Hadiri MEF, Jokowi Sampaikan Komitmen Indonesia Hadapi Situasi Darurat

Presiden Jokowi memastikan komitmen Indonesia dalam menahan laju perubahan iklim melalui transformasi menuju energi baru dan terbarukan.
Dimas Jarot Bayu
18 September 2021, 08:11
Jokowi, perubahan iklim, energi baru, energi bersih
Youtube/Seretariat Presiden
Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya kemitraan global untuk mendorong transisi energi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, Indonesia berkomitmen untuk berkontribusi dalam menghadapi situasi darurat di sektor energi dalam menekan laju perubahan iklim. Hal tersebut Jokowi sampaikan ketika berpidato dalam pertemuan Major Economies Forum on Energy and Climate (MEF) 2021 yang digelar secara virtual, Jumat (17/9).

Konferensi tersebut merupakan inisiasi Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan diikuti 10 negara di dunia. Tujuannya menggalang kerja sama negara-negara utama untuk mewujudkan target dari pertemuan Conference of Parties (COP26) di Glasgow pada November mendatang.

Menurut Jokowi, salah satu komitmen Indonesia dalam menahan laju perubahan iklim dengan mencanangkan transformasi menuju energi baru dan terbarukan. Indonesia pun telah mengakselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau pada Agustus 2021.

“Kami telah menyusun strategi peralihan pembangkit listrik dari batu bara ke energi baru terbarukan, mempercepat pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan yang didukung pelaksanaan efisiensi energi, meningkatkan penggunaan biofuels, dan mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik,” ujar Jokowi.

Indonesia, lanjutnya, telah menargetkan netral karbon (Net Zero) pada 2060 dengan kawasan percontohan yang masih terus dikembangkan. Ini termasuk pula pembangunan Green Industrial Park di Kalimantan Utara seluas 20 ribu hektare yang digadang bakal menjadi terbesar di dunia.


Terkait transisi energi, Jokowi menyampaikan bahwa kemitraan global sangat diperlukan. Pasalnya, transisi energi bagi negara berkembang membutuhkan pembiayaan dan teknologi yang terjangkau.

Dia pun membuka peluang kerja sama dan investasi bagi pengembangan bahan bakar nabati, industri baterai litium, kendaraan listrik. “Serta teknologi carbon, capture, and storage, energi hidrogen, kawasan industri hijau, dan pasar karbon Indonesia,” katanya.

Kepala Negara pun menyampaikan dukungannya terhadap Global Methane Pledge atau ikrar aksi bersama yang bertujuan mengurangi 30% emisi metana global pada 2030. Menurutnya, Global Methane Pledge dapat menjadi momentum penguatan kemitraan dalam mendukung kapasitas negara berkembang.

“Pengurangan emisi metana telah masuk dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia,” tuturnya.

Reporter: Dimas Jarot Bayu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait