Kopi Giling Diminati, Pabrikan Kopi Skala Besar Tak Perlu Gusar

Istilah 'kopi itu digiling bukan digunting' sempat memicu pro dan kontra di kalangan pebisnis hilir kopi.
Image title
17 Oktober 2018, 13:54
Kopi Gayo
Junaidi Hanafiah/Anadolu Agency
Petani memetik kopi Arabica Gayo di kebun milik mereka di Takengon, Provinsi Aceh, Indonesia pada 17 Desember 2017. Kopi Arabica Gayo merupakan salah satu kopi terbaik dunia, pada tahun 2017, jumlah produksi kopi Arabica Gayo mencapai 46 ribu ton dan diekspor ke berbagai negara di dunia.

Aktivitas meminum kopi lokal yang semakin populer memacu pertumbuhan bisnis skala kecil dan menengah di sisi hilir. Budaya ngopi ini selayaknya tak membuat pabrikan kopi bubuk skala besar gusar.

Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fadjar Hutomo mengatakan, pada saat bisnis kopi single origin mulai banyak dilirik pengusaha lokal, memang sempat menimbulkan keresahan bagi pabrikan kopi bubuk besar.

"Pada awal 2016 mereka (pabrikan besar) mereka merasa terganggu. Ada pro dan kontra terkait sebutan bahwa kopi itu digiling bukan digunting," tuturnya kepada Katadata.co.id, Rabu (17/10). Kata 'digunting' dimaknai sebagai sindiran untuk kopi bubuk sachet.

(Baca juga: Kopi Cold Brew, Tren Baru atau Sekadar Alternatif Pilihan?

Advertisement

Namun gesekan semacam itu lambat laun mereda. Pasalnya, fokus utama pebisnis hilir kopi ialah membudayakan minum kopi nusantara single origin. Semakin banyak masyarakat yang menjadi penikmat kopi maka permintaan pasar domestik meningkat.

Fadjar menjelaskan, respon positif masyarakat terhadap kehadiran kedai kopi yang menyajikan biji single origin menunjukkan besarnya potensi konsumsi domestik. Menyadari prospek pasar ini maka pabrikan kopi besar juga mulai merambah segmen produk kopi single origin.

"Poinnya adalah bukan soal kopi digiling atau digunting melainkan bagaimana kita semua menikmati dan meningkatkan konsumsi kopi lokal. Peningkatan ini terjadi dan mereka (pabrikan besar) menikmat juga. Kini ya kolaborasi juga dengan pabrikan besar," ucapnya.

Namun demikian, Bekraf mengakui bahwa upayanya memperkuat bisnis kreatif subsektor kuliner termasuk minuman seduh kopi belum sempurna. Para pengusaha terutama yang berskala kecil dan menengah membutuhkan ekosistem industri kreatif yang kondusif.

Bekraf menyatakan, pihaknya tidak hanya berupaya memperluas pasar di sisi hilir tetapi juga berkoordinasi dengan pemangku kepentingan lain. Pasalnya, sektor hulu komoditas kopi maupun aktivitas ekspor merupakan domain kementerian lain.

"Yang terpenting adalah membangun ekosistem sembari bersinergi dengan berbagai pihak lain. Ekosistem ini mencakup hulu atau petani, pengolahan pascapanen, minuman seduhan kopi, bahkan sampai ekosistem ekspor," tutur Fadjar.

(Baca juga: Investasi Mesin dan Margin Jadi Tantangan Warkop Garap Jasa Sangrai)

Pendiri Jaringan Warkop Nusantara Ulil Indraswara mengutarakan, supaya semakin banyak masyarakat menjadi penikmat minuman seduhan kopi maka sebuah warung kopi (warkop) tidak bisa sekadar jualan. "Tapi bersosialisasi juga," katanya menjawab Katadata.co.id.

Aktivitas sosialisasi yang dimaksud melalui interaksi barista dengan konsumen. Tidak hanya menyajikan minuman tetapi juga menceritakan berbagai hal dalam rantai produksi dan distribusi biji kopi.

"Jualan kopi itu sebetulnya jualan cerita. Mungkin sekarang orang lebih banyak terjebak hanya fokus pada jualan konten saja. Padahal sebetulnya kopi ini budaya, ini kekayaan kita. Unsur budaya itu yang harus kita cari," ujar Ulil.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait