Unilever Pangkas Belanja Modal Jadi Rp 1,1 Triliun

Investasi belanja modal Unilever tahun ini akan banyak digunakan untuk menenambahan kapasitas pabrik dan alat distribusi, seperti es krim kabinet.
Image title
Oleh Ekarina
4 April 2019, 18:43
Unilever
Arief Kamaludin|KATADATA
Unilever pangkas belanja modal pada 2019.

Emiten produsen barang konsumsi, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)  menganggarkan belanja modal (capital expanditure/capex) tahun ini sebesar Rp 1,1 triliun. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan nilai investasi yang dianggarkan tahun lalu sebesar Rp 1,5 triliun.

Meskipun dana yang dianggarkan sebesar Rp 1,5 triliun, tapi yang terealisasi hingga akhir tahun lalu sekitar Rp 1,1 triliun. "Capex tahun lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Lebih moderat," kata Sancoyo Antarikso, Governance & Corporate Affairs Director PT Unilever Tbk (UNVR) di Jakarta, Kamis (4/4).

(Baca: Unilever Indonesia Cetak Penjualan Rp 31,5 Triliun pada Kuartal III)

Sancoyo mengatakan investasi tahun ini akan digunakan untuk menenambahan kapasitas pabrik dan alat distribusi penjualan seperti es krim kabinet serta mendukung dana program yang terkait keberlanjutan bisnis. Penambahan kapasitas pabrik menurutnya akan diutamakan untuk pabrik yang utilisasinya hampir mencapai 80%. 

Advertisement

"Kami memerlukan banyak capex salah satunya untuk segmen produk ice cream seiring dengan inovasi yang kami lakukan, " kata Sancoyo.

Pabrik ini menurutnya melakukan ekspansi pada 2012, sehingga memerlukan tambahan kapasitas. 

Unilever Kembangkan E-Commerce

Kendati enggan menyebut target penjualan 2019,  perseroan menyatakan cukup optimistis dengan pertumbuhan bisnis Unilever.

Untuk meningkatkan pemasaran produk tahun ini, perusahaan berencana memperkuat penjualan ke segmen e-commerce  seiring  dengan meningkatnya tren digital dan sosial media beberapa waktu terakhir. 

Perseroan sudah bekerjasama dengan 15 chanel market place, seperti Tokopedia, Blibli, Shoppe dan lainnya.  Namun demikian, perusahaan belum berencana membuat portal e-commerce sendiri untuk memasarkan  produk Unilever.  

"Kontribusi e-commerce masih kecil, sekitar 1%. Tapi Unilever  termasuk perusahaan yang melipatgandakan investasi di digital," kata dia.

(Baca juga: Unilever Lepas Bisnis Margarin dan Merek Blue Band Rp 2,9 Triliun)

Unilever mencatat penjualan bersih sebesar Rp 31,5 triliun pada periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2018 dengan sebagian besar kinerja ditopang oleh segmen usaha Home and Personal Care (HPC) sebesar Rp 21,2 triliun dan segmen Food and Refreshment (FNR) senilai Rp 10,3 triliun.

Seiring dengan peningkatan penjualan Unilever, laba bersih perusahaan juga meningkat sebesar 39,7% menjadi Rp 7,3 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain meluncurkan inisiatif baru, pada kuartal III 2018 Perseroan juga melakukan aksi korporasi berupa penjualan aset kategori spreads dengan nilai transaksi bersih sebesar Rp 2,8 triliun.

“Di tengah kompetisi yang intensif seperti saat ini, kami berusaha meningkatkan daya saing perusahaan di pasar dengan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan” kata Sancoyo.

Sebelumnya, Unilever Indonesia melepas aset bisnis margarin (spreads) meliputi aset tak berwujud berupa hak pendistribusian produk dengan merek dagang global Frytol, Blue Band Master dan Blue Band, serta merek dagang lokal Minyak Samin dan Blue Band Gold beserta sejumlah aset produksi, perlengkapan dan persediaan senilai Rp 2,9 triliun.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait