"Korban" Persaingan Adidas versus Nike: Reebok Bakal Dilego Rp 35 T

Sejumlah perusahaan dikabarkan tertarik membeli Reebok di antaranya, VF Corp, pemilik merek Timberland dan North Face serta Anta International Group Holdings dari Tiongkok.
Image title
Oleh Ekarina
23 Oktober 2020, 17:10
Brand, Merek, Adidas, Nike, Olaraga, Retail, Amerika Serikat, Tiongkok
Adidas.com
Produsen sepatu asal Jerman, Adidas AG diprediksi mengalami kehilangan pendapatan Rp 16,2 triliun di kuartal I 2020 imbas lesunya penjualan akibat wabah corona.

Raksasa merek perlengkapan olahraga Jerman, Adidas AG dikabarkan berencana menjual Reebok kepada sejumlah perusahaan. Penjualan brand ini diduga dipicu oleh kurangnya kinerja Reebok, terutama dalam persaingannya melawan dominasi Nike di pasar Amerika Serikat (AS). 

Reebok disebut gagal merestrukturisasi bisnis, menurut laporan media Jerman Manager Magazin, seperti yang dilansir Forbes.  Adidas berencana menyelesaikan penjualan brand tersebut pada Maret 2021.

Masih menurut laporan media tersebut, CEO Adidas Kasper Rorsted akan melepas Reebok senilai € 2 miliar atau setara US$ 2,4 miliar (Rp 35,1 triliun).

Perusahaan dilaporkan memiliki tim internal yang bertugas mengerjakan kesepakatan dan menandatangani perjanjian kerahasiaan.

Sejumlah perusahaan dikabarkan tertarik membeli Reebok di antaranya adalah VF Corp, pemilik merek Timberland dan North Face serta Anta International Group Holdings dari Tiongkok.

Setelah kabar tersebut, saham Adidas melonjak 3,2%. Namun,  juru bicara Adidas mengatakan kepada Bloomberg  perusahaan tidak mau mengomentari rumor tersebut.

Reebok yang bermarkas di Boston adalah merek perlengkapan olahraga terbesar ketiga di dunia sebelum diakuisisi oleh Adidas senilaiUS$ 3,8 miliar pada 2006. Adidas membeli Reebok untuk bersaing dengan pemimpin pasar produk olah raga di AS yakni Nike Inc.

Namun, penurunan penjualan Reebok dalam beberapa tahun terakhir telah menyebabkan para investor menuntut Adidas untuk menjual merek tersebut.

Lonjakan Penjualan Nike 

Pesaing Reebok di Amerika Serikat (AS) Nike Inc. justru mencatat kenaikan pendapatan signifikan sepanjang kuartal I 2020. Melesatnya penjualan online Nike hingga 82% menolong bisnis perusahaan di masa pandemi corona.

Dikutip dari CNBC, Nike berhasil membuktikan pertaruhannya di segmen digital. Konsumen beralih ke situs web dan aplikasi untuk berbelanja sepatu kets dan pakaian olahraga selama pandemi Covid-19.

Beberapa tahun terakhir, perusahaan telah menarik diri dari department store dan gerai grosir lain dengan berinvestasi pada toko yang lebih kecil, yakni Nike Live.

Usai pengumumkan kinerja penjualannya, saham Nike naik 9% pada Rabu (23/9), mencapai level tertinggi US$ 130,38. Chief Financial Officer (CFO) Matt Friend mengatakan Nike memperoleh margin kotor 10 basis poin lebih tinggi dari pendapatan digital dibandingkan pendapatan grosir.

Perusahaan juga menemukan pelanggan loyal lewat situs belanja. Hal ini memungkinkan Nike menurunkan biaya akuisisi pelanggan dan meningkatkan laba dari belanja iklan.

“Meskipun kami perlu melanjutkan investasi untuk memperluas kapasitas digital, kami dapat meningkatkan efisiensi operasional melalui alat pemodelan prediktif, personalisasi anggota yang digerakkan oleh data, dan inventaris,” katanya.

Berdasarkan data Statista, pasar pakaian global diproyeksikan akan tumbuh dari yang senilai US$ 1,3 triliun pada 2015 menjadi US$ 1,5 triliun pada 2020, menandakan permintaan pakaian dan sepatu meningkat di seluruh dunia.

Distribusi regional dari permintaan pakaian diperkirakan akan tumbuh konsisten selama periode tersebut, meskipun kawasan Asia Pasifik tumbuh sekitar 4%.

Tiga kawasan dengan pasar pakaian jadi terbesar adalah 28 negara anggota Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Tiongkok dalam tren menurun. Pada 2017, kategori apparel dengan pertumbuhan pasar global tertinggi dicatat oleh jenis pakaian olahraga atau sportswear sebesar 6,8%.

Pada musim 2015/2016, perusahaan apparel Adidas dan Nike menguasai lebih dari 42 persen pangsa pasar kostum tim sepakbola Eropa. Adidas mampu menyuplai kostum untuk 65 tim, termasuk tim-tim besar seperti Real Madrid, Bayern Munchen, dan Manchester United.

Sedangkan rivalnya Nike menyuplai kostum untuk 55 tim diantaranya Barcelona dan Paris Saint Germain. Sisa pangsa pasar diisi oleh berbagai merek seperti Puma, Marcon, Umbro, Kappa dan lainnya.

 

Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait