Menteri Susi: Efisiensi Logistik Dorong Kenaikan Ekspor Produk Ikan

Sepanjang 2017, volume ekspor ikan mencapai 7.003 high cube (HC). Namun, per pertengahan 2018 ekspor ikan sudah melonjak, melampaui angka tahun lalu.
Michael Reily
31 Juli 2018, 21:25
Tuna
Donang Wahyu|KATADATA
Nelayan melakukan bongkar muat ikan tuna dan cakalang di pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan ekspor produk perikanan pada Januari hingga Juli 2018 naik 15,24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal itu menurutnya antara lain disebabkan oleh efisiensi biaya logistik seiring dengan integrasi sarana dan prasarana dalam kawasan.

Susi mencontohkan salah satu bentuk integrasi itu  seperti yang terlihat di kawasan Surabaya, yang mana Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPMKHP) yang bersinergi dengan Puspa Agro dan Pusat Logistik Berikat. Dengan demikian, Jawa Timur saat ini  digadang menjadi Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) untuk kawasan timur Indonesia.

“Kinerja ekspor produk perikanan juga diharapkan meningkat sebagaimana yang saat ini tengah diupayakan,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (31/7).

Susi menyebutkan banyak komoditas ekspor konsumsi  yang berasal dari  Surabaya, seperti frozen fish (ikan beku), frozen shrimp (udang beku), crab meat (daging kepiting), frozen squid (cumi beku), dried chirimen (teri kering), frozen octopus (gurita beku), shrimp crackers (kerupuk udang), seaweed (rumput laut), jelly fish (ubur-ubur), dan dried shark fins (sirip hiu kering).

Namun, ada pula komoditas ekspor nonkonsumsi yang menjadi andalan Surabaya seperti crab shell (cangkang kepiting), shrimp sell (kulit udang), fish for bait (umpan pancing), sea shell (kerang laut), fish meal (makanan ikan), fish oil (minyak ikan), dan fish/shrimp feed (pakan ikan dan udang).

(Baca : Ekspor Patin Merosot 52,22%, KKP: Permintaan Domestik Tinggi)

Susi mencatat sepanjang 2017, volume ekspor ikan mencapai 7.003 high cube (HC), namun baru sampai pertengahan tahun 2018 ekspor ikan sudah melampaui capaian tahun lalu yakni sekitar 8.070 HC. "Mudah-mudahan bisa sampai 14.000 HC hingga akhir tahun," ujarnya. 

Dia mengaku pencapaiannya menggembirakan karena peningkatan ekspor ini dibarengi dengan penurunan angka komoditas perikanan impor. Volume komoditas impor yang terdiri dari  tepung ikan, bahan baku pakan, frozen sardine, frozen mackerel, dan fish oil nyatanya mengalami penurunan. 

Contohnya, bolume impor komoditas tepung ikan pada periode Januari-Juli 2017  persentase kenaikannya mencapai 15,33%, sedangkan di periode yang sama tahun 2018 turun menjadi 7,91%. Begitu pula dengan impor komoditas sardine frozen yang mencapai 36,26% pada 2017 turun menjadi 17,14%di tahun 2018. 

(Baca juga: Dorong Transaksi Perikanan, Menteri Susi Pantau Pembangunan SKPT Papua)

"Hal ini menunjukkan bahwa bahan baku dalam negeri, ekspor kita lebih banyak dibandingkan yang impor," kata Susi.

Menurutnya, Surabaya juga kaya akan komoditas udang vaname, cakalang, tuna beku, udang beku/olahan, dan ikan segar seperti kakap, layur, kerapu, dan laosa. Dia berharap integrasi mampu meningkatkan pelayanan dan fasilitas, termasuk juga mempercepat waktu tunggu (dwelling time) yang masih mencapai dua jam.

Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait