Arab Saudi Picu 'Perang' Produksi, Harga Minyak Terjun Bebas Lebih 20%

Arab Saudi akan meningkatkan produksi lebih dari 10 juta barel per hari (bph) setelah kesepakatan pembatasan berakhir pada April mendatang.
Image title
9 Maret 2020, 08:26
Arab Saudi Genjot Produksi, Harga Minyak Terjun Bebas hingga 20% Lebih.
KATADATA
Kilang Minyak. Arab Saudi akan meningkatkan produksi lebih dari 10 juta barel per hari (bph) dan menurunkan harga jual secara signfikan setelah Rusia menolak keras usulan pengurangan produksi.

Harga minyak mentah dunia terjun bebas ke level terendahnya setelah Arab Saudi memangkas harga jual serta berencana menggenjot produksi minyak secara signifikan. Langkah Arab Saudi tersebut menandakan dimulainya perang harga minyak mentah secara global.

Melansir data Bloomberg, pada pukul 08.00 WIB Senin (9/3), harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2020 anjlok 20,52% ke level US$ 35,97 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April 2020 anjlok 20,49%% ke level US$ 32,82 per barel.

Arab Saudi mengambil sejumlah langkah setelah Rusia pada Jumat (6/3) menolak keras usulan pengurangan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Padahal, rencana tersebut diklaim sebagai upaya OPEC  menstabilkan harga minyak yang di tengah ancaman kejatuhan ekonomi negara dunia akibat penyebaran virus corona.

(Baca: Dorong Harga Minyak, OPEC Pangkas Produksi Besar-besaran Efek Corona)

Advertisement

Arab Saudi menyatakan, akan meningkatkan produksi lebih dari 10 juta barel per hari (bph) pada April mendatang. Hal ini sebagai respons setelah kesepakatan pembatasan produksi antara OPEC dan Rusia atau OPEC + berakhir pada Maret ini.

Negara itu juga bakal memangkas harga jual minyak mentah untuk periode April untuk semua kadar minyak mentah dan ke semua tujuan dengan harga mulai dari US$ 6 hingga US$ 8 per barel.

(Baca: Virus Corona Buat Harga Minyak Indonesia Anjlok Jadi US$ 56,61/Barel)

Adapun, pada sesi sebelumnya, kontrak kedua jenis minyak mengalami penurunan ke level terendah sejak Februari 2016, dengan Brent turun ke US$ 31,02 per barel dan WTI di US$ 30.

Dengan begitu, hal ini membuat Brent dan WTI mengalami penurunan harian terbesar kedua kalinya dalam sejarah. Penurunan harian terbesar asebelumnya terjadi pada Januari 1991 dengan persentase penuruna  lebih dari 30%.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait