WHO Peringatkan Negara yang Kasus Covid-19 Menurun Tetap Waspada

Sejumlah negara dengan angka kasus Covid-19 tinggi dikabarkan mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Image title
Oleh Ekarina
28 November 2020, 07:51
WHO, Covid-19, Pandemi Corona, Covid-19, Vaksin Virus Corona, Gerakan 3 M.
ANTARA FOTO/REUTERS/Danish Siddiqui/WSJ/cf
Tenaga kesehatan membawa jenazah seorang pria, yang meninggalakibat virus corona (COVID-19), dari ambulans ke krematorium di New Delhi, India, Jumat (13/11/2020).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperigatkan negara-negara yang sudah mengalami penurunan kasus virus Covid-19 agar tetap waspada. Langkah ini untuk menjaga laju kasus tetap terkendali.

"Apa yang tidak ingin kami lihat adalah situasi dimana negara beralih dari penguncian untuk mengendalikan (virus) ke penguncian yang lain," kata Kepala Teknis Covid-19 WHO Maria Van Kerkhove, dikutip dari Reuters dalam konferensi virtual di Jenewa.

Menurut data Worldometers, hingga kini sudah ada lebih dari 61,9 juta orang di seluruh dunia terinfeksi virus corona dan 1,42 juta lainya meninggal dunia.

Sejumlah negara dengan angka kasus Covid-19 tinggi dikabarkan mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan, seperti India dan Prancis. Meski masih berada di kisaran puluhan ribu, kurva virus telah menurun di angka 43.082 kasus baru dalam 24 jam terakhir.

"Ini kekuatan kami untuk menjaga transmisi rendah. Kami melihat puluhan negara menunjukkan wabah tersebut mampu dikendalikan dan masih terkendali," ujarnya.

WHO juga sebelumnya mengeluarkan peringatan pandemi tak akan berakhir hanya dengan vaksin virus corona. Pernyataan itu dibuat setelah beberapa perusahaan mengklaim vaksin yang dikembangkan efektif mencegah penyebaran virus corona. 

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan vaksin penting untuk mengendalikan pandemi. Tapi vaksin bukan satu-satunya alat mencegah penularan Covid-19.

Seperti diketahui, berbagai perusahaan berlomba-lomba mengembangkan vaksin virus corona. Beberapa di antaranya telah menunjukkan hasil yang positif.

Moderna Inc menyebut vaksin buatannya efektif mencegah Covid-19 hingga 94,5%. Hal itu berdasarkan temuan 95 kasus infeksi yang terjadi di antara 30.000 relawan. 

Pfizer Inc juga mengklaim vaksin yang dikembangkannya efektif mencegah Covid-19 hingga 90%. Sedangkan Sputnik V dari Rusia menyebut vaksin yang dibuatnya efektif menangkal virus corona hingga 92%.

Vaksin Virus Corona
Vaksin Virus Corona (ANTARA)

 

Tedros menyebut program vaksinasi harus diikuti oleh disiplin protokol kesehatan yang ketat, seperti peningkatan tes, isolasi, dan perawatan bagi yang positif Covid-19.

Selain itu, upaya pelacakan dan karantina yang berkontak erat harus terus berjalan. Terakhir, pemerintah harus melibatkan komunitas dan mendorong setiap orang berhati-hati terhadap penularan virus.

"Vaksin tidak akan mengakhiri pandemi Covid-19," ujar Tedros dalam akun Twitter, Senin (16/11).

Terlebih lagi, pasokan vaksin bakal terbatas. Sehingga tidak semua orang akan mendapatkan vaksin virus corona. WHO bakal memprioritaskan tenaga kesehatan, lansia, dan kelompok masyarakat yang berisiko tertular virus corona.

Dengan cara tersebut, dia berharap jumlah kematian akan berkurang dan memberi waktu sistem kesehatan mengatasi orang yang sakit.

Di Indonesia, pengembangan vaksin hingga kini masih berjalan. Ketua Departemen Epidemiologi Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, sambil menunggu program vaksinasi,  dia menyarankan pemerintah untuk membuat peraturan yang lebih ketat untuk meningkatkan pencegahan.

Pengetatan itu termasuk pelaksanaan 3M (menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak) dan 3T (tracking, testing, dan treatment).

"Kalau perlu pakai peraturan skala nasional, seperti Peraturan Pemerintah/PP," katanya. 

Sedangkan untuk memantau tingkat kepatuhan masyarakat terhadap pelaksanaan protokol kesehatan, Satgas Penanganan Covid-19 meluncurkan aplikasi digital, sebagai upaya promotif dan preventif dalam menangani Covid-19.

Aplikasi bernama Sistem Bersatu Lawan Covid-19 (BLC) Monitoring Perubahan Perilaku ini menghasilkan data secara real time. Sebab, kondisi di lapangan masih banyak ditemukan tingkat kedisplinan masyarakat rendah serta kurangnya kepatuhan instutusi maupun komunitas dalam menerapkan protokol kesehatan.

Demikian pula dengan potensi kerumunan masih banyak terjadi. "Dengan aplikasi ini, kita memonitoring kepatuhan protokol kesehatan dan perubahan perilaku masyarakat secara realtime, terintegrasi dan stematis di banyak lokasi, misalnya di tempat wisata, perumahan dan sebagainya," kata Dewi Nur Aisyah, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19, Kamis (29/10).

Pemerintah mencatat, jumlah pasien positif Covid-19 bertambah 5.828 orang per 27 November 2020. Total Kasus mencapai 522.581 dengan 437.456 pasien dinyatakan sembuh dan 16.521 orang meninggal dunia. Detailnya, ditampilkan dalam databoks berikut:

 

Editor: Ekarina

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Video Pilihan

Artikel Terkait