Permintaan Melandai, Produsen Sepeda Element Fokus Dekati Komunitas

Sepeda kini dinilai mengalami perluasan fungsi sebagai alat transportasi, terlebih di masa pandemi.
Image title
Oleh Ekarina
7 November 2020, 11:58
Sepeda Elemet, Tren Gowes, Impor, Brand, Merek, Jokowi, Bisnis, Pandemi Corona .
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.
Warga bersepeda di jalur khusus untuk sepeda di Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (5/7/2020). Pemerintah Kota Bogor berencana akan menambah dan memperluas jalur khusus bagi sepeda, yang saat ini memiliki panjang empat kilometer dan jalur sepeda yang berdampingan dengan jalur pedestrian itu berada di sepanjang jalur Sistem Satu Arah (SSA) yang melingkari Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor.

Tren gowes diprediksi tetap booming tahun depan seiring perubahan gaya hidup masyarakat selama pandemi corona. Produsen sepeda Element memperkirakan  permintaan sepeda bisa tumbuh mencapai 30-40% tahun depan.

Meski begitu, pertumbuhan permintaan tersebut melandai dibandingkan 2019 dan 2020 yang bisa mencapai hingga 200%. Ini dikarenakan kepemilikan sepeda di masyarakat mulai meningkat.

CEO PT Roda Maju Bahagia (RMB), Hendra mengatakan, secara keseluruhan pertumbuhan industri sepeda masih cukup baik tahun depan. "Sepeda di 2021 over all masih okelah, cuma memang tak setinggi 2020," ujarnya dalam webinar Indonesia Industry Outlook 2021: The Bicycle Boom: Big Opportunity, Big Profit, Jumat (7/11).

Dari sisi regulasi, industri dalam negeri menurutnya didukung oleh aturan pembatasan impor sepeda melalui Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 68 Tahun 2020.

Sementara di daerah, mulai banyak fasilitas khusus jalur pesepeda seperti di Jakarta dan Semarang. Bahkan, untuk sepeda lipat diperbolehkan masuk ke dalam kereta dan moda raya terpadu (MRT).

Sepeda kini dinilai mengalami perluasan fungsi sebagai alat transportasi, terlebih di masa pandemi. Ketika banyak orang takut menggunakan kendaraan umum, alat ini diandalkan untuk mendukung kegiatan mobilitas, seperti untuk bekerja atau bike to work.

Tak hanya itu, sepeda juga dianggap sebagai barang koleksi. Sehingga konsumen biasanya menginginkan model serta karakteristik yang berbeda-beda. Hal-hal tersebut menurutnya bisa menciptakan peluang permintaan baru. 

Perubahan gaya hidup masyarakat seperti tren gowes dengan jarak 50 kilometer, bersepeda sambil travelling, sport tourism yang tengah marak di kalangan komunitas pun tak luput dari bidikannya.

Oleh karena itu, guna meningkatkan basis pelanggan, Element bakal terus berkolaborasi. Kerja sama tersebut dilakukan secara terbuka dengan semua pihak, baik artis, industri film,  brand lokal. Terbaru, pihaknya tengah kolaborasi dengan perusahaan teh kemasan serta Kementerian Pariwisata di awal 2021.

Komunitas dianggap penting bagi bisnis perusahaan. Selain menyumbang penjualan serta branding produk, dari kelompok ini mereka bisa memperoleh masukan mengenai kualitas maupun pengembangan produk ke depan. 

Kelangkaan Suku Cadang

Di tengah permintaan yang meningkat, industri sepeda menghapi tantangan produksi berupa kelangkaan suku cadang. Kelangkaan tersebut bahan menurut Hendra dialami seluruh produsen sepeda dunia.

Kebutuhan suku cadang sepeda dalam negeri saat ini  60-70% berasal dari impor. Permintaan suku cadang serentak dari produsen sepeda seluruh dunia menyebabkan perusahaan spare part kewalahan. 

Salah satu suku cadang yang banyak diminati saat ini adalah Shimano asal Jepang. 
“Mereka kelihatanya overload sekali. Kita pesan, mereka terima tetapi tidak ada jadwal lebih lanjut sehingga harus menunggu,” ujarnya.

Lipsus Sepeda
Lipsus Sepeda (ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/foc.)

 

Akibat kelangkaan suku cadang ini, produksi sepeda pun terhambat. Padahal, permintaan banyak sekali datang dari konsumen, tapi sepeda tak bisa diproduksi karena ketiadaan suku cadang. 

Element Bike saat ini memiliki satu unit pabrik di Kendal, Jawa Tengah yang berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare. Pabrik yang dibangun dengan investasi sekitar Rp 373 miliar itu diharapkan terus berkembang dan ekspansi dengan memanfaatkan sisa lahan yang ada.  

Dari sisi produk, perusahaan akan fokus di segmen sepeda lipat, sepeda gunung dan roadbike dengan beberapa mereknya seperti Element, Police, Dahon, Camp, Ion dan Capriolo.

Beberapa produknya yang laris di pasar di antaranya adalah Element Folding Bike Troy Vo.2, Alton Mountain Bike, Dahon Ion Folding Bike Chicago 8 Speed.

Tak hanya dikenal dan dipromosikan oleh para artis, Presiden Joko Widodo bahkan ikut memamerkan sepeda Element Camp Folding Bike Foldx Lite edisi kolaborasi dengan Damn I Love Indonesia.

Dalam unggahan Instgramnya, presiden tampak sedang menuntun sepeda lipat putih Element. Orang nomor satu di Indonesia itu mengatakan memiliki beberapa koleksi sepeda lain produksi Indonesia, yakni Kreuz dan Polygon.

Sepeda Polygon saat ini diproduksi di Sidoarjo, Jawa Timur dengan kapasitas 700.000 unit sepeda tahun. Fasilitas ini diklaim sebagai pabrik terbesar di dunia dengan teknologi canggih di seluruh lini produksi.

Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia atau AIPI sebelumnya mengatakan, penjualan sepeda meningkat hingga 30% pada April dan Juli 2020 lantaran perubahan gaya hidup masyarakat dan tren bersepeda.

"Rata-rata kenaikan mungkin sekitar 30% dibanding penjualan periode yang sama tahun lalu, khususnya pada akhir April saat pemerintah mulai melonggarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)," kata Ketua Umum AIPI Rudiyono kepada katadata.co.id, Senin (20/7).

Beberapa jenis sepeda yang paling laris di pasaran antara lain adalah sepeda lipat, sepeda city bike dan sepeda gunung.

Di sisi lain, peningkatan permintaan sepeda juga diikuti dengan lonjakan impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor sepeda selama semester I 2020 melonjak hingga 24,82% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Mayoritas diimpor dari Tiongkok. Secara rinci, nilai impor sepeda roda dua dan sepeda lainnya pada Januari-Juni 2020 mencapai US$ 39,02 juta atau sekitar Rp 577 miliar (kurs Rp 14.800 per dolar Amerika Serikat). Nilai impor tersebut naik US$ 7,76 juta dibandingkan semester I 2019 sebesar US$ 31,26 juta.

Detailnya tergambar dalam databoks berikut:

 

 Reporter/ penyumbang bahan: Ivan Jonathan (magang) 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

Editor: Ekarina

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait