Uang Bukan Satu-satunya Jalan Keluar Bagi Usaha Sosial

Produk bisnis sosial terkadang dianggap kurang bisa meningkat, di lain sisi biasanya produk bahan baku berkelanjutan memiliki harga yang lebih mahal.
Image title
Oleh Tim Publikasi Katadata - Tim Publikasi Katadata
23 April 2021, 14:43
Hari Bumi #9
Katadata

Dalam membangun usaha sosial yang masih merintis atau dikenal dengan istilah startup, tentunya memiliki banyak sekali masalah dan tantangan. Dari menentukan konsep penjualan, bisnis model, dan solusi apa yang dapat diberikan untuk sosial dan lingkungan dalam membangun usaha.

Tren yang diperhatikan Angel Investment Network Indonesia (ANGIN) selama dua tahun terakhir ini, dampak investasi yang ramai adalah produk yang mendukung pemberdayaan perempuan seperti kesetaraan gender. Selain itu bahan baku yang berkelanjutan seperti membuat bahan baku kulit bukan dari kulit hewan. Adanya alternatif terhadap bahan kemasan, mengganti kemasan-kemasan plastik dengan bahan yang lebih ramah lingkungan.

Greater HUB SBM ITB, Curator, Budi Rahardjo, berpendapat itu semua akan kembali lagi pada karakter pendiri usaha. Bagaimanapun usaha didirikan untuk mencari keuntungan tapi tidak harus semata-mata hanya dengan uang, value menjadi salah satu faktor yang dapat mempertahankan perusahaan.

“Kalau founder-nya cari uang, begitu ada kesempatan langsung selling out. Jadi harus ada founder yang kuat untuk value-nya, butuh uang tapi tidak boleh selling out. Begitu juga dengan tim. Investor dan pendukung dengan tujuan value yang sama agar bisa tetap sustain,” ungkap Budi di webinar Katadata bertajuk ‘Earth Day Forum 2021 : Menumbuhkan Generasi Baru Usaha Sosial’ pada Jumat (23/4).

Sama halnya dengan yang diungkapkan Impact Investment Lead, ANGIN, Benedikta Atika, sebelum mendapatkan investor kita perlu memikirkan tujuannya. Kalau uang menjadi faktor utama itu tidak akan menyelesaikan masalah dalam perusahaan.

“Mencari uang bukan untuk menyelesaikan masalah, bukan suatu visi yang besar, karena itu jadi beda sense-nya. Investasi bukan tujuan tapi hanya bahan bakar tujuan,” kata Atika.

Atika menambahkan, penanaman modal tidak hanya soal finansial semata namun perlu memiliki objektivitas terhadap dampak sosial dan lingkungan. Ia menambahkan, membangun UKM (Usaha Kecil Menengah) dan startup harus diawali dengan dampak apa yang ingin dicapai.

“Kebanyakan investor mendukung yang memiliki dampak sosial. Impact investor menjadi berani masuk secara umum meningkat dari sudut pandang dananya. Ada 148 juta dolar Amerika Serikat yang digelontorkan impact investment di Indonesia, ada 66 yang sedang investasi aktif mencari mostly sebagian dari luar negeri ada beberapa based-nya lokal,” ucap Atika.

Editor: Doddy Rosadi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait