Kemilau Bisnis Mutiara, Permata Hasil Budidaya

Standar harga mutiara laut Indonesia saat ini ditentukan oleh warna, bentuk, ukuran, ketebalan, dan kemilau mutiara.
Michael Reily
7 Juli 2018, 10:00
Kemilau Mutiara di Pasar Ekspor
Katadata/Arief Kamaludin
Mutiara di khas Lombok di sebuah pameran di Kementerian Perindustrian. Mutiara merupakan komoditas laut yang menjadi andalan di pasar ekpor.

Potensi kelautan Indonesia menawarkan sejumlah peluang usaha yang belum tergali secara optimal. Budidaya mutiara laut pun bisa menjadi pilihan. 

Mutiara laut merupakan permata "organik" bernilai tinggi di pasar.  “Mutiara itu satu-satunya permata yang berasal dari makhluk hidup,” kata Desainer sekaligus pengusaha perhiasan mutiara  Aulia Jewellery Nunik Anurningsih di Jakarta, Kamis (5/7).

Bersama dengan lima orang  rekannya, dia menggagas Yayasan Mutiara Laut Indonesia (YLMI) pada 2014. Tujuannya untuk mengapresiasi dan menyebarkan pesan keberlanjutan terhadap usaha mutiara laut di Indonesia, di samping menjadi wadah bagi para pengusaha mutiara untuk bertemu, memperkenalkan, dan memasarkan produknya.

Sebab, mutiara merupakan satu-satunya permata yang didapat bukan dengan cara digali, melainkan dengan cara budidaya. Sehingga, budidaya mutiara laut tidak mencemari lingkungan.

Advertisement

(Baca : Budidaya Mutiara Masih Terkendala Masalah Lahan dan Limbah Plastik)

Selain itu,  dalam menjalankan budidaya mutiara membutuhkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Sebab, untuk membudidayakan mutiara memerlukan lingkungan perairan laut yang bersih dan tak tercemar oleh sampah untuk memastikan kerang mutiara tetap hidup dan berkualitas baik.

Nunik menyebutkan standar harga mutiara laut Indonesia saat ini ditentukan oleh warna, bentuk, ukuran, ketebalan, dan kemilau mutiara. Pasar lelang mutiara terbesar saat ini menurutnya ada di Jepang. 

 “Kalau saya beli dari perusahaan budidaya yang punya kualitas terbaik,” ujarnya.

Nunik mengaku beberapa jenis perhiasan dan mutiara di gerainya Aulia Jewellery  rata-rata dijual seharga Rp 800 ribu ke atas, tergantung desain.

Salah satu  produk eksklusif milik  Aulia Jewellery yakni mutiara dari Papua. Menurut dia, semakin ke timur Indonesia, kualitas produk semakin baik karena lautnya bersih dan sehat. Produk premium itu pun dijual langsung ke konsumen lewat butik, Adapun mayoritas pembelinya saat ini masih berasal dari dalam negeri.

(Baca : Potensi Rumput Laut di Sumba Timur Mencapai Rp 570 Miliar)

Nunik juga menjelaskan salah satu cara paling tepat untuk mendongkrak penjualan permata mutiara laut yaitu  lewat pameran. “UKM itu hidupnya dari pameran,” katanya. Hanya, dia enggan mengungkapkan omzet penjualan dari bisnis mutiaranya tersebut. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Subjakto menjelaskan bisnis mutiara laut saat ini  baru digeluti sedikit kelompok budidaya. Jumlah kelompok budidaya mutiara baru sebanyak 30 kelompok dengan rata-rata anggotanya hanya sekitar 10 orang.

Perusahaan yang fokus ke budidaya mutiara laut pun hanya sekitar 5 perusahaan. Meski begitu, pemerintah mencoba memfasilitasi perusahaan dengan masyarakat budidaya. “Kita melihat kerang mutiara jadi komoditas eksklusif dengan kemitraan masyarakat,” ujar Slamet.

Selain itu, KKP menekankan supaya masyarakat memperhatikan isu lingkungan. Alasannya, budidaya mutiara harus diimbangi dengan bisnis keberlanjutan. Pengelolaan ekonomi dan lingkungan diarahkan agar sejalan.

Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait