BI: Spread SBN dan Obligasi AS Bisa Tarik Dana Asing

Selisih imbal hasil di antara SBN dengan US Treasury mencapai 500 bps.
Image title
Oleh Rizky Alika
20 Agustus 2018, 17:56
saham_obligasi
KATADATA
saham_obligasi

Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun terkerek menjadi 7,99% sedangkan yield US Treasury dengan tenor yang sama sebesar 2,85%. Persentase ini menunjukkan selisih imbal hasil di antara keduanya menembus 500 basis poin (bps).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan, selisih imbal hasil (spread) di antara SBN dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tersebut dapat merangsang minat investor.

“Selisih ini bisa menarik capital inflow (arus masuk dana asing) walau di pasar global ada berbagai risiko,” katanya, di Jakarta, Senin (20/8).

Investor global mempertimbangkan perlunya menyeimbangkan portofolio jangka pendeknya lantaran ada pelebaran selisih imbal hasil tersebut. Alhasil, langkah ini membuat investasi di pasar SBN rupiah tampak lebih menggoda.

(Baca juga: Investor SBN Minta Return Tinggi, Biaya Utang Pemerintah akan Membesar)

Menurut Nanang, spread obligasi pemerintah Indonesia dan AS terbilang lebih menarik daripada India - AS. Selisih mencapai level psikologis 500 bps saat ini berbeda tipis dibandingkan dengan spread obligasi India dan AS sebesar 490 bps. Yield obligasi India dengan tenor 10 tahun sekarang ini 7,83%. 

BI menyatakan bahwa melebarnya spread di antara surat utang pemerintah Indonesia dan AS merupakan hasil kenaikan suku bunga acuan. Diakui bank sentral pula, kenaikan yield mencerminkan harga SBN turun karena sepinya minat investor, ini mengindikasikan arus keluar dana asing (capital outflow).

Kondisi tersebut tercermin melalui penurunan porsi kepemilikan SBN oleh asing. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, jumlah SBN milik investor asing pada Rabu (15/8) mencapai Rp 844,623 triliun, ini menyusut dibandingkan dengan sepekan sebelumnya, Rabu (8/8), sebesar Rp 847,977 triliun. 

Video Pilihan

Artikel Terkait