Banyak Stimulus, Target Tenaga Kerja UMKM 2021 Dinilai Terlalu Rendah

Menaker seharusnya mampu menargetkan penyerapan tenaga kerja UMKM lebih tinggi lagi atau berada di kisaran 500 - 600 ribu orang.
Image title
10 Juli 2020, 06:00
Banyak Stimulus, Target Tenaga Kerja UMKM 2021 Dinilai Terlalu Rendah.
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww.
Pekerja menyelesaikan produksi tas koper di Turangga, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/7/2020). Pengamat menilai target serapan tenaga kerja dari sektor UMKM Indonesia terlalu rendah di tengah banyaknya stimulus ekonomi ang menyasar sektor tersebut.

Menteri Ketenagkerjaan Ida Fauziah telah mentapkan target penyerapan tenaga kerja di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebanyak 95.315 pada 2021. Terget ini dinilai sangat rendah mengingat banyaknya jumlah UMKM di Indonesia.

Tak hanya itu, jumlah target serapan itu pun lebih rendah dibandingkan dengan serapan tenaga kerja di 2018 yang mencapai 117 ribu orang dari 64 ribu UMKM yang ada di Indonesia maupun pada 2017 yang mencapai 116 ribu orang tenaga kerja dari 62,9 juta UMKM. 

Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar mengatakan, pemerintah seharusnya dapat menambah jumlah lapangan kerja di sektor tersebut. Sebab, stimulus yang diberikan pemerintah untuk memperbaiki kondisi UMKM saat ini cukup banyak.

(Baca: Menkop Teten Sebut 50% UMKM Terganggu Usahanya karena Corona)

Advertisement

"Target Presiden Jokowi 10 juta lapangan kerja dalam lima tahun, masa cuma ditargetkan 95 ribu saja. Memang betul kita lihat kondisi di tahun 2021 belum ada kepastian, tapi kan juga harus didorong stimulus ekonomi oleh pemerintah kepada pengusaha supaya roda produksi bergerak dan ada penyerapan karyawan," kata Timboel kepada Katadata.co.id, Kamis (9/7).

Menurut dia, Menaker seharusnya mampu menargetkan penyerapan tenaga kerja UMKM  lebih tinggi lagi atau berada di kisaran 500 - 600 ribu meskipun belum ada kepastian ekonomi di tahun depan. Jumlah ini pun baru mencakup seperempat dari target yang ditentukan Presiden Jokowi sebanyak 2 juta lapangan kerja per tahun.

Untuk mencapai target tersebut menurutnya bisa dilakukan melalui penguatan stimulus kepada UMKM. Sektor ini telah terbukti ampuh menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat maupun secara nasional.

Dengan target yang ditetapkan, menurut Timboel justru pemerintah menunjukkan sikap pesimistis dalam menghadapi wabah di sektor ekonomi. "Artinya dengan target 95.315 dibagi 12 bulan hanya sekitar 8.000 tenaga kerja per bulan. Kalau dibuka lapangan kerja per bulan segitu saya mengatakan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendingan ditutup saja karena untuk apa cari investor tapi tidak menyerap lapangan kerja," kata dia.

(Baca: Kadin Desak Pemerintah Percepat Restrukturisasi Kredit UMKM)

Sebelumnya, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat, Ida menyebutkan target penyerapan tenaga kerja di 34 provinsi sebanyak 95.315. Upaya ini dilakukan melalui program perluasan kesempatan kerja UMKM pada 2021.

Dia mengatakan penyerapan tenaga kerja tersebut dapat dilakukan dengan empat program, yakni wirausaha baru, jobfair tematik, program padat karya dan tenaga pendamping. "Dalam mendukung proyek strategis nasional 2021 Kemenaker telah merencanakan melakukan beberapa kegiatan penciptaan lapangan kerja di 34 provinsi dan proyeksi penyerapan tenaga kerja sebanyak 95.315 orang," ujarnya dilansir dari CNN Indonesia.

Melalui program wirausaha baru, Ida menargetkan perluasan kesempatan kerja sebanyak 43.315 tenaga kerja per tahun. Upaya tersebut akan dioptimalkan dengan melakukan penyusunan peta peluang usaha dan pembekalan serta bantuan berusaha.

Selain itu, Kemenaker juga menargetkan dapat memfasilitasi pertemuan pencari kerja dan pemberi kerja sebanyak 45 ribu orang per tahun melalui job fair tematik. 

 

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait