Survei KIC: Baru 28 Persen Konsumen Memahami Produk Hijau

Sebagian besar konsumen menilai produk hijau adalah produk yang bisa dipakai berulang kali.
Image title
Oleh Doddy Rosadi - Tim Publikasi Katadata
22 Oktober 2021, 13:46
Survei KIC: Baru 28 Persen Konsumen Memahami Produk Hijau
Katadata

Jakarta - Ekonomi hijau menjadi tren yang berkembang secara global. Namun, pengetahuan konsumen mengenai produk hijau masih minim.

Expert Panel Katadata Insight Center (KIC), Mulya Amri mengatakan, berdasarkan hasil survei Katadata Insight Center (KIC), diketahui baru 28 persen konsumen yang betul-betul memahami produk berkelanjutan.

"Kebanyakan pemahaman mereka tentang produk berkelanjutan adalah produk yang bisa dipakai berulang-ulang untuk jangka waktu yang lama. Meski itu bagian dari produk berkelanjutan, tapi belum merupakan definisi yang lengkap tentang produk berkelanjutan," kata Mulya dalam talkshow daring dengan tema "The Rise of Indonesia Green Consumer", Jumat (22/10/2021).

Survei dilakukan pada 30 Juli sampai 1 Agustus 2021 dengan jumlah responden sebanyak 3.631 orang dari seluruh Indonesia. Sekitar 68 persen dari responden tersebut berdomisili di Pulau Jawa dengan komposisi berimbang antara laki-laki dan perempuan.

Mulya menambahkan, karakteristik responden untuk survei produk hijau ini, sebanyak 47 persen merupakan generasi milenial dengan rentang usia 24 hingga 39 tahun, dan 36 persen generasi Z dengan rentang usia 17-23 tahun.

"Jadi kalau kita total lebih 80 persen yang milenial dan gen Z," ujarnya.

Dari segi pendidikan, responden dalam survei ini adalah 57 persen SMA dan 22 persen Sarjana.

Untuk sisi kelas ekonomi, responden dikalsifikasikan menjadi a,b,c,d, dan e. Kelas ekonomi paling tinggi pada kelompok a dengan persentase 19 persen. Sedangkan kelompok c,d,dan e total persentasenya 68 persen.

Mulya menjelaskan, dari segi kecendrungan dalam membeli produk, responden banyak melihat review untuk mengetahui informasi produk berkelanjutan, kemudian mempertimbangkan kualitas, dan terakhir terkait harga.

"Ada responden yang bersedia membayar dengan harga lebih tinggi. Jadi sudah ada pemahaman juga di kalangan responden bahwa kadang untuk mendapatkan produk berkelanjutan, dalam artian ketika mereka ada ingin berkontribusi untuk menjaga lingkungan, ada responden yang bersedia membayar harga lebih tinggi kalau dia bisa diyakinkan bahwa produknya lebih berkelanjutan," tuturnya.

Sustainable Packaging Manager Nestle Indonesia, Faiza Anindita mengapresiasi hasil survei yang dilakukan KIC. Berdasarkan hasil survei tersebut, yaitu konsumen dengan kelompok ekonomi c,d, dan e sebesar 68 persen menjelaskan jika kelompok tersebut sudah memahami produk hijau atau berkelanjutan.

"Ini menarik sekali dan menyenangkan. 50 persen lebih itu mengatakan its oke membayar lebih yang penting ini mengusung keberlanjutan, belum lagi milenial ternyata porsinya juga banyak. Karena kenapa? milenial ini banyak sekali yang orang kuliahan, tapi juga orang tua baru. Orang tua yang mereka punya kesadaran untuk memilih produk berkelanjutan dan berarti mereka bisa menularkan ke anak-anak mereka nantinya tumbuh kebiasaan baru atau habit baru yang kita berharap ke depannya generasi berikutnya lebih sadar akan lingkungan, keberlanjutan," kata Faiza.

Menurutnya, hasil survei juga memantapkan langkah Nestle dengan target net zero yang pada Desember 2020, Nestle secara global mengumumkan berambisi mencapai net zero di tahun 2050.

"Nestle mulai memberi produk ke masyarakat yang tidak hanya saja healthy, sehat atau lezat, tapi produk yang mengusung keberlanjutan lingkungan. Keberlanjutan itu luas, ini perlu dipahami bersama. Jadi we are so happy, realy happy knowing bahwa berarti kami di jalan yang benar, di jalan yang sama dengan yang konsumen harapkan," ujarnya.

Ia menjelaskan, keberlanjutan sudah dilakukan Nestle selama bertahun-tahun. Nestle di dunia sudah mencapai 155 tahun, sedangkan di Indoensia sudah mencapai 50 tahun. Selama perjalanan panjang tersebut, Nestle mengusung pendekatan berkelanjutan.

"Kami sadar betul sejak lama bahwa apa yang kami lakukan saat ini tidak boleh habis saat ini. Apa yang kami lakukan saat ini justru disimpan untuk masa depannya. Apa pun yang kami lakukan harus memikirkan masa depannya itu seperti apa," kata dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait