Jelang Lebaran, Persediaan Daging Diprediksi Masih Defisit 46 Ribu Ton

Kebutuhan daging sapi dan kerbau pada Mei dan Juni sebesar 116.471 ton. Sedangkan persediaannya hanya 407.403 ekor, setara dengan 70.888 ton.
Michael Reily
22 Maret 2018, 10:48
KEJAR TARGET SWASEMBADA DAGING
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Peternak menjual sapi potong miliknya di pasar hewan, Ngawi, Jawa Timur, Minggu (12/3). Pemerintah melalui Kementerian Pertanian berupaya mengejar swasembada daging di tahun 2026 dengan program Inseminasi Buatan (IB) lewat Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib

Persediaan daging sapi dan kerbau jelang periode Ramadan dan Lebaran diperkirakan masih kurang sekitar 45,5 ribu ton. Karenanya, guna mengantisipasi  melonjaknya pemintaan daging dan menjaga harga tetap stabil, Kementerian Pertanian memberi rekomendasi impor daging.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengungkapkan kebutuhan daging sapi dan kerbau pada Mei dan Juni sebesar 116.471 ton. Sedangkan persediaannya hanya 407.403 ekor, setara dengan 70.888 ton.

“Kita masih defisit 45.583 ton,” kata Ketut di Jakarta, Rabu petang (21/3).

(Baca : Kemendag Terbitkan Izin Impor 36 Ribu Ton Daging Sapi)

Advertisement

Karenanya, dia  memberikan rekomendasi impor yang telah disampaikan  dalam rapat koordinasi terbatas (Rakortas) untuk pengadaan daging dari luar negeri jelang lebaran. Impor tersebut antara lain mencakup daging kerbau, daging sapi, jeroan, dan sapi bakalan yang siap dikirim jelang Lebaran.

Adapun rinciannya,  impor  akan terdiri dari  178.956 ekor atau 35.612 ton sapi bakalan siap potong,  22.221 ton daging sapi  dan  1.264 ton jeroan.  Di samping itu, tambahan kuota impor juga akan datang dari Perum Bulog yang akan menyiapkan daging kerbau impor sebanyak 20.048 ton. “Kesimpulannya bisa surplus, dengan catatan minimal realisasi impor daging sapi dan kerbau 80% dari rencana impor April, Mei, dan Juni,” ujar Ketut.

Pasalnya, menurut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional,  stok daging sapi kualitas I pada 22 Februari 2018 sebesar Rp 117.400 per kilogram, angkanya pun naik ke Rp 118.100 pada 21 Maret 2018. Sedangkan daging sapi kualitas II pada periode yang sama berada pada posisi Rp 110.000 dan Rp 109.700,.

Sementara itu Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga mengatakan dalam  Rakortas bahwa pihaknya bakal  melakukan intervensi pasar supaya harga daging tidak berada di atas Rp 100 ribu, terutama daging sapi. “Kami diminta untuk menurunkan harga daging,” ujar Enggar.

(baca juga : Bulog Ajukan Izin Impor 100 Ribu Ton Daging Kerbau Tahun Ini) 

Sementara itu, langkah  antisipasi juga sebelumnya telah dilakukan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan., dengan dikeluarkannya Surat Persetujuan Impor (SPI)  untuk  142.148 ton untuk daging.  

Izin impor itu terdiri dari 100 ribu ton  daging kerbau, 42.148 ton daging sapi dan jeroan, total 142.148 ton. Sedangkan, untuk sapi bakalan siap potong,  izin impor yang telah disetujui jumlahnya mencakup sebanyak 207.800 ekor.

Untuk menjaga ketersediaan pasokan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution juga meminta supaya impor daging sapi  tidak hanya dari Australia, tetapi juga Brazil. Sedangkan impor daging kerbau berasal dari India dan hanya dilakukan oleh Bulog.

"Jika impor daging sapi hanya dilakukan dari Australia, harganya akan melonjak, sehingga upaya penurunan harga tidak bisa dilakukan. Kami membuka dua kemungkinan, tidak bergantung pada satu pihak,” kata Darmin.

Ia juga menjelaskan Mendag dapat mengundang perusahaan swasta serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan pembahasan mekanisme izin impor, di samping melakukan penentuan berdasarkan penawaran harga termurah dari importir.

Dengan segala upaya tersebut, Darmin menyebut, pemerintah menginginkan daging sapi tetap berada di bawah Rp 100 ribu, atau berada  di rentang  harga Rp 45 ribu hingga Rp 80 ribu sepanjang periode Lebaran. Sementara, daging kerbau memang sudah ditetapkan Harga Eceran Tertinggi Rp 80 ribu.

Ia menekankan, tujuan akhirnya adalah supaya harga daging ada pada posisi di bawah Rp 100 ribu. “Pemerintah memastikan pasokan yang baik pada puasa dan lebaran, serta harganya turun dari sekarang,” tutur Darmin.

Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait