Penjualan Properti di Tiongkok Mulai Naik Usai Diterjang Wabah Covid

Properti merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan di ekonomi Tiongkok.
Image title
Oleh Ekarina
15 Juni 2020, 14:15
Penjualan Properti di Tiongkok Mulai Naik Usai Diterjang Wabah Covid.
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Ilustrasi unit apartemen. Pasar properti Tiongkok kembali tumbuh setelah lesu akibat diterjang pandemi corona.

Investasi dan penjualan properti di Tiongkok mulai menunjukkan pemulihan usai terpukul cukup parah akibat pandemi corona. Penjualan properti  di pasar ini tumbuh 9,7% pada Mei sekaligus merupakan laju tercepat sejak Juli 2018.

Adapun pertumbuhan tersebut juga membaik dibandingkan dengan penjuala selama April 2020 yang tercatta menurun 2,1%. Pasar properti merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan di ekonomi Tiongkok.

Penjualan sektor ini sempat anjlok akibat wabah corona dan karantina wilayah atau lockdown negara tersebut untuk menekan penyebaran corona. 

(Baca: Harga Properti Selangit, Bisnis Kos-Kosan Terus Naik)

Advertisement

Sejalan dengan pertumbuhan penjualan, investasi real estate Tiongkok pada periode Mei diproyeksikan meningkat 8,1% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dibandingan bulan sebelumnya sebesar 7%, menurut analisis Reuters berdasarkan data dari Biro Statistik Nasional Tiongkok. 

Adapun sepanjang lima bulan pertama tahun ini, investasi properti Negeri Panda telah turun 0,3% secara tahunan, sedikit mengecil dibandingkan bulan sebelumnya. 

Namun demikian, konsumsi properti masih sedikit lesu, di tengah meningkatnya pengangguran dan kekhawatiran tentang risiko wabah corona gelombang kedua.

"Data Mei menunjukkan bahwa dampak dari epidemi telah pergi dan pasar properti Tiongkok akan terus memanas ke depan," kata Zhang Dawei, Analis Centaline dikutip dari Reuters, Senin (15/6).

Secara terpisah, rata-rata harga rumah baru  di 70 kota besar di Tiongkok naik 0,5% pada Mei dari bulan sebelumnya. Sedangkan secara tahunan, harga rumah meningkat 4,9% di bulan Mei, sedikit lebih rendah dibandingkan kenaikan 5,1% di bulan April.

Beijing masih menahan diri untuk tidak menggunakan sektor real estat sebagai stimulus jangka pendek, bahkan ketika ekonomi berjuang untuk pulih dari kontraksi pertamanya dalam beberapa dekade pada kuartal pertama.

Ekonomi Tiongkok pada kuartal pertama tahun ini minus 6,8%, kontraksi pertama sejak akhir revolusi kebudayaan pada 1976. Kondisi ini makin meyakinkan kerusakan ekonomi yang dilakukan pandemi virus corona.

(Baca: Pengusaha Properti Desak Pemerintah soal Restrukturisasi Kredit)

Selama tiga bulan pertama tahun ini, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu menghadapi penutupan atau lockdown besar-besaran karena berjuang menahan penyebaran virus corona, dan kini sedang berjuang untuk membuka kembali sepenuhnya.

Dikutip dari South China Morning Post, data baru yang dirilis oleh Badan Statistik Nasional Tiongkok pada Jumat mengkonfirmasi penurunan, yang lebih buruk dari prediksi minus 6% dari survei perkiraan analis oleh Bloomberg.

Data Badan Statistik tersebut juga menunjukkan bahwa selama satu bulan atau pada Maret, ekonomi Tiongkok tetap di bawah tekanan besar. Sektor industri, ritel dan investasi aset tetap menyusut lagi, penurunan dramatis selama dua bulan pertama tahun ini.

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait