Defisit Neraca Migas Januari 2019 Susut Berkat Pengaruh Kebijakan B20

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyebut kebijakan kewajiban pencampuran solar dengan 20% minyak nabati (B20) sudah mulai berdampak terhadap impor.
Michael Reily
16 Februari 2019, 07:00
B20
Pertamina

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, kewajiban pencampuran Solar dengan minyak nabati sebesar 20% (B20) mulai berdampak terhadap penurunan impor minyak dan gas bumi. Hal ini salah satunya terlihat dari menyusutnya defisit neraca migas pada Januari 2019.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari 2019 defisit neraca migas sebesar US$ 454,8 juta. Angka ini lebih kecil dari defisit migas pada Januari 2018 sebesar US$ 935,6 juta. "Artinya kebijakan B20 sudah ada pengaruh," kata Darmin di Jakarta, Jumat (15/2).

Dia menjelaskan penurunan itu memang perlu dihitung dengan lebih detail, namun data BPS mencatatkan impor solar sudah ada penurunan.

(Baca: Terserap Program B20, Volume Ekspor Sawit Tahun Ini Diprediksi Turun)

Advertisement

Pada Januari 2019, impor bahan bakar solar tercatat sebesar 388.564 ton dengan nilai impor  US$ 199,5 juta. Jika dibandingkan dengan impor periode Desember 2018 sebanyak 492.707 ton atau senilai US$ 275,3 juta, secara volume impor ada penurunan sebesar 9,5%  dan secara nilai menurun 27,6%.

Sementara jika dibandingkan secara tahunan, impor bahan bakar solar Januari 2018 volumenya 460.153 ton dengan nilai US$ 259, 3 juta, terjadi penurunan secara volume sebesar 15,6% dan secara nilai sekitar 23%.

Meski begitu, BPS mengungkapkan impor hasil minyak Januari 2019 terbesar masih disumbang oleh bahan bakar motor dengan jumlah 1,23 juta ton dengan nilai US$ 633,8 juta. Volume impor bahan bakar motor untuk pertamax dan premium masih stagnan dibandingkan bulan lain.

(Baca: Terkendala Cuaca, Penyaluran Program B20 Januari Capai 89%)

Pada Desember 2018, impor bahan bakar motor sebanyak 1,32 juta ton dengan nilai US$ 687,4 juta. Sedangkan pada Januari 2018, impornya sebesar 1,28 juta ton senilai US$ 842,3 juta.

Sementara itu, impor avtur pada Januari 2019 mencapai 121.180 ton dengan nilai US$ 69,2 juta. Pada Desember 2018, impor avtur sebanyak 127.735 ton yang nilainya US$ 76,8 juta.

Reporter: Michael Reily
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait