Incar 35% Substitusi Impor, Produksi Industri Diprediksi Rp 5.868 T

Penurunan kontribusi impor diharapkan bisa diterapkan pada sejumlah sektor yang selama ini memiliki kontribusi barang impor cukup tinggi.
Image title
Oleh Rizky Alika
29 Juli 2020, 14:38
Incar 35% Substitusi Impor, Produksi Industri Diprediksi Rp 5.868 T.
ANTARA FOTO/ALOYSIUS JAROT NUGROHO
ilustrasi buruh pabrik merakit mesin kendaraan. Kementerian Perindustrian menargetkan subtitusi impor hingga 35% pada 2022.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan substitusi impor untuk barang kebutuhan industri sebesar 35%. Dengan penurunan impor tersebut, produksi industri dalam negeri diharapkan bisa meningkat menjadi Rp 5.868 triliun pada 2022.

"Pada 2022 dengan mencapai 35% substitusi impor, sudah cukup mendongkrak produksi eksisting industri sampai Rp 5.868 triliun," kata Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Herman Supriadi dalam sebuah webinar, Rabu (29/7).

Dengan peningkatan subtiusi impor, produksi industri eksisting dalam negeri bisa semakin bergeliat. Alhasil,  rata-rata ketirisian atau utilitas semua sektor industri akan meningkat secara bertahap.

Pada 2020, pemerintah memperkirakan produksi industri domestik bisa mencapai Rp 5.485 triliun dengan jumlah impor Rp 1.628 triliun. Sementara, rata-rata utilitas industri di semua sektor pada 2020 sebesar 76,72%.

Lalu pada 2021, dengan nilai produksi industri diperkirakan mencapai Rp 5.676 triliun, impor diharapkan turun menjadi Rp 1.436 triliun dengan utilitas industri meningkat ke level 80,30%.

Selanjutnya pada 2022, dengan substitusi impor mencapai 35% diperkirakan akan menurunkan nilai impor menjadi Rp 1.245 triliun. Utilitas industri diperkirakan mencapai 85%.

Adapun, penurunan kontribusi impor diharapkan bisa diterapkan pada sejumlah sektor yang selama ini memiliki kontribusi barang impor cukup tinggi.

Berdasarkan data kementerian pada 2019, sejumlah sektor tercatat memiliki kandungan impor tinggi ada pada industri permesinan dengan nilai impor Rp 308 triliun, industri kimia Rp 299 triliun, industri logam Rp 242 triliun, industri elektronika Rp 231 triliun, dan industri makanan Rp 140 triliun.

Kemudian, ada industri peralatan listrik Rp 116 triliun, industri tekstil Rp 103 triliun, industri kendaraan bermotor Rp 96 triliun, dan industri barang logam Rp 81 triliun.

"Yang tidak kalah penting industri peralatan listrik dan industri mesin dan perlengkapan yang di dalamnya ada alat kesehatan untuk penanganan Covid-19," katanya.

Ia pun mengakui pemerintah tak mungkin menekan impor hingga 100% lantaran ada barang yang tak bisa diproduksi sendiri. Namun, pihakmnya bertekad mencapai target substitusi impor sebesar 35% tersebut pada dua tahun mendatang.

Di sisi lain, program substitusi impor tersebut tidak akan berjalan secara efektif bila jumlah kasus Covid-19 terus meningkat. "Pandemi ini akan terus mengganggu (program substitusi) ketika tidak ditangani secara komprehensif," ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pandemi corona  telah menganggu kinerja sektor industri. Pasalnya, pandemi telah sempat menyebabkan pabrik berhenti beroperasi sehingga utilitas menurun.

Meski demikian, seiring pemulihan ekonomi dan dibukanya kembali aktivitas bisnis, utilitas industri perlahan naik mencapai 49,5%.

"Kami akan mendorong agar utilitas akhir tahun menacapai 60%," ujar Agus.

Kinerja industri pengolahan menurun tajam pada kuartal II-2020. Berdasarkan penilaian Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI). Sepanjang April-Juni 2020, indeksnya hanya 28,55%.

Padahal, PMI pada kuartal  I 2020, indeks tercatat sebesar 45,64% dan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 52,66%.

Rendahnya PMI pada kuartal ini dikarenakan adanya penurunan yang dalam pada volume produksi, yang kemudian berdampak pada kecepatan penerimaan barang input, pada semua sektor.

Meski begitu, BI memperkirakan PMI akan membaik pada kuartal III-2020, dengan indeks sebesar 45,72%.

 

Reporter: Rizky Alika
Editor: Ekarina

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait