Kementan Sesalkan Langkah Kemendag Impor Beras Pecah

Kemendag memberi izin impor beras dengan tingkat pecah 100% kepada dua produsen makanan, yaitu Dellifood Sentosa Corpondo dan Chye Choon Indonesia
Michael Reily
22 Februari 2018, 19:40
Pasar Induk Beras Cipinang
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Sejumlah calon pembeli memilih beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Senin (7/8).


Kementerian Perdagangan kembali mengeluarkan izin impor beras dengan tingkat pecah sebesar 100% untuk keperluan industri. Namun, langkah itu sedikit disesalkan, lantaran jenis beras tersebut sudah bisa diproduksi dari dalam negeri dan untuk prosedur impor seharusnya bisa melalui proses rekomendasi.

Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Maman Suherman mengungkapkan ekspor dan impor beras dalam negeri membutuhkan rekomendasi dari Kementerian Pertanian. Meski pada prakteknya, saat ini impor beras untuk keperluan industri perlu rekomendasi Kementerian Perindustrian.

“Kami pernah bersurat agar direkomendasi oleh Kementerian Pertanian mengingat potensi dalam negeri meningkat dengan adanya upaya khusus,” kata Maman kepada Katadata, Kamis (22/2).


(Baca : Kemendag Buka Izin Impor Beras Keperluan Lain 65 Ribu Ton)

Advertisement

Sementara Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2018 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Beras menghilangkan rekomendasi dari institusi terkait. Untuk beras industri misalnya, impor diperbolehkan hanya untuk pemilik Angka Pengenal Importir-Produsen (API-P).

Dengan begitu Maman menilai, aturan tersebut jelas melangkahi regulasi lain yang sudah ada di kementerian terkait. “Sebelum ada aturan tersebut, harus ada rekomendasi,” jelasnya.

Dia pun menyarankan, rekomendasi untuk proses ekspor dan impor kembali mengacu pada Undang-Undang (UU), yaitu UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan dan UU Nomor 19 Tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani.

Sebelumnya, dari situs layanan perizinan perdagangan elektronik Inatrade, Kemendag diketahui telah memberi izin impor beras dengan tingkat pecah 100% kepada dua perusahaan produsen makanan, yaitu Dellifood Sentosa Corpondo dan Chye Choon Indonesia pada 12 Februari 2018.

(Baca juga : DPR Berencana Bentuk Tim Pengawas Impor Beras)

Ketika dikonfirmasi, Direktur Impor Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana menyatakan beras pecah yang diimpor memang khusus digunakan untuk keperluan industri. Meski demikian, Wisnu enggan merinci besaran volume impor yang diberikan. “Kecil kok jumlahnya,” ujarnya.

Sementara, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan perizinan beras untuk industri memang dipermudah. “Beras 100% pecah masukan saja,” kata Enggar ketika dikonfirmasi.

Impor beras untuk keperluan industri memang bukan sekali ini saja terjadi. Kementerian Perdagangan, sebelumnya juga telah memberi izin impor beras untuk keperluan lain sebanyak lebih dari 65 ribu ton kepada dua perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Sarinah dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).

Berdasarkan situs Inatrade, Sarinah diketahui telah mengajukan izin impor pada 15 Januari dan 19 Januari 2018. Sedangkan PPI mengajukan izin pada 19 Januari 2018. “Impor dilakukan dalam rangka penugasan pemerintah,” kata General Manager Perdagangan Sarinah Hari Prabowo ketika dikonfirmasi Katadata.co.id, Rabu (31/1) lalu.

Menurut catatan Sarinah, pada 15 Januari lalu, pihaknya mengaku telah mengajukan izin impor untuk 50 ribu ton beras ketan utuh. Sementara, pada 19 Januari lalu, izin impornya untuk beras basmati sebesar 15 ribu ton. Total beras yang diimpor Sarinah mencapai 65 ribu ton.

Sementara PPI, baik untuk jenis maupun jumlah beras hingga kini belum dapat diidentifikasi. Situs resmi Inatrade hanya mencantumkan nama perusahaan serta pengajuan izin komoditas. Direktur Utama PPI Agus Andiyani tidak merespon ketika dihubungi Katadata.co.id.

 

 

 

Reporter: Michael Reily
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait