SDM Terkait Empat Subsektor Kreatif Ini Mulai Disertifikasi

Peningkatan kompetensi SDM kreatif melalui sertifikasi profesi baru menyentuh beberapa subsektor, seperti fesyen, kuliner, musik, dan animasi.
Image title
27 Desember 2018, 17:29
Kopi
Shopee
Proses cupping saat coffee workshop bersama Anomali Coffee dan Shopee, Jumat (27/7).

Pemerintah mengharuskan pelaku ekonomi kreatif memenuhi standar keterampilan sesuai karakter bisnis yang digeluti. Upaya peningkatan kompetensi ini baru menyentuh beberapa subsektor, seperti fesyen, kuliner, musik, dan animasi.

Sertifikasi di bidang fesyen ditujukan kepada sumber daya manusia (SDM) terkait batik. Di subsektor kuliner mulai menjangkau barista kopi. Industri musik fokus kepada musisi, sedangkan animasi membidik para animator digital.

Deputi Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo menyatakan, setidaknya terdapat 1.000 barista bersertifikat. "Sertifikasi barista sejalan Bekraf dorong pertumbuhan industri hilir kopi, ada kebutuhan SDM terampil di situ," katanya kepada Katadata.co.id, di Jakarta, belum lama ini.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Kopi Indonesia menyelenggarakan sertifikasi profesi barista. Ratusan peserta menjalani uji kompetensi yang dinilai tim asesor dan penguji dari LSP Kopi Indonesia.

Advertisement

(Baca juga: Enam Cara Seduh Kopi Khas Orang Indonesia

Pendiri Jaringan Warkop Nusantara Ulil Indraswara menyambut baik upaya peningkatan kompetensi SDM terkait bisnis perkopian. Menurutnya, sertifikasi profesi perlu diberlakukan menyeluruh dari hulu sampai ke hilir.

"Bagaimana agar pengusaha yang skala mikro juga disertifikasi, tidak hanya mereka yang sudah mapan. Sertifikasi profesi juga terutama di hulu (petani kopi)," tutur Ulil kepada Katadata.co.id secara terpisah.

Sementara itu, terkait subsektor musik, pemerintah menggandeng sejumlah pihak salah satunya Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik RI (PAPPRI). Sekjen PAPPRI Johnny Maukar menyatakan, musisi bisa membuktikan kemampuan tanpa harus audisi jika memiliki sertifikasi profesi.

“Bukti kemampuan itu harus yang diakui oleh satu lembaga yang ditunjuk negara. Sehingga lembaga yang ditunjuk itu melakukan uji kompetensi berdasarkan standar,” kata dia, mengutip keterangan resmi Bekraf. (Baca juga: Basis Data Tertata, Pendapatan Industri Musik Capai Rp 10 Triliun)

Berdasarkan data Bekraf tercatat sekitar 1.644 pelaku ekonomi kreatif mengikuti program fasilitasi sertifikasi profesi per Mei tahun ini. Peningkatan kompetensi SDM sejalan dengan arah pengembangan bisnis kreatif pada tahun-tahun mendatang.

Hal tersebut tertuang dalam draf Undang-undang Ekonomi Kreatif yang ditargetkan terbit pada 2019. Pasal 18 menyebutkan, pelaku ekonomi kreatif wajib memenuhi standar kompetensi tergantung kepada persyaratan subsektor melalui sertifikasi profesi.

(Baca juga: Bekraf Minta Pemda Longgarkan Pajak untuk Ekonomi Kreatif

Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi Bekraf Sabartua Tampubolon mengutarakan, sertifikasi bukan indikator tunggal kompetensi seseorang. Tapi ini diperlukan untuk meningkatkan daya saing SDM kreatif Indonesia menembus pasar global.

“Bekraf terus mendukung pengembangan ekosistem komunitas pelaku ekonomi kreatif. Kami yakin ekonomi kreatif yang makin maju bisa menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” kata dia. (Baca juga: Akhir Tahun, 155 Pebisnis Kreatif Berstatus Perseroan Terbatas

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait