Jejak Prodia Bangun Merek Penyedia Jasa Laboratorium Klinik Terbesar

Selama 30 tahun pertama Prodia tak pernah beriklan.
Image title
Oleh Ekarina
7 Oktober 2020, 07:55
Prodia, Merek, Branding, Digital, Kesehatan, Pemasaran, Media Sosial.
Prodia
Ilustrasi Prodia. Prodia mendorong startegi brandingnya melalui komunikasi dunia digital.

PT Prodia Widyahusada Tbk berhasil membangun merek puluhan tahun hingga dikenal sebagai perusahaan penyedia jasa laboratorium klinik terbesar di Indonesia.

Direktur Utama Prodia Widya Husada, Dewi Muliaty mengatakan, jauh sebelum menjadi perusahaaan publik, Prodia kerap melakukan cara-cara halus dalam memperkenalkan brandnya. Salah satunya dengan cara scientific marketing.

"Selama 30 tahun pertama Prodia tak pernah beriklan, sifatnya hanya mengeluarkan buletin ke dokter-dokter atau melalui edukasi," katanya dalam wawancara khusus kepada Katadata.co.id akhir September lalu. 

Alhasil perusahaan berkreasi dalam memperkenalkan Prodia ke masyarakat. Sebab, dalam bidang kesehatan perusahaan tak diperbolehkan beriklan, menampilkan harga dan memakai cara yang tidak etis dalam memperkenalkan produk atau merek. Semuanya harus bersifat ilmiah.

Pada 2008, Prodia akhirnya memiliki divisi marketing komunikasi. Namun, Dewi menegaskan, tugas divisi ini tak selalu beriklan, melainkan berkomunikasi dengan konsumen agar mengetahui pembaruan kabar Prodia, pengembangan produk hingga layanan tes. 

"Marketing communication kami mulai melakukan branding, tapi tetap dengan cara halus karena tidak mau melanggar peraturan," katanya.

Sampai saat ini marketing komunikasi Prodia terus berkembang dan ke media sosial. Menurutnya, branding saat ini harus mengikuti arus ke ranah digital dan tak bisa terpaku pada saluran offline.  

"Dengan begitu Prodia lebih banyak dikenal. Selain di web, kami juga memiliki Instagram, dan platform E-Prodia mulai registrasi, payment, sampai home service," katanya. 

Prodia juga aktif menggelar webinar sehingga komunikasi di banyak segmen. Hal ini secara tak langsung membuat brand makin dikenal. 

Perusahaan pun mengklaim sejak 2018 menjadi pemimpin pasar laboratorium kesehatan dengan market share 38,8%. Sedangkan pada 2019 torehan pangsa pasar perseroan naik menjadi 39,2%. 

Saat ini, Prodia telah memiliki 152 outlet di 127 kota di 34 provinsi. Perusahaan juga mengelola laboratorium di 14 rumah sakit.

Prodia memiliki visi menjadi pelopor pelayanan tes melalui laboratorium kesehatan di Indonesia serta pelopor dalam teknologi laboratorium. Sampai saat ini, perusahaan telah mengerjakan lebih dari 800 jenis tes di Laboratorium Prodia yang sekaligus menjadi pusat rujukan nasional di Jalan Kramat Raya, Jakarta.

Pengajar Branding Universitas Prasetiya Mulya, Rudy Handoko mengatakan, brand  tidak bisa dibangun dalam semalam. Menurutnya, brand yang bagus bukanlah hasil pencitraan atau rekayasa produsen, melainkan kinerja produk yang konsisten sesuai janji yang diberikan kepada konsumen. 

"Kinerja ini terbukti dalam waktu yang tak sebentar dan rewardnya brand ini bisa dipercaya konsumen," kata Rudi kepada katadata.co.id. 

Selain itu, dia juga menilai transformasi digital sebagai keharusan perusahaan konvensional dalam menjalankan bisnis saat ini. Namun, ekspansi digital juga harus diikuti dengan  penyesuaian "budaya"  perusahaan.

Budaya digita ini menuntut pengambilan keputusan cepat bagi perusahaan. Hal ini menurutnya menjadi tantangan bagi beberapa perusahaan. 

 

Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait