Kenaikan Tarif, Empat Perusahaan Pengiriman Kargo Gulung Tikar

Saat ini terdapat empat perusahaan anggota pengiriman kargo yang gulung tikar akibat kenaikan tarif kargo pesawat.
Ameidyo Daud Nasution
27 Februari 2019, 20:18
ilustrasi Kargo Pesawat
Arief Kamaludin | Katadata

Kenaikan tarif kargo oleh maskapai penerbangan membuat pengusaha pengiriman kargo kalang kabut. Bahkan Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) menyebut saat ini terdapat empat perusahaan anggota asosiasi  yang mengalami kebangkutan hingga bersiap menutup operasionalnya.

Wakil Ketua Asperindo Budi Paryanto mengatakan dari empat perusahaan yang akan gulung tikar, dua di antaranya berada di Pekanbaru, satu di Palembang, dan satu lagi berada di Jakarta. Keempatnya merupakan perusahaan pengiriman kargo berukuran menengah ke bawah sehingga rentan terimbas kenaikan tarif Surat Muatan Udara (SMU).

"Mereka sudah mulai merumahkan karyawan, tinggal proses administrasi penutupan perusahaan saja," kata Budi di Jakarta, Rabu (27/2).

(Baca: Citilink Buka Kemungkinan Mengkaji Ulang Tarif Kargo Pesawat)

Advertisement

Akibat penutupan, dia juga menaksir kemungkinan ada 100 hingga 200 pekerja empat yang ikut dirumahkan setelah operasional tak berjalan.

Selain empat perusahaan tadi, ada pula sekitar 20 perusahaan anggota asosiasi yang  melapor bahwa kondisi usahanya limbung karena tingginya tarif muatan udara maskapai. Saat ini, Asperindo tercatat memiliki 287 anggota perusahaan.

"Di luar  (anggota) Asperindo, saya pikir lebih banyak (usaha yang limbung)," ujar Budi.

Menurutnya, kenaikan ongkos angkut dari pihak maskapai yang mencapai 120% hingga 350% mau tak mau menjadikan perusahaan pengiriman turut menaikkan ongkos kepada penggunanya sebesar 20%. Namun, kenaikan itu menurutnya cukup kecil, sehingga ada selisih kenaikan biaya yang ditanggung perusahaan pengiriman. 

Di sisi lain, naiknya ongkos pengiriman kargo kepada pihak pengguna telah mengakibatkan mereka mengurangi produksi, hingga volume pengirimannya pun ikut berkurang. Akibatnya, ada penurunan pemesanan dan penggunaan jasa hingga 40%.

"Yang daya tahannya bagus masih bisa bertahan, tapi yang kecil sudah goyang," ujarnya.

(Baca: Kawasan Kargo Bandara Soekarno-Hatta Diperbesar dan Terintegrasi Tol)

Oleh sebab itu dia meminta kepada pemerintah dan pihak maskapai untuk melakukan sejumlah kebijakan guna memulihkan kembali usaha jasa pengiriman kargo. Pertama adalah mengurangi anak cucu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta di sektor logistik untuk memberi ruang swasta.

Kedua, memulai penggunaan pesawat khusus kargo (freighter) untuk mengurangi biaya pengiriman. Budi menjelaskan dengan adanya pesawat khusus tanpa penumpang maka biaya bisa ditekan sekurangnya 50%.

"Misal Jakarta - Palembang dulu Rp 36 ribu per kilometer bisa hanya Rp 18 ribu per kilometer," kata dia.

Menteri Pehubungan Budi Karya Sumadi beberapa hari lalu mengaku akan memetakan kebijakan tarif maskapai meski tidak dapat mengintervensi tarif kargo. Namun Citilink Indonesia menyatakan siap membuka kemungkinan untuk mengkaji secara khusus terkait penerapan biaya kargo tersebut.

 

 

 

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait