Sektor Usaha Perbankan Dinilai Paling Siap Sambut New Normal

Sektor perbankan telah mempersiapkan diri menggunakan standar operasional prosedur (SOP) kesehatan jauh hari sebelum wacana new normal.
Image title
29 Mei 2020, 22:38
Industri Perbankan Disebut Paling Siap Sambut New Normal.
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
Karyawan Bank Mandiri saat tengah melayani nasabah di kantor cabang pada perayaan Hari Kartini. Sektor perbankan disebut paling siap menerapkan skema new normal.

Pemerintah tengah mempersiapkan diri menyambut fase normal baru atau new normal setelah aktivitas masyarakat terhenti akibat pandemi corona. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai salah satu sektor ekonomi yang paling siap dibuka pada fase tersebut yakni sektor perbankan.

Ekonom Senior Indef Aviliani mengatakan, sektor perbankan telah mempersiapkan diri menggunakan standar operasional prosedur (SOP) kesehatan jauh hari sebelum pemerintah membuka wacana new normal. Protokol kesehatan telah diterapkan bagi para nasabah sejak sebelum masuk ruangan.

"Mereka sudah melakukan SOP kesehatan baik itu di tempat duduk sudah diatur kemudian bagaimana pertama kali orang masuk itu paling siap indusri perbankan," kata Aviliani dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat (29/5).

(Baca: Riuh Skenario New Normal Ekonomi Indonesia Saat Pandemi Belum Reda)

Advertisement

Selain mampu menerapkan SOP dengan baik,  industri perbankan merupakan sektor perkantoran yang tak menyebabkan kerumunan banyak orang sehingga untuk mengatur ketertiban relatif lebih mudah dibandingkan sektor lain. Proses pengawasannya pun cukup dilakukan dengan beberapa pihak keamanan.

"Menurut saya yang paling bahaya itu mal, bioskop kemudian tempat hiburan dan tempat wisata. Kalau kantor seharusnya mereka yang sudah bisa mempersiapkan diri dengan SOP itu yang lebih baik dibuka," kata dia.

Lebih lanjut, Aviliani menjelaskan ketika fase new normal diterapkan akan ada beberapa perubahan yang diterapkan perusahaan dalam sistem kerja.  Pertama, perusahaan akan lebih banyak melakukan pengurangan karyawan dan jam kerja, sehingga dapat dimanfaatkan karyawan untuk menambah penghasilan dengan pekerjaan lain.

Sedangkan dari sisi perusahaan, pertemuan secara virtual diperkirakan bakal semakin banyak. Sehingga masyatakat akan semakin akrab dengan teknologi  dan platform e-commerce.

"Jangan melihat ini sebagai ancaman tapi ini perlu kreativitas bagi individu sebagai orang bekerja jangan secara umum tapi memiliki keahliannya dan itulah pekerja mendapatkan penghasilan tambahan," kata dia.

(Baca: Ragam Skenario New Normal Disiapkan, dari BUMN hingga Pengelola Mal)

 Pemerintah bersiap memberlakukan aktivitas dengan cara normal baru atau new normal di tengah pandemi corona atau Covid-19. Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemberlakuan aktivitas new normal hanya di daerah yang penyebaran virus corona telah melandai.

Namun, apabila terjadi gelombang kedua penularan virus corona, aktivitas bisa kembali dihentikan. "Kalau terjadi secondary wave (gelombang kedua) maka kegiatan akan dihentikan kembali dan kegiatan pun akan terganggu kembali," kata Airlangga setelah rapat kabinet terbatas lewat video conference, Rabu (27/5).

Oleh karena itu, kata Airlangga, pemerintah menempatkan aparat TNI dan Polri untuk menjaga kedisiplinan masyarakat terutama di temat-tempat publik yang penuh dengan keramaian. "Sehingga di tempat tersebut masyarakat bisa menjaga disiplin sehingga tidak terjadi secondary wave," katanya.

Airlangga memaparkan gelombang kedua penyebaran corona bukanlah hal yang diharapkan, karena akan membuat pemulihan ekonomi menjadi lebih sulit dengan kurva naik turun membentuk W shape. Pemerintah berharap pemulihan ekonomi dalam kondisi produktif dan aman seperti dengan model V atau U shape.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait