Pertanian Padi dan Jagung Dibayangi Masalah Tenaga Kerja & Sewa Lahan

Selain biaya tenaga kerja, sewa lahan juga memiliki komposisi biaya yang besar.
Image title
20 Agustus 2020, 08:37
Petani memanen jagung miliknya di Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Selasa (4/8/2020).Petani setempat mengaku kualitas hasil panen jagung di daerah itu menurun akibat tingginya curah hujan beberapa pekan terakhir sehingga berdampak pad
ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/aww.
Petani memanen jagung miliknya di Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Selasa (4/8/2020).

Sejumlah permasalahan masih dihadapi sektor pertanian padi dan jagung. Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin mengatakan, mahalnya tenaga kerja masih menjadi permasalahan pada sektor tersebut.

"Tenaga kerja mahal dan sulit dicari," kata Bustanul dalam webinar pertanian, Rabu (19/8).

Berdasarkan data yang dirangkum dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan survei Struktur Ongkos Usaha Tanaman Padi 2018, biaya tenaga kerja merupakan komponen terbesar pada pertanian padi sawah. Komponen ini berkontribusi  48,23% terhadap total biaya produksi.

Sedangkan pada perkebunan jagung, biaya tenaga kerja berkontrbusi 44,94% terhadap total biaya produksi.

Selain biaya tenaga kerja, sewa lahan juga memiliki komposisi biaya yang besar. Pada pertanian komoditas padi, sewa lahan menyumbang biaya sebesar 29,86% dari biaya produksi, sementara sewa lahan jagung 27,71% dari biaya produksi. Selebihnya, biaya produksi digunakan untuk pupuk anorganik, bibit, alat dan sarana usaha, serta pestisida.

Pegiat Agribisnis Jagung Adhie Widiehartho mengatakan, tenaga kerja saat panen menjadi permasalahan. Menurutnya, tenaga kerja petani panen jagung saat ini mahal dan sulit dicari. Kecepatan dalam panen jagung akan menentukan proses distribusi. 

"Ini harus ada terobosan. Apakah kegiatan penanganan panen jadi kegiatan tersendiri," ujar dia.

Permasalahan lain yang tak kalah penting menurutnya terletak pada proses produksi jagung. Penanaman jagung kerap dilakukan di lahan yang belum tentu cocok untuk tanaman jagung.

Kemudian, pupuk yang digunakan pada pertanian jagung harus sesuai dengan kondisi Indonesia yang memiliki lahan basah serta ketinggian lahan.

Pada pasca-produksi, sejumlah permasalahan masih dihadapi dalam komoditas jagung. Salah satunya ialah mahalnya biaya distribusi. Sebab, kendaraan yang digunakan untuk pengiriman dikenakan biaya mahal serta terdapat sejumlah oknum.

"Kalau angkut jagung satu truk, biaya transportasi lebih murah dari setengah truk. Kalau ambil jagung naik motor, biayanya lebih mahal," kata dia.

Selain itu, para petani jagung juga tidak menguasai kemampuan manajemen usaha. Hal ini juga dialami oleh petani yang sudah bekerja selama 20 tahun.

Tidak hanya itu, para petani juga tidak memiliki pengetahuan mengenai benih, pupuk usaha tani, arus kas, dan akses pembiayaan terkini.

Oleh karena itu, ia berharap akan ada bantuan berupa stimulan transportasi hingga subsidi harga Jual. Selain itu, Adhie menilai perlunya kemudahan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada para petani, baik dari segi proses dan sistemnya.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Ekarina
Video Pilihan

Artikel Terkait