Temui Dubes AS dan Iran, Menlu Retno Minta Kedua Negara Tahan Diri

Retno melakukan pertemuan dengan Dubes Iran dan Amerika Serikat secara terpisah.
Dimas Jarot Bayu
6 Januari 2020, 18:43
Temui Dubes AS dan Iran, Menlu Retno Minta Kedua Negara Tahan Diri.
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjawab pertanyaan wartawan. Retno menemui duta besar Amerika Serikat dan Iran sore ini.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menemui Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia dan Dubes Iran untuk Indonesia sore ini. Retno melakukan pertemuan dengan perwakilan kedua negara tersebut menyusul memanasnya hubungan kedua negara.

"Saya pukul 15.00 WIB melakukan pertemuan dengan Dubes Iran secara terpisah dengan Dubes Amerika untuk menyampaikan pesan harapan Indonesia," kata Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/1).

Menurut Retno, Indonesia ingin menyampaikan pesan agar AS dan Iran dapat saling menahan diri. Hal tersebut penting dilakukan agar konflik di antara kedua negara serta di kawasan Timur Tengah dapat mereda.

"Sehingga tidak terjadi eskalasi di Timur Tengah," kata Retno.

(Baca: Bendera Merah Berkibar, Iran Siap Balas Serangan AS)

Memanasnya hubungan AS dan Iran terjadi sejak akhir pekan lalu. Ketegangan itu terjadi usai insiden terbunuhnya pemimpin Pasukan Penjaga Revolusioner Iran Qassem Soleimani dalam serangan udara AS di bandara utama Baghdad, Irak pada Jumat (3/1) waktu setempat.

Departemen Pertahanan AS menyatakan, serangan udara tersebut dilakukan atas perintah Presiden AS Donald Trump untuk melindungi personel tentara dan diplomat mereka di luar negeri. AS menuding Soleimani sebagai pemimpin pasukan organisasi teroris Islam.

Soleimani juga dituding bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan AS dan sekutunya sejak mereka melakukan invasi ke Irak pada 2003. Meski demikian, Soleimani dan pasukannya juga dinilai berjasa membantu pasukan Suriah memukul mundur ISIS pada tahun lalu.

Pada Minggu (5/1) malam, Trump mengirim tambahan 3.000 pasukan ke Kuwait untuk memperkuat keberadaan militer AS di Timur Tengah. Departemen Luar Negeri AS memerintahkan seluruh warga negaranya untuk meninggalkan Irak dan menutup Kedutaan Besar AS di Baghdad.

Advertisement

(Baca: Pasca-Serangan AS, Harga Bitcoin di Iran Tembus Rp 360 Juta)

Pemerintah Inggris dan Prancis juga mengeluarkan larangan bagi warganya untuk bepergian ke Irak dan Iran. Sejumlah ahli menyatakan, para wisatawan asing yang ada di kedua negara tersebut akan dievakuasi ke Uni Emirat Arab (UEA).

Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut AS tidak menyadari kesalahan besar yang mereka lakukan. "Mereka akan melihat dampak dari tindakan kriminal ini, bukan hanya sekarang tapi juga beberapa tahun ke depan," ujar Rouhani.

Ketika upacara penghormatan terhadap Soleimani di Kota Suci Qom, Iran, bendera merah berkibar di atas kubah Masjid Jamkaran. Hal tersebut menjadi simbol bahwa Iran siap membalas serangan AS.

Dalam sejarah Syiah, bendera merah adalah simbol pertumpahan darah yang tidak adil dan menjadi panggilan untuk membalaskan dendam orang yang tewas. Iran diperkirakan merencanakan serangan siber besar-besaran serta serangan terhadap militer AS maupun bisnisnya di Timur Tengah, termasuk kapal-kapal tanker yang melewati Selat Hormuz.

Selat sepanjang 21 mil itu merupakan jalur penting dalam perekonomian dunia. Sekitar 30% pengiriman minyak dunia dari kawasan Teluk melewati Selat Hormuz.

Trump lewat akun Twitter-nya @realDonaldTrump lantas mengancam akan membidik 52 titik, termasuk situs-situs bersejarah di Iran. Trump bakal melakukan hal tersebut jika Iran menyerang pasukan AS atau aset-aset Paman Sam untuk membalas dendam atas kematian Soleimani.

Menurut Trump, ke-52 target tersebut mencerminkan 52 warga negara AS yang ditawan oleh Iran sejak bertahun-tahun lalu. "Iran akan diserang dengan sangat cepat dan keras. AS tidak menginginkan ada ancaman lagi," kata Trump melalui akun Twitternya.

Ia juga menyebutkan bahwa AS membelanjakan dana US$ 2 triliun untuk peralatan militer yang terbesar dan terbaik di dunia. Jika Iran menyerang seorang warga negara AS atau basis militer AS, Trump tidak ragu untuk mengirim peralatan militer terbaiknya untuk membalas tindakan Iran.

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait