Target B100, Gaikindo Minta Informasi Penerapan Disampaikan Lebih Awal

Pelaku industri otomotif meminta pemerintah menginformasikan rencana penggunaan B100 sejak jauh hari agar pabrikan bisa menyesuaikan dengan kondisi mesin.
Michael Reily
19 Februari 2019, 18:35
B20
Pertamina

Pelaku industri otomotif mendukung rencana penerapan green fuel pemerintah, salah satunya melalui program pencampuran bahan bakar nabati ke dalam bahan bakar minyak melalui biodiesel 20% (B20) yang akan ditingkatkan bertahap ke arah B100.  Namun untuk mengimplentasikan target tersebut, mereka meminta agar informasi penerapan kebijakan itu sejak jauh hari agar bisa mempersiapkan spesifikasi mesin.

"Tidak apa-apa, kami dukung, asal kami mendapatkan waktu supaya para APM (Agen Pemegang Merek) bisa menyiapkan spesifikasi mesin," kata Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto kepada Katadata.co.id di Jakarta, Selasa (19/2).

Dia menjelaskan, pemerintah sudah melakukan kewajiban penggunaan B20 untuk sektor transportasi sejak 2016. Kebijakan itu pun sudah disertai notifikasi dari pemerintah kepada Gaikindo dua tahun sebelum regulasi diimplementasikan.

(Baca: Pertamina Konversi Dua Kilang BBM Tua untuk Program B100)

Advertisement

Karenanya, sama dengan penerapan kebijakan sebelumnya, Gaikindo berharap prosedur serupa diterapkan pada kebijakan pencampuran penggunaan bahan bakar nabati berikutnya. 

Sebab, dengan informasi pemerintah bisa menjadikan APM  bisa mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan teknis riset, pengembangan dan pembangunan produk kendaraan berbahan bakar biodiesel. Sehingga, pelaku usaha dan pabrikan bisa membuat produk yang sesuai dengan spesifikasi bahan bakar nabati tersebut.

Jongkie menambahkan, Gaikindo berperan sebagai penghubung antara pemerintah dan APM. Nantinya, Gaikindo bakal memberikan masukan mengenai seperti spesifikasi yang sesuai dari masing-masing pabrikan kendaraan dengan penggunaan B20. Apalagi, pemerintah tengah melakukan uji coba untuk program B30.

(Baca: Kemenperin Siapkan Dua Pabrik Kembangkan Prototipe Green Diesel)

Sehingga pemberian informasi sedini mungkin mengenai rencana kebijkaan penggunaan bahan bakar nabati dapat menguntungkan pelaku usaha. "Pemerintah bakal rugi juga kalau kebijakannya tidak sesuai (dengan jenis pengguna), truk dan bus itu kan instrumen logistik untuk barang dan angkutan orang," ujar Jongkie.

Sebelumnya, dalam debat Calon Presiden Minggu (17/2), lalu capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) menyatakan komitmennya di sektor energi, salah satunya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sebesar-besarnya dengan program B20 yang akan terus ditingkatkan dengan target ambisius hingga 100% melalui B100. 

"Hal ini sudah kami mulai dengan produksi B20. Ini akan kami teruskan menjadi B30 sampai B-100 sehingga ketergantungan akan energi fosil dapat dikurangi," katanya dalam debat capres.

Reporter: Michael Reily
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait