Didesak Petani, Mentan Tegaskan Tak Akan Ubah HPP Beras

Empat instrumen kebijakan yang disiapkan pemerintah dianggap sudah cukup untuk mendorong penyerapan beras petani dan memenuhi kebutuhan Bulog.
Michael Reily
1 Februari 2018, 14:48
Petani
ANTARA FOTO/Rahmad
Petani memanen butiran padi (gabah) di Desa Kandang, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (23/3).

Pemerintah menegaskan tidak ada perubahan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras. Sebanyak 4 instrumen yang disiapkan pemerintah untuk menyerap beras petani dianggap sudah memenuhi kebutuhan Bulog.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman optimistis harga gabah dan beras petani pada panen raya bisa diserap oleh Bulog. Alasannya, suplai produksi yang melonjak bakal menurunkan harga gabah dan beras di tingkat petani.

Catatan Kementerian Pertanian, ketersediaan beras nasional sebesar 2,8 juta ton pada Januari, 5,4 juta ton pada Februari, dan 7,4 juta ton pada Maret. Perhitungan berdasarkan proyeksi luas panen pada Januari 854 ribu hektare, Februari 1,6 juta hektare, dan Maret 2,2 juta hektare.

Amran menyebutkan harga gabah di tingkat petani sekarang sudah mencapai Rp 4.200 per kilogram. “Harga masuk fleksibilitas sekarang, apalagi nanti panen raya bisa di bawah itu,” kata Amran di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (1/2).

Advertisement

Keempat instrumen mencakup HPP, fleksibilitas, harga di luar kualitas, dan pembelian beras komersial. HPP berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015, fleksibilitas berdasarkan Rapat Koordinasi Terbatas pada 7 Juli 2017, harga komersial sesuai perhitungan ekonomi Bulog, dan harga gabah luar kualitas mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 71 Tahun 2017.

Oleh karena itu, pemerintah menargetkan agar penyerapan bisa mencapai 2,2 juta tok hingga akhir Juni. Untuk itu, Bulog harus memaksimalkan setiap instrumen yang diberikan pemerintah. “Bulog juga bisa beli beras komersial,” jelas Amran.

Sementara, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti menjelaskan instrumen dibuat pemerintah untuk memudahkan Bulog melakukan penyerapan. Sehingga, penjualan bisa dilakukan dengan mudah.

Menurutnya, fleksibilitas diberikan supaya bisa menyesuaikan harga dan memberikan petani harga yang lebih baik. “Fleksibilitas supaya petani tidak merasa rugi,” jelas Tjahya.

Sementara, patokan harga beras medium juga tidak menjadi harga terendah di tingkat konsumen. Pasalnya, penyerapan beras di luar kualitas atau beras sayur bisa dijual dengan harga jual di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).

Meski begitu, Tjahya menyarankan agar Bulog segera melepas beras sayur agar kualitas barang terjamin. Dia menambahkan, Bulog juga bisa menggunakan skema beras komersial untuk menjual beras premium. Ia juga menjelaskan 4 instrumen memang dibuat agar penyerapan bisa dilakukan secara maksimal.

Sebelumnya, Serikat Petani Indonesia (SPI) meminta pemerintah untuk meninjau ulang Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Pasalnya, menjelang panen raya, harga gabah sudah mulai turun.

Ketua Umum SPI Henry Saragih menyatakan panen raya telah turun dalam kisaran hingga Rp 1.000 per kilogram. “Mungkin 1 bulan lagi akan terjun bebas menjadi Rp 3500 bahkan sampai Rp 3000,” kata Henry, Senin lalu.

Reporter: Michael Reily
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait