yang besar dan pasar modal yang terus berkembang.
“Asia memiliki faktor-faktor struktural yang mendukung pertumbuhan. Kisah pertumbuhan Asia merupakan salah satu yang paling menarik di dunia,” ujar Su Shan dalam acara DBS Asia Future Forward Conference di Singapura, Senin (12/10).
Ia mengatakan, negara-negara di Asia memiliki keunggulan yang saling melengkapi dalam membangun ekosistem teknologi. Taiwan memiliki industri cip, Cina mengembangkan semikonduktor dan robotika, Jepang unggul dalam rekayasa presisi, sedangkan Korea Selatan memiliki industri memori dan AI.
Di Asia Tenggara, negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Malaysia memiliki komoditas, industri manufaktur, serta sektor semikonduktor. Sementara itu, Hong Kong dan Singapura berperan sebagai pusat keuangan di kawasan.
Su Shan juga menyoroti peran India yang memiliki populasi besar, industri layanan teknologi informasi, manufaktur maju, dan farmasi.
Menurut dia, berbagai keunggulan tersebut membuat negara-negara Asia berpotensi saling melengkapi dalam rantai pasok teknologi. Namun, pengembangan AI tetap membutuhkan kerja sama antarnegara, meskipun masing-masing negara ingin membangun kedaulatan teknologi sendiri.
Ia mencontohkan, pengembangan AI membutuhkan teknologi dari berbagai negara, termasuk teknologi litografi dari Belanda, fasilitas manufaktur semikonduktor Taiwan, komponen baterai Korea Selatan, serta material dari negara-negara ASEAN dan Cina.
Oleh karena itu, Su Shan menilai kerja sama perdagangan tetap diperlukan untuk menghindari hambatan dalam rantai pasok AI.
Peluang Indonesia Jadi Hub AI Asia Tenggara
Pemerintah Indonesia beberapa kali menyampaikan target untuk menjadi hub AI di Asia Tenggara. Merespons hal ini, Su Shan menyoroti sumber daya alam, potensi energi terbarukan, serta populasi muda yang melek digital.
“Saya pikir Indonesia juga diberkati dengan banyak sumber daya alam, sehingga memiliki akses yang cukup ke energi terbarukan, apakah itu tenaga surya atau air. Anda juga memiliki akses ke energi termal,” ujar Su Shan dalam acara yang berbeda, Minggu (11/10).
Dalam paparan di acara DBS Asia Future Forward Conference pada Senin (12/10), Su Shan juga menyebut Indonesia sebagai produsen panas bumi terbesar kedua di dunia.
Ia juga menyoroti besarnya populasi muda Indonesia yang memiliki kemampuan digital. Selain itu, Su Shan menyebut keberadaan universitas di Indonesia, termasuk perguruan tinggi di Bandung.
Namun, Su Shan tidak memerinci lebih jauh mengenai penilaian atau rekomendasi spesifiknya terhadap pengembangan Indonesia sebagai pusat AI di kawasan.
"Yang diperlukan (Indonesia) dalah pendidikan untuk masyarakat, dan cara untuk menjaga data yang aman. Pendidikan mengenai cybersecurity, bagaimana menyimpan data, bagaimana menggunakan data dengan aman, dan juga menjadi bagian dari ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) pada 6 November," katanya.
Su Shan juga menekankan bahwa pengembangan AI tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga konektivitas, infrastruktur, inovasi, dan tata kelola yang baik.
Ia mencontohkan kebutuhan membangun jaringan listrik ASEAN atau ASEAN Power Grid untuk menghubungkan pasokan energi antarnegara. Menurut dia, sumber energi terbarukan tersedia dalam jumlah besar, tetapi persoalan infrastruktur dan konektivitas membuat energi tersebut belum selalu terhubung dengan lokasi yang membutuhkan.
Bos DBS itu juga mengingatkan bahwa kedaulatan AI tidak berarti setiap negara dapat sepenuhnya mengembangkan teknologi secara mandiri tanpa bergantung pada negara lain.
Menurut dia, rantai pasok AI melibatkan berbagai negara dengan keunggulan teknologi masing-masing. Tanpa kerja sama, hambatan pasokan dapat terus terjadi.
Selain konektivitas perdagangan dan energi, ia mendorong negara-negara ASEAN memperkuat konektivitas digital serta berbagi data secara bijaksana. Ia menyinggung DEFA sebagai salah satu inisiatif yang diharapkan dapat memperkuat integrasi ekonomi digital kawasan.
"Kami berharap negara-negara akan menandatangani DFA agar lebih terhubung secara digital dan berbagi data secara bijak. Tentu saja, ini mencakup tata kelola dan etika AI. Saat negara-negara bersatu, inilah saatnya bagi kita untuk bekerja sama dengan lebih baik guna memastikan AI dimanfaatkan dengan cara tepat," ujar dia.
Di sisi lain, Su Shan menekankan bahwa penerapan AI juga harus menghasilkan manfaat nyata bagi bisnis dan masyarakat.
Ia mengingatkan perusahaan agar tidak sekadar menambahkan AI ke dalam proses kerja tanpa mengubah alur dan proses operasional.
