Industri Manufaktur Besar dan Sedang Naik 4% Terdongkrak Pemilu 2019

Produksi industri pencetakan dan reproduksi media rekaman naik khususnya menjelang pemilihan umum (Pemilu).
Agatha Olivia Victoria
4 Februari 2020, 09:38
Industri Manufaktur Besar & Sedang 2019 Naik 4,01% Terdorong Pemilu.
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Pabrik perakitan Mercedes Benz. BPS mencatat, produksi industri manufaktur besar dan sedang naik 19,58% pada 2019.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang pada 2019 naik 4,01% dibanding 2018. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan oleh meningkatnya produksi industri pencetakan dan reproduksi media rekaman khususnya menjelang pemilihan umum (Pemilu). 

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, produksi industri manufaktur besar dan sedang naik 19,58% pada 2019.

"Industri ini memang naik karena adanya pemilu yang menyebabkan percetakan, sablon spanduk dan sebagainya diminati," kata Suhariyanto dalam Konferensi Pers di kantornya, Jakarta, Senin (3/2).

(Baca: Jadi Tumpuan Ekonomi RI, Sektor Manufaktur 2019 Tumbuh Melambat)

Selain itu, dia pun menyebut, industri pakaian jadi naik 18,51% diikuti industri minuman naik 17,11%, industri furnitur naik 6,63%, dan industri pengolahan lainnya 6,42% pada tahun lalu. 

Namun demikian, beberapa industri juga mengalami penurunan produksi seperti industri barang logam, bukan mesin, dan peralatannya yang turun 18,49%, industri karet, barang dari karet, dan plastik turun 14,71% serta, industri jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan 11,57%.

Kemudian ada industri komputer, barang elektronik, dan optik turun 10,99%, industri kayu, barang dari kayu, dan Gabus (Tidak Termasuk Furnitur), dan barang anyaman dari bambu, rotan, dan sejenisnya turun 10,33%.

Sementara pada tingkat provinsi, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang yang mengalami peningkatan terbesar terjadi di Maluku Utara. "Maluku Utara naik 55,5%," ujarnya.

(Baca: Daya Beli Melemah, Pertumbuhan Industri Makanan Terkoreksi)

Kemudian disusul Nusa Tenggara Timur 23,16, Kalimantan Barat 21,92%, Sulawesi Tengah 18,53%, serta Yogyakarta 11,33%. Sebaliknya provinsi-provinsi yang mengalami penurunan tertinggi pada adalah Jambi yang turun 39,63%, Sumatera Barat 14,76%, Papua 14,18%, Aceh 13,46%, serta Sulawesi Utara turun 9,3%.

Tak hanya industri skala besar, BPS juga mencatat pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil pada 2019 tumbuh 5,8% terhadap periode sebelumnya. "Industri ini memang sedang menjadi perhatian di tahun lalu dan harus terus ditingkatkan," kata Suhariyanto.

Lebih lanjut, kenaikan terbesar terjadi pada industri komputer, barang elektronika, dan optik yang naik 22,03%. Kemudian disusul industri percetakan dan reproduksi media rekaman 18,76%, dan industri minuman yang naik 8,57%.

(Baca: Pertumbuhan Industri Manufaktur Kian Melambat pada Kuartal III 2019)

Sementara industri yang mengalami penurunan pertumbuhan produksi terbesar adalah industri peralatan listrik turun 17,08%, industri logam dasar turun 15,41%, dan industri alat angkutan lainnya turun 3,89%.

Pada tingkat provinsi, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil tahun 2019 terlihat di Gorontalo yang naik 31,24%, Sulawesi Barat 28,3%, Nusa Tenggara Timur 23,76%, Aceh 23,27%, dan Papua Barat 21,28%.

Sedangkan provinsi yang mengalami penurunan tertinggi pada tahun 2019 terhadap tahun sebelumnya adalah Maluku Utara dengan penurunan turun 3,54%.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait