Imbas Tumpahan Minyak Pertamina, 100 Ha Tambak Garam Setop Beroperasi

Terdapat sekitar 100 hektare tambak garam di pesisir utara Karawang yang berhenti produksi karena tercemar limbah minyak Pertamina.
Image title
Oleh Ekarina
30 Juli 2019, 13:44
Tambak Garam, Minyak, Pertamina, Karawang
ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar
Warga mengumpulkan tumpahan minyak (Oil Spill) yang tercecer di Pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat, Senin (22/7/2019). Tumpahan minyak tersebut tercecer di sepanjang pantai Sedari hingga pantai Cemarajaya akibat kebocoran pipa proyek eksplorasi minyak milik Pertamina.

Kebocoran minyak mentah milik Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) berdampak luas hingga ke areal produksi garam. Akibatnya, ratusan hektare tambak garam di wilayah pesisir utara Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang ikut tercemar tumpahan minyak tak bisa beroperasi. 

"Sudah sepekan ini tidak ada produksi setelah peristiwa kebocoran minyak mentah milik Pertamina," kata Ketua Koperasi Garam Segara Jaya Karawang, Aep Suhardi, dikutip dari Antara, Selasa (30/7).

(Baca: Dampak Tumpahan Minyak Blok ONWJ Meluas, Sudah Berimbas ke 10 Desa)

Menurut dia, tumpahan minyak mentah di sekitar Anjungan Lepas Pantai YY Area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (ONWJ), wilayah perairan Karawang telah menyebar.

Hingga saat ini tercatat ada sekitar 100 hektare tambak garam di wilayah pesisir utara Karawang yang berhenti produksi karena tercemar limbah minyak. Tambak tersebut antara lain berada di wilayah perairan Kecamatan Tempuran dan Cilamaya Kulon, Karawang.

(Baca: Pertamina Diminta Ganti Rugi Akibat Tumpahan Minyak Blok ONWJ)

Para petambak pun akhirnya mulai menghentikan aliran air dari laut ke area tambak garam. 

Aep mengatakan, dengan tambak garam yang tercemar dan produksi yang terhenti, otomatis memengaruhi hasil panen garam petambak. Padahal, rata-rata per hari petambak bisa memanen garam sebanyak 60 sampai 100 ton.

"Untuk saat ini nihil. Dengan begitu, petambak garam menanggung rugi akibat berhenti produksi," katanya.

Reporter: Antara
Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait