BlueBird Siasati Sepi Penumpang Masa PSBB Lewat Layanan Logistik

Blue Bird memperluas layanan ke sektor logistik lewat program BirdKirim.
Image title
Oleh Ekarina
24 September 2020, 09:00
Blue Bird, Logistik, Transportasi, PSBB, Taksi, Jakarta, Hotel, Aplikasi, Digital, Bisnis.
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Penumpang menaiki taksi blue bird di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (14/2/2020).

Perusahaan taksi PT Blue Bird Tbk memperluas layanan ke sektor logistik lewat program BirdKirim seiring pemberlakuan  pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta.

General Manager of Corporate Communications PT Blue Bird Tbk, Aninda Perdana, mengatakan perusahaan meluncurkan layanan tersebut sebagai solusi mendukung kelancaran pemenuhan kebutuhan masyarakat selama beraktivitas di rumah.

“Program logistik BirdKirim, diharapkan mampu memberikan solusi bagi masyarakat beraktivitas, namun harus memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari bahan makanan, rumah tangga dan pengiriman barang,” kata Aninda dalam keterangan tertulis, Rabu (23/9). 

Aninda mengatakan, pemesan dapat mengakses layanan BirdKirim melalui aplikasi MyBluebird. Caranya, pengguna cukup membuka layanan BirdKirim di aplikasi dan mengisi lokasi pickup (titik jemput) dan destination (tujuan).

Pemesan akan mendapatkan keterangan harga berdasarkan fixed price yang dapat dibayar melalui metode tunai ataupun non-tunai. Kemudian pengemudi Bluebird akan mengambil barang tersebut sesuai dengan pesanan.

Dia menambahkan, perusahaan telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat pada layanan BirdKirim, seperti pengecekan kesehatan rutin dari pengemudi Bluebird sebelum beroperasi dalam melayani masyarakat.

Bluebird membekali pengemudi seperti masker dalam mengantarkan barang pesanan ke lokasi tujuan. Setelah selesai beroperasi, perusahaan juga melakukan pembersihan erhadap armada untuk memastikan kesiapan armada keesokan harinya.

“Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat kepada pengemudi dan armada, kami berharap layanan BirdKirim mampu memenuhi permintaan dari masyarakat serta memberi kenyamanan saat melaksanakan social distancing pemerintah,” ujarnya. 

Mitra Kerja Sama

Untuk memperluas jangkauan pasar BirdKirim, Bluebird juga menggandeng berbagai mitra dari lini bisnis yang berbeda. Mitra tersebut di antaranya Hotel Dharmawangsa, Hotel Aston Priority Simatupang, Mall Plaza Indonesia, Central Park, Neo Soho, ICE BSD Restaurant.

Director of Marketing Communications Aston Priority Simatupang Hotel & Conference Center, Paundra Hanutama merespons positif kerja sama dengan Bluebird Group.

"Layanan BirdKirim mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan kami dalam menawarkan layanan logistik yang aman, nyaman dan terpercaya,” ujar Paundra.

Dengan ribuan armada, BlueBird saat ini beroperasi di lebih dari 600 titik eksklusif di hotel, mal, pusat perbelanjaan, dan lokasi lainnya. Blue Bird saat ini memiliki  empat layanan, mencakup taksi reguler (brand Blue Bird dan Pusaka), layanan taksi eksekutif (Silver Bird). Lalu layanan limusin dan sewa mobil (Golden Bird) dan sewa bus (Big Bird).

Dalam beberapa tahun belakangan, Blue Bird terus mengalami penurunan laba. Namun pandemi Covid-19 ternyata makin mengguncang kondisi perusahaan tersebut.

Blue Bird terpaksa menghentikan operasional sebagian armada taksinya, seperti layanan Jabodetabek Airport Connection (JAC) dan Big Bird Shuttle di Jakarta dan Bandung.

Perusahaan yang menaungi 3.312 pekerja itu menyiasati pandemi Covid-19 dengan diversifikasi usaha dan efisiensi pada berbagai lini operasional. Salah satu bentuknya yakni memotong gaji karyawan hingga 50%.

Pada kuartal I 2020, perusahaan hanya mendapatkan laba Rp 13,74 miliar. Angka tersebut turun 84,5% dari 2019 dalam periode yang sama, sekaligus terbesar dibandingkan beberapa tahun terakhir.

 

Pesaing Blue Bird di bisnis taksi, PT Express Transindo Utama Tbk pun mengambil langkah serupa untuk mempertahankan bisnis. Perusahaan melakukan pembenahan atau restrukturisasi internal melalui konsolidasi operasi baik di kantor pusat maupun pool. Hal ini mengakibatkan jumlah karyawannya berkurang.

“Sebanyak 143 karyawan Perseroan terkena dampak selain dari PHK yaitu pemotongan gaji karyawan sebesar 40% dari total gaji per bulan, yang diperkirakan akan berlangsung hingga periode yang belum dapat ditentukan saat ini,” kata Corporate Secretary Express Transindo, Yuniana melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, dikutip Minggu (16/8).

Yuniana menjelaskan, pandemi corona menyebabkan sejumlah opersional TAXI ini terhenti diberbagai daerah imbas adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. Misalnya, pembatasan operasional pada taksi reguler dan taksi premium baik di Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) maupun luar kota.

Tak hanya itu, layanan penyewaan kendaraan dan limusin di Jakarta dan Bali pun sempat disetop. Serta pembatasan operasional pada layanan penyewaan bus di Jadetabek. “Penghentian dan/atau pembatasan operasional di atas terutama disebabkan oleh penurunan permintaan atas layanan transportasi umum dan juga adanya pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan perpanjangan PSBB Transisi hingga Agustus 2020,” katanya.

Alhasil, perseroan memprediksi bakal ada penurunan pendapatan antara 51% hingga 75% pada tahun ini dibandingkan tahun lalu imbas pandemi corona.

Adapun, strategi TAXI untuk menurunkan biaya operasional yakni melakukan penyesuaian jumlah karyawan dan penutupan sejumlah pool yang tidak aktif.

Dari sisi kinerja keuangan, PT Express Transindo Utama Tbk tercatat membukukan kerugian sebesar Rp 43,44 miliar sepanjang semester I 2020, turun 62,47% dibandingkan rugi yang dialami perseroan pada periode yang sama tahun lalu. Pada semester I 2019 perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp 115,78 miliar.

 

Editor: Ekarina

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait