Panggung Politik dan Ekonomi Adu Cepat Vaksin dan Obat Covid-19

Image title
20 Agustus 2020, 22:07
Vaksin Virus Corona, Pandemi Corona, Covid-19, Virus Corona, BUMN, Universitas Airlangga, TNI, BIN,
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww.
Ilustrasi obat dan vaksin virus corona. Hingga saat ini ada empat kelompok peneliti, akademisi hingga perusahaan mengembangkan obat dana vaksin corona.

Kolaborasi Universitas Airlangga (Unair), Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI Angkatan Darat (AD) yang tengah mengembangkan obat virus corona atau Covid-19 menantik kontroversi dan sorotan publik. Mereka mengklaim berhasil menemukan obat yang manjur menghalau virus corona.

Rektor Universitas Airlangga M. Nasih sempat mengklaim temuan obat mereka bakal menjadi yang pertama di dunia. Obat corona memang dinanti-nantikan umat seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia.

Temuan obat kolaborasi tiga lembaga itu merupakan hasil dari kombinasi sejumlah obat yang telah diuji dalam tiga tahap. Pertama, kombinasi antara Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin. Kedua, Lopinavir/Ritonavir dan Doxycycline. Kombinasi terakhir merupakan campuran Hydrochloroquine dan Azithromycin.

Namun, langkah Unair-BIN-TNI AD untuk mendapat daulat sebagai penemu obat pertama corona di dunia, tak berjalan mulus. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menilai proses uji klinis terhadap obat ini tak valid.

Ada banyak hal yang masih harus diperbaiki agar obat tersebut dinyatakan valid dan mendapat izin edar BPOM. Salah satunya, BPOM menyoroti sampel yang masih terbatas kepada pasien di Secapa AD yang pernah menjadi klaster corona. Sampel tersebut dianggap belum dapat merepresentasikan keragaman demografi hingga derajat kesakitan pasien.

BPOM juga menilai bahwa calon obat dari pengembangan Unair ini belum menunjukan adanya perbedaan yang signifikan dibandingkan terapi standar lainnya.

Dari sisi efek samping, BPOM menilai obat tersebut masih harus dikaji lebih lanjut. Obat corona merupakan obat keras yang tidak bisa sembarangan diberikan kepada masyarakat. "Memang sangat penting sekali kita melihat dampak dari pemberian dosis yang sudah dirancang dalam riset ini," kata Kepala BPOM Penny Lukito dalam konferensi pers, Rabu (19/8).

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi persnya di Istana Kepresidenan Kamis (20/8) mengatakan, banyak pihak yang sedang berusaha untuk mencari obat yang paling efektif untuk Covid-19.

TES CEPAT COVID-19 DI STASIUN
Tes cepat Covid-19 di stasiun (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.)

 

Namun harus dipastikan bahwa seluruh proses itu melalui kaji etik dalam uji klinis. Selain itu, perlu menerapkan protokol uji klinis ketat dan baik sehingga secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan karena berdasarkan bukti.

Ia mengatakan, seluruh dokter di Indonesia bisa betul-betul dapat memilih pengobatan yang terbaik kepada pasien Covid-19 dengan berpedoman pada rekomendasi obat yang diberikan oleh lima asosiasi dokter spesialis di Indonesia. Namun, obat rekomendasi tersebut bukan untuk dikonsumsi secara pribadi oleh masyarakat secara bebas.

Sampai saat ini ada beberapa kandidat treatment atau perawatan medis penanganan Covid-19 yang dikembangkan dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Hingga Jumat (10/7), ada ribuan obat dan vaksin dalam status uji klinis.

"Tentunya sebagian menunjukkan efek positif, meski harus digunakan secara hati-hati sampai betul-betul dapat direkomendasikan aman dan efektif," katanya.

Ia optimistis Indonesia punya peluang untuk memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat Indonesia, melihat berbagai upaya untuk mencari pengobatan yang terbaik dan pengembangan vaksin. Ditambah perubahan perilaku masyarakat yang terlihat dari kasus aktif corona di 46 kabupaten dan kota sudah di bawah 10%.

Adu Cepat Temuan Vaksin dan Obat Covid-19

Sesungguhnya, selain Unair-BIN-TNI AD, ada empat kelompok yang terdiri dari ilmuwan, peneliti, akedemisi hingga perusahaan berupaya mengembangkan obat dan vaksin virus corona. 

BUMN farmasi PT Bio Farma (Persero) berkerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok, Sinovac Biotech Ltd, untuk memproduksi vaksin virus corona. Vaksin ini sedang memasuki uji klinis tahap III. Dimulai sejak 11 Agustus 2020, fase ini rencananya berlangsung selama enam bulan.

Bio Farma tercatat memiliki kapasitas produksi hingga 100 juta vaksin. Namun, kapasitas produksinya ditargetkan bisa mencapai 250 juta vaksin pada akhir tahun ini.

Tidak hanya perusahaan pelat merah, perusahaan swasta PT Kalbe Farma Tbk yang menggandeng perusahaan bioteknologi asal Korea Selatan Genexine Inc untuk memproduksi vaksin virus corona. Untuk tahap awal, Kalbe Farma menargetkan hanya memproduksi vaksin corona dengan skala kecil, maksimal 10 juta dosis.

Pada pertengahan tahun depan vaksin ini ditargetkan sudah bisa didistribusikan kepada masyarakat. Kandidat vaksin kolaborasi Kalbe Farma dengan Genexine Inc itu sedang memasuki tahap uji klinis fase satu yang dilakukan di Korea Selatan. Sedangkan fase kedua direncanakan dilaksanakan di Indonesia dan ditargetkan dapat berlangsung pada kuartal IV tahun ini.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga tengah mengembangkan vaksin merah putih bersama Lembaga Molekuler Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta perguruan tinggi. Vaksin pemerintah ini ditargetkan rampung pertengahan 2021.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra menilai pengembangan vaksin dan obat Covid-19, boleh saja dilakukan dengan cepat ataupun dipercepat. Tapi, setiap langkah uji klinis sejak awal hingga akhir perlu dilakukan sangat hati-hati.

"Obat dan vaksin adalah harapan, tapi bukan segala-galanya untuk penyelesaian Covid-19. Perilaku, kedisiplinan, dan kebijakan itu yang paling utama," katanya kepada Katadata.co.id, Kamis (20/8).

Ia tetap mengapresiasi dan mendukung upaya anak bangsa menemukan obat dan vaksin Covid-19. Tetapi keduanya bukan sesuatu yang bisa tiba-tiba, perlu melalui proses penelitian yang cukup lama.

Hermawan mengatakan bahwa penemuan obat dan vaksin virus, memakan waktu yang cukup lama. Penemuan vaksin dapat memakan waktu 4-7 tahun, sedangkan obat lebih pendek sekitar 2-3 tahun.

Ada penyebab pemerintah saat ini menggantungkan harapannya pada penemuan obat dan vaksin Covid-19, sehingga mempercepat proses penelitian. Menurut Hermawan, karena selama ini upaya pencegahan penularan Covid-19 tidak optimal terkait perilaku kedisiplinan dan kebijakan.

Adu cepat pengembangan vaksin dan obat Covid-19 ini juga dinilai memiliki kepentingan ekonomi dan politik. Pengamat sosial politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun mengatakan, kelompok-kelompok besar uji vaksin ini memiliki korelasi dengan kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi.

Ia menilai bahwa ada tiga kelompok besar dalam uji vaksin ini yang berkaitan dengan kontestasi politik, yaitu TNI AD-BIN yang mengembangkan obat, lalu Kementerian BUMN melalui Bio Farma yang menggandeng Sinovac, dan pengembangan vaksin merah putih oleh BPPT, LIPI, dan Eijkman.

"Jadi uji vaksin sebagai arena kontestasi dari keunggulan tiga kelompok besar di dalam uji vaksin itu," kata Ubedilah.

Motif politik yang bisa ditafsir dari pengembangan obat dan vaksin Covid-19 ini lebih kepada membangun citra politik dari pengambilan kebijakan atau melakukan riset uji vaksin dan obat oleh pemerintah. Langkah uji klinis tersebut selalu memiliki dampak untuk munculnya konstruksi citra terhadap kekuasaan.

Selain politik, proses pengembangan vaksin dan obat Covid-19 ini juga bisa dilihat dari motif finansial atau bisnis. Pebisnis bisa berkolaborasi untuk kemudian menemukan vaksin dan menjadikan itu sebagai celah untuk dikomersilkan.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait