BI Pantau Imbal Hasil Surat Berharga Tenor 10 Tahun Tetap Menarik

Investor mengincar imbal hasil obligasi yang lebih tinggi seiring meningkatnya risiko berinvestasi dalam rupiah.
Image title
14 September 2018, 16:54
saham_obligasi
KATADATA
saham_obligasi

Bank Indonesia (BI) menilai bahwa imbal hasil surat berharga negara atau SBN tenor 10 tahun di level 8,52% tetap menarik bagi investor. Daya tarik obligasi pemerintah ini tampak dari selisihnya terhadap yield US Treasury dengan tenor yang sama. 

"(SBN) cukup menarik sepanjang nilai tukar stabil dengan diferensial yield sekitar 4,2% - 4,3%," kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, di Jakarta, Jumat (14/9). (Baca juga: BI: Spread SBN dan Obligasi AS Bisa Tarik Dana Asing

Imbal hasil (yield) SBN rupiah dengan tenor 10 tahun sepanjang tahun ini naik 226 basis poin (bps) menjadi 8,52%. Sementara itu, imbal hasil obligasi US Treasury juga tercatat naik sekitar 108 bps menjadi 4,61%.

Dody menuturkan, beberapa hari terakhir terjadi arus masuk dana asing (capital inflows) di pasar saham dan SBN. Tapi, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menunjukkan, pada 5 - 12 September 2018 tetap terjadi arus keluar dana asing (capital outflows) mencapai Rp 10,69 triliun.

Advertisement

Selain itu, sekitar sepekan terakhir juga terjadi aksi jual bersih (net sell) oleh investor. Mengacu kepada RTI, net sell saham oleh investor asing mencapai Rp 1,16 triliun dalam seminggu terakhir. (Baca juga: Pasar Modal Terkoreksi Pelemahan Rupiah)

Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun dalam mata uang Garuda maupun valuta Paman Sam naik. Para investor meminta imbal hasil lebih tinggi seiring meningkatnya risiko berinvestasi dalam bentuk rupiah.

Kenaikan imbal hasil SBN menunjukkan harganya yang turun, ini mencerminkan daya tarik investor terhadap surat utang pemerintah sedang lesu. Apabila yield naik maka beban pembiayaan utang pemerintah terkerek juga. Tekanan dari pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS turut membuat pemerintah harus mengeluarkan biaya lebih dalam menerbitkan obligasi atau pinjaman baru.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait