Indonesia Tak Bisa Hanya Andalkan Kekayaan Alam untuk Bangun Industri Cip AI

Desy Setyowati
16 Oktober 2026, 17:23
cip, komdigi, ai,
Vecteezy.com/Kyril Balbatunou
cip
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) beberapa kali menyampaikan bahwa hilirisasi mineral kritis, seperti nikel dan pasir silika dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri akal imitasi (AI), khususnya di sektor semikonduktor. Namun, langkah ini dinilai tidak mudah.

Group Head of Telecommunications, Media and Technology Institutional Banking Group DBS Amit Sinha menanggapi pertanyaan mengenai peluang Indonesia memanfaatkan kekayaan mineral, khususnya silika, untuk masuk ke industri cip. Menurut dia, tidak semua mineral yang dimiliki Indonesia dapat digunakan secara langsung untuk kebutuhan AI. Ia menegaskan bahwa tidak ada korelasi langsung antara kekayaan mineral suatu negara dan kemampuannya membangun industri AI.

Terkait silika, Amit menjelaskan bahwa silikon hanya merupakan salah satu komponen dalam rantai produksi semikonduktor. Industri ini juga membutuhkan wafer yang diproses melalui tahapan manufaktur. Wafer yang dimaksud yaknilempengan tipis berbentuk cakram yang terbuat dari bahan semikonduktor, seperti silikon murni, yang berfungsi sebagai substrat atau fondasi utama tempat sirkuit terpadu (IC/cip) diukir.

“Komponen yang lebih besar yang dibutuhkan adalah wafer. Indonesia tidak memiliki pabrik wafer,” kata Amit dalam acara media briefing di Singapura, beberapa waktu lalu (13/10).

Group Head of Telecommunications, Media and Technology Institutional Banking Group DBS Amit Sinha

Group Head of Telecommunications, Media and Technology Institutional Banking Group DBS Amit Sinha (DBS)

Ia menjelaskan, bahan silikon perlu diproses terlebih dahulu hingga menjadi wafer. Oleh karena itu, keinginan membangun industri semikonduktor tidak cukup hanya bertumpu pada ketersediaan bahan baku mineral. "Jadi, Indonesia harus memperoleh silika, memprosesnya, dan kemudian membangun fasilitas produksi wafer," ia menambahkan.

Amit juga mengingatkan bahwa kondisi pasar perlu menjadi pertimbangan sebelum suatu negara berinvestasi dalam industri wafer. Menurut dia, saat ini terdapat sedikit kelebihan pasokan wafer secara global sehingga investasi baru di sektor tersebut belum tentu menjadi pilihan yang paling menarik.

Belajar dari India, Butuh Modal Besar

Amit mengatakan, pembangunan industri semikonduktor memerlukan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang besar dan kemampuan manufaktur yang kuat. Ia mencontohkan sejumlah negara yang telah membangun industri semikonduktor dalam skala besar, seperti Singapura, Taiwan, Cina, Korea Selatan, dan Jepang.

Menurut paparan Amit, Singapura memiliki sekitar 10% dari produksi semikonduktor global dan 20% dari manufaktur silikon global. Ia juga menyebut Singapura telah mengembangkan industri semikonduktor selama sekitar 20 tahun. Di luar negara-negara ini, Amit menilai belum banyak negara yang membangun industri semikonduktor dalam skala besar.

Ia juga menyebut India yang mulai mengembangkan industri semikonduktor sekitar empat hingga lima tahun lalu.  Karena kebutuhan modal yang tinggi, ia mengatakan pembangunan industri ini di India melibatkan perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kemampuan manufaktur dan dukungan modal.

“Saya pikir apa yang telah mereka lakukan cukup fenomenal,” kata Amit.

Menurut Amit, India mulai membangun fasilitas fabrikasi cip atau fabrication plant (fab), mengembangkan fasilitas pengujian dan perakitan cip, serta memperluas kemampuan manufaktur untuk mendukung rantai pasok perangkat Apple dan server AI.

Ia menyebut Tata Electronics sebagai salah satu pemain besar dalam industri semikonduktor India. Selain itu, Micron mengembangkan bisnis pengolahan memori pada tahap belakang proses produksi atau backend.

India juga memiliki perusahaan yang bergerak dalam perakitan iPhone dan pembuatan casing. Menurut Amit, sejumlah perusahaan manufaktur dengan kapitalisasi pasar sekitar US$5 miliar hingga US$10 miliar turut agresif mengembangkan kemampuan produksi untuk mendukung ekosistem Apple dan server AI.

“Kami sudah memiliki dua perusahaan di India yang melakukan perakitan server AI. Pertanyaannya sekarang, bagaimana membangun seluruh ekosistemnya?” ujar Amit.

Ia menilai pembangunan ekosistem tersebut membutuhkan waktu. Namun, perhatian pemerintah dan perusahaan terhadap industri ini menjadi salah satu faktor yang mendukung pengembangannya.

Industri Cip Punya Pasar Beragam

Amit membagi industri semikonduktor ke dalam dua kelompok berdasarkan rantai pasok yang dilayani, yakni ekosistem Apple dan ekosistem layanan AI.

Ia menjelaskan bahwa India saat ini membangun fasilitas fabrikasi untuk cip kategori legacy atau cip yang menggunakan teknologi manufaktur generasi sebelumnya. Menurut dia, langkah tersebut tetap relevan karena sekitar 60–70% permintaan akhir industri fabrikasi cip berasal dari kategori legacy.

Cip jenis ini digunakan dalam berbagai aplikasi, seperti kendaraan listrik (EV), kebutuhan industri, dan radar.

Sementara itu, cip dengan teknologi fabrikasi yang lebih maju atau advanced node digunakan untuk kebutuhan tertentu, termasuk unit pemrosesan grafis (GPU). Cip tersebut juga digunakan dalam ponsel.

Dengan demikian, pengembangan industri semikonduktor tidak hanya berkaitan dengan cip paling canggih untuk AI. Menurut Amit, pasar juga mencakup kebutuhan cip untuk berbagai aplikasi industri lainnya.

Ia menilai pengembangan industri semikonduktor India masih akan berlanjut seiring perusahaan-perusahaan di negara tersebut memperluas kemampuan manufakturnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menyebut Indonesia memiliki peluang besar masuk ke rantai industri AI dunia. Hal ini karena mempunyai cadangan mineral penting untuk industri semikonduktor dan chip. “Pemerintah sudah bekerja sama dengan sejumlah industri semikonduktor di Eropa, Jepang, termasuk Arm di Inggris. Dalam kunjungan Presiden ke berbagai negara, isu semikonduktor juga menjadi pembahasan strategis,” kata Nezar dalam pernyataan tertulis, pada Mei (19/5).

Ia mengatakan, Indonesia selama ini belum berada dalam rantai pasok utama industri AI global. Oleh karena itu, pemerintah mengambil langkah cepat dan strategis untuk membangun ekosistem industri AI nasional sekaligus memperkuat talenta digital.

Menurut Nezar, pengembangan industri AI sangat berkaitan erat dengan industri semikonduktor sebagai fondasi utama teknologi komputasi modern. Ini termasuk pengembangan GPU dan pusat data AI. Ia mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk masuk lebih jauh ke industri AI global. Hal ini didukung kekayaan sumber daya alam strategis seperti nikel, cobalt, timah, pasir silika hingga zinc yang dibutuhkan dalam industri chip dan semikonduktor.

“Sayangnya sebagian besar masih dijual sebagai bahan mentah. Karena itu hilirisasi menjadi sangat penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi,” ujarnya.

Dengan demikian, kekayaan mineral belum otomatis menempatkan Indonesia dalam rantai pasok industri cip AI global. Pernyataan Amit menunjukkan bahwa pengembangan industri semikonduktor juga membutuhkan fasilitas manufaktur, investasi besar, serta kemampuan membangun ekosistem produksi. Pengalaman India memperlihatkan bahwa pengembangan ini dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari fabrikasi cip hingga pengujian, perakitan, dan produksi server AI.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...