Bingung Harga Beras Naik saat Gabah Turun, Jokowi: Ini Ada Masalah

Jokowi menyebut, harga beras saat ini naik sebesar 0,4%, di tengah harga gabah kering giling menurun 5%.
Dimas Jarot Bayu
21 April 2020, 13:23
Bingung Harga Beras Naik saat Gabah Turun, Jokowi: Ini Ada Masalah.
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/
Petani memanen padi di Kampung Karanganyar, Sayar, Serang, Banten, Sabtu (11/4/2020). Jokowi menyoroti kenaikan harga beras di tengah penurunan harga gabah.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlihat geram saat melakukan rapat terbatas (ratas) melalui video conference tentang pangan. Presiden menyingung mengenai naiknya harga beras saat ini dan meminta menteri terkait menelusuri kondisi tersebut di lapangan. 

Jokowi menyebut, kenaikan harga beras ini mengandung suatu masalah. Pasalnya, harga beras saat ini naik sebesar 0,4%, di tengah harga gabah kering giling menurun sekitar 5%.

"Ini pasti ada masalah. Kalau harga gabah kering giling turun, mestinya harga berasnya juga ikut turun," kata Jokowi saat membuka rapat terbatas melalui video conference dari Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/4).

(Baca: Masalah Pangan Menjelang Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19)

Hal ini menurutnya dapat menyebabkan petani dirugikan karena harga gabah kering giling yang rendag.  Di sisi lain, masyarakat juga dirugikan karena harga beras yang naik.

Dia pun meminta Kementerian Perdagangan menelusuri pihak-pihak yang berupaya mendapatkan untung di tengah persoalan ini. "Ini yang untung siapa dicari," kata Jokowi.

Selain beras, Jokowi juga menyoroti harga gula pasir, bawang putih, dan bawang bombai yang tak kunjung turun. Bahkan, harga gula pasir kini mengalami kenaikan hingga menyentuh Rp 19 ribu. Padahal, bila mengacu harga eceran tertinggi (HET) gula seharusnya berada di kisaran Rp 12.500 per kilogram.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto sebelumnya menjanjikan bahwa harga gula pasir, bawang putih, dan bawang bombai akan turun dalam beberapa pekan. "Saya enggak tahu ini dari Kementerian Perdagangan apa sudah melihat lapangannya bahwa ini belum bergerak," kata Jokowi. 

Advertisement

(Baca: Harga Beras Sempat Naik, Mendag Klaim Stok Cukup untuk Lebaran)

Jokowi pun ikut menyoroti berbagai komoditas yang mengalami kenaikan harga, seperti daging sapi, cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah. Adapun, komoditas yang mengalami penurunan harga hanyalah daging ayam.

Terkait lojakan harga pangan tersebut, dia lantas meminta Agus untuk segera melihat persoalan ini di lapangan. "Ini ada apa? Tolong dilihat betul lapangannya. Lapangannya dicek betul," ujarnya.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, sejumlah bahan pokok memang mengalami kenaikan harga. Komoditas bawang merah, harganya naik sekitar 0,11% di kisaran Rp 43.800 per kilogram diikuti harga cabai merah 0,6% ke angka Rp 32.00 per  kilogram.

Lalu ada minyak goreng kemasan dan cabai merah keriting yang masing-masing naik menjadi sekitar  Rp 14.750 dan Rp 30.800.  Padahal, untuk HET minyak goreng diatur sebesar Rp 11.000 per liter. 

Adapun gula pasir, harganya kini masih stabil tinggi di kisaran Rp 18. 500 per kilogram. Sementara beras kualitas medium I dan II stabil tinggi di kisaran Rp 11.700 hingga Rp 12. 000 per kilogram. Sebab, HET beras sebelumnya diatur sebesar Rp 9.450 per kilogram untuk kualitas  medium.

(Baca: Permintaan Tinggi, Harga Beras Naik Meski Ada Panen Raya)

Anomali lonjakan harga beras di tengah musim panen sebelumnya disebut Perum Bulog dikarenakan permintaan beras tengah meningkat.

"Jadi ini karena banyak permintaan. Pada saat suplai tinggi, permintaan juga tinggi," kata Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh dalam Webinar Keterjangkauan Beras Bagi Masyarakat Prasejahtera Selama Pandemi Covid-19 (CIPS), Rabu (15/4).

Menurutnya, peningkatan permintaan beras tercermin dari banyaknya Kepala Daerah yang membeli stok beras milik Bulog. Selain itu, banyak pula lembaga sosial membeli beras Bulog untuk program bantuan dan memenuhi kebutuhan masyarakat dalam rangka Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

 

 

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait