Menpar: Harga Tiket Pesawat Mahal, Wisatawan Batalkan Perjalanan

Mahalnya harga tiket menyebabkan ratusan penumpang pesawat membatalkan rencana perjalanannya.
Image title
Oleh Rizky Alika
19 Maret 2019, 03:00
wisatawan
ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko
Wisatawan mengantre naik kapal cepat (fast boat) antarpulau tujuan Bali di Pelabuhan Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat

Menteri Pariwisata Arif Yahya mengatakan kenaikan harga tiket pesawat domestik  memengaruhi jumlah kunjungan wisawatan, terutama turis domestik. Hal itu ditunjukkan dengan maraknya pembatalan pembelian tiket pesawat ke kawasan wisata.  

Arief mengatakan, mahalnya harga tiket menyebabkan ratusan penumpang pesawat membatalkan rencana perjalanannya."Sejumlah penumpang domestik juga memilih transit di luar negeri terlebih dahulu untuk melakukan perjalanan antar kota di dalam negeri. Sebab, tarif yang ditawarkan lebih murah," kata Arief di kantor Bank Indonesia, Senin (18/3).

(Baca: Pemerintah Targetkan Devisa Pariwisata Capai US$ 17,6 Miliar)

Selain itu, imbas lain dari berkurangnya wisawatan adalah pada berkurangnya tingkat keterisian pengunjung hotel (okupansi), seperti di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang turun hingga 20%.

Namun demikian, Arief meyebut untuk kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), menurutnya, tidak terpengaruh secara langsung. yaitu bagi wisman yang mengunjungi bbeberapa wilayah di Indonesia.

Untuk wisman, tidak terpengaruh langsung. Karena sebagian wisman melakukan perjalanan bisa dua kali penerbangan. " Misalnya dari Jakarta ke Bandung dan dan Jakarta ke Padang. Itu kena (pengaruh) di domestik tiketnya," ujar Arief. 

Untuk mendorong pariwisata pada tahun ini, Kementerian Pariwisata telah menerapkan beberapa strategi. Salah satunya dengan membuat beberapa lokasi menjadi regional tourism hub. Selain itu, membuat Low Cost Carrier Terminal (LCCT) untuk menarik wisatawan yang memilih maskapai bertarif rendah atau Low Cost Carrier (LCC).

(Baca: Enam Langkah Pemerintah Tingkatkan Kunjungan Wisman ke Indonesia)

Sebelumnya, Arief sempat menyebutkan kenaikan tiket pada Januari 2019 bisa mencapai perhitungan sekitar 40% sampai 50%. Seiring dengan hal tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi penurunan penumpang angkutan udara domestik sebanyak 16,07%, yakni dari 7,93 juta orang pada Desember 2018 menjadi 6,65 juta orang pada Januari 2019.

Padahal, jumlah penumpang pesawat November 2018 mencapai 7,56 juta orang, sehingga lebih tinggi 4,87% dibanding Desember 2018.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait