Harga Ayam Anjlok, Mentan Kembali Menduga Ada Peran Tengkulak Nakal

Mentan menduga ada peran broker nakal di balik disparitas harga ayam yang tinggi di tingkat peternak dan konsumen.
Image title
Oleh Ekarina
28 Juni 2019, 22:21
harga ayam anjlok, mafia ayam
Katadata
Anjloknya harga ayam potong diduga karena peran tengkulak nakal.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menduga ada peran broker atau tengkulak nakal di balik anjloknya harga ayam potong di sejumlah daerah dalam sepekan terakhir ini. Ini dikarenakan ada disparitas yang tinggi antara harga di tingkat peternak dan konsumen. 

Amran mengatakan harga ayam di tingkat peternak saat ini ada yang menyentuh sekitar Rp6.000 hingga Rp10.000 per kilogram, sedangkan di tingkat konsumen masih sangat tinggi, yakni sekitar Rp30.000-Rp40.000 per kilogram.

Untuk menelusuri peran para broker, dia mengatakan bakal menerjunkan tim Satgas Pangan di daerah sentra penghasil ayam potong, yakni di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung. "Kami masih menunggu laporan lanjutan. Kalau ada yang berani bermain-main, kami tidak segan-segan untuk menindak tegas dan memberikan sanksi berat," katanya di Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (28/6).

(Baca: Harga Ayam Anjlok, Peternak Ditaksir Rugi Rp 700 Miliar per Bulan)

Advertisement

Menurutnya, ada yang salah dalam mata rantai distribusi, termasuk proses yang sangat panjang dan menyebabkan disparitas harga ayam potong. "Seperti halnya para mafia pangan lainnya, seperti bawang putih, beras, dan bawang bombay. Kami akan menindak tegas para broker yang mempermainkan harga ayam potong ini," ujarnya.

(Baca: Kendalikan Stok, Kementan Potong Ayam Umur 68 Minggu)

Dia menyebut, saat ini sudah ada 400 mafia pangan yang ditetapkan sebagai tersangka dan ada 782 perusahaan yang sedang menjalani proses hukum.

Sebelumnya, para peternak ayam potong di berbagai daerah protes karena harga ayam potong anjlok. Di Yogyakarta misalnya, peternak membagi-bagikan ayam secara gratis untuk merespons anjloknya harga ayam yang signifikan.

Sementara terkait ketergantungan Indonesia terhadap komoditas daging, Amran mengklaim Indonesia segera mencapai target swasembada. Sebab, jika dibandingkan dengan Selandia Baru, butuh waktu hingga 10 tahun lebih untuk swasembada daging. 

(Baca: Harga Ayam Anjlok, Mentan: Setelah Mafia Beras, Mafia Ayam Kami Sikat)

Pemerintah  telah melakukan beberapa upaya, termasuk inseminasi buatan (IB) sapi, pertumbuhan populasi sapi potong dalam lima tahun terakhir cukup signifikan, yakni sekitar 1 juta ekor per tahun. Adapun tahun-tahun sebelumnya hanya sekitar 162 ribu hingga 185 ribu ekor per tahun.

"Jadi pertumbuhannya rata-rata mencapai 500 persen per tahun. Saat ini populasi sapi potong di Indonesia mencapai 17,2 juta ekor. Namun demikian, untuk memenuhi kebutuhan daging  kita masih impor antara 600-800 ton per tahun," katanya.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait