IFW 2019, Ini Contoh Desain Fesyen Terinspirasi Kultur Borneo

Sembilan contoh busana tak hanya menampilkan warna berbeda tetapi juga bahan dan potongan yang bervariasi.
Image title
24 Januari 2019, 13:28
Indonesia Fashion Week 2019
Dini Hariyanti | Katadata
Salah satu desain busana yang akan tampil dalam Indonesia Fashion Week 2019 bertema kultur borneo.

Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) membebaskan desainer menerjemahkan tema borneo ke dalam berbagai karya busana. Peragaan mini jelang Indonesia Fashion Week (IFW) 2019 menampilkan sembilan contoh rancangan terinspirasi budaya Kalimantan.

"Sebetulnya, tema borneo ini pilihan bebas desainer menerjemahkannya seperti apa," kata Desainer Nani Rahmat saat ditemui Katadata.co.id usai peragaan busana jelang IFW 2019, di Jakarta, Rabu (23/1).

Busana yang hadir dalam fashion show tersebut menunjukkan bahwa masing-masing mengusung karakter berbeda. Tidak hanya dari segi warna tetapi juga bahan dan potongan yang dibuat desainer terbilang variatif. (Baca juga: Kultur Borneo Jadi Inspirasi 200 Desainer Indonesia Fashion Week

Lima rancangan bermain dengan warna hitam secara dominan. Desainer memadukannya dengan aksen tertentu yang berwarna kontras, seperti emas dan putih. Tiga busana lain justru memilih emas sebagai warna dominan dipadukan dengan aksen berbahan kain etnik Kalimantan.

Advertisement

Terdapat satu contoh busana yang tampil penuh warna atau kerap disebut 'tabrak lari'. Karya Nani Rahmat ini mengkombinasikan hijau, merah, hitam, kuning, dan biru tak hanya pada pakaian tetapi juga untuk aksesoris yang melekat. "Saya memang suka sesuatu yang penuh warna," ujarnya.

(Baca juga: Potensial Jadi Kerajinan Unggulan Babel, Sebaran Tenun Cual Dipetakan

Nani berpendapat, para perancang mode dalam negeri selayaknya mengangkat kekayaan budaya di Tanah Air. Hal ini tidak hanya memperkuat ciri khas desain fesyen Indonesia tetapi juga mengembangkan pengusaha kreatif lain terutama perajin kain etnik di daerah.

Perancang fesyen diharapkan mengutamakan kain asli alias bukan hasil cetak instan. Selain itu, desainer juga perlu mengedukasi penenun agar berinovasi. Tidak hanya dari segi motif dan warna tetapi juga memperbarui benang yang digunakan.

"Tenun daerah masih banyak yang kaku. Kami (APPMI) coba sampaikan agar mereka perbarui benangnya agar hasil tenun lebih lemas sehingga kain-kain (etnik) ini bisa dipakai sehari-hari," ujar Nani. (Baca juga: Penenun Endek Bali Kekurangan Suplai Benang dari Daerahnya)

Kain asli atau nonprint diakui jauh lebih unggul khususnya dari segi estetika. Tapi, imbuhnya, harga jual produk fesyen yang menggunakan bahan ini otomatis lebih mahal. Alhasil, konsumennya relatif terbatas di kalangan menengah ke atas saja. (Baca juga: Tantangan Suplai Bahan Baku Bagi Pelaku Bisnis Fesyen)

Strategi yang bisa dilakukan pengusaha fesyen ialah mengkombinasikan kain asli dengan bahan lain sehingga harga jual lebih kompetitif. "Bagaimanapun konsumen menengah ke bahwa itu yang jadi potensi, jadi duit. Tapi, please, jangan total kain print," tutur Nani.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait