Bos ITSEC Wanti-wanti Serangan Siber Makin Cepat Berkat AI, 27% Terjadi di RI

Nur Hana Putri Nabila
20 Oktober 2026, 16:32
Artikel_Indonesia Rentan Serangan Siber, Perlindungan Data Pribadi Jadi Prioritas
Katadata
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perusahaan penyedia jasa dan konsultan keamanan siber (cybersecurity), kecerdasan buatan (AI), serta teknologi informasi, PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) mewanti-wanti ancaman siber tengah mengintai Indonesia. 

President Director and CEO PT ITSEC Asia Tbk (CYBR), Patrick Rudolf Dannacher, mengatakan Indonesia menghadapi tantangan besar dalam membangun keamanan digital karena wilayahnya terdiri dari ribuan pulau dan kondisi geopolitik yang kompleks. 

Ia pun menyoroti Indonesia perlu memastikan masyarakat merasa aman saat mengakses layanan, berbelanja, hingga bertransaksi secara daring seiring maraknya layanan digital.

Patrick mengatakan 27% serangan siber di seluruh dunia terjadi di kawasan Indonesia. Indonesia harus memperkuat pertahanan siber agar tidak menjadi sasaran empuk bagi para peretas. Tujuannya, membuat penyerang berpikir ulang sebelum melancarkan serangan ke Indonesia.

“Kami merupakan salah satu tim intelijen terbesar di Indonesia. Kami memantau apa yang terjadi di Indonesia selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu,” kata Patrick dalam Bali Tech Week 2026, Selasa (20/10). 

Patrick mengatakan informasi yang terpantau juga bisa diakses pihak lain, termasuk yang memiliki niat buruk. Ia mewanti-wanti perusahaan perlu mengantisipasi berbagai ancaman yang teridentifikasi, mengambil langkah pencegahan, dan menekan risiko serangan siber.

ITSEC pun telah memantau lebih dari 2.000 firewall yang terhubung, lebih dari 700 perusahaan test-cop, dan lebih dari 400 perusahaan jaringan yang terhubung dengan masyarakat.

Menurut Patrick, perusahaan telekomunikasi dan penyedia layanan internet (ISP) hanya menyediakan jalur koneksi, bukan melindungi sistem internal perusahaan. Setiap organisasi harus membangun perlindungan sendiri untuk mengamankan akses dan jaringan perusahaan.

ITSEC juga menemukan 328 masalah yang muncul ketika penyerang sudah masuk ke dalam sistem organisasi. Dalam kondisi itu, penyerang dapat mengumpulkan informasi, mempelajari cara kerja jaringan, mencari celah keamanan, dan mengidentifikasi data penting. Selain itu, ITSEC mencatat 192 masalah lain yang berpotensi menjadi ancaman siber.

“Ada satu hal yang perlu diingat: peringatan selalu datang sebelum bencana. Karena itu, anda harus memperhatikan tanda-tanda peringatan dan mengambil tindakan,” kata Patrick.

Ia mengatakan, serangan siber kerap bermula dari celah sederhana, seperti lemahnya kredensial dan akses jarak jauh. Setelah menembus sistem, kata Patrick, peretas mempelajari jaringan korban sebelum melancarkan serangan ransomware. Mereka bahkan bisa bersembunyi di dalam jaringan selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun sebelum terdeteksi.

Menurutnya, perusahaan perlu mengenali tanda-tanda awal serangan dan segera mengambil tindakan. Sebab, penggunaan kecerdasan buatan (AI) membuat peretas memangkas waktu serangan secara drastis. 

Apabail sebelumnya serangan bisa berlangsung hingga satu tahun, kini proses yang semula memakan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun dapat mereka selesaikan hanya dalam hitungan hari.

“Inilah yang benar-benar harus kita perhatikan. Para penyerang kini bergerak dengan cepat. Mereka menggunakan AI, sama seperti kita yang juga berusaha memanfaatkan teknologi tersebut,” ucapnya. 

Tak hanya itu, masalah terbesar atau perbedaan terbesarnya adalah ketika pihak-pihak yang berniat jahat mulai menggunakan AI, mereka tidak perlu melalui proses pengadaan atau pembelian terlebih dahulu. Mereka bisa langsung mulai menggunakannya.

Tak hanya itu, Patrick menilai penggunaan AI membuat penyerang bergerak lebih cepat dibandingkan perusahaan. Penyerang bisa langsung memanfaatkan teknologi tersebut tanpa melewati proses pengadaan dan evaluasi seperti yang harus dijalani organisasi besar saat menerapkan sistem baru.

Ia juga mengatakan perusahaan tidak bisa menunggu regulasi keamanan siber terbit untuk mulai memperkuat pertahanan. Ia menyebut Indonesia memang telah memiliki aturan perlindungan data pribadi dan menetapkan infrastruktur kritis yang perlu dilindungi. Namun, perusahaan tetap perlu bersiap menghadapi ancaman siber tanpa bergantung pada kecepatan penerbitan regulasi.

“Regulasi selalu membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan perkembangan yang terjadi di lapangan. Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan merupakan fenomena global yang tidak akan berubah,” ucap Patrick. 

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...