Raih Dana Segar, Brodo Dorong Ekspor Sepatu hingga Bisnis Konsultan

Brodo akan memulai ekspor sepatu perdana ke Jepang pada kuartal II 2021.
Image title
Oleh Ekarina
17 Desember 2020, 19:52
Brodo, Sepatu, Bisnis, UMKM, Brand Merek, Pandemi, Covid-19, Jepang , Ekspor.
@bro.do / Instagram
Ilustrasi brand sepatu lokal Brodo. Brodo Indonesia baru saja mendapat pendanaan dari BRI Ventures.

Brand sepatu lokal Brodo, baru saja mendapatkan pendanaan seri A dari Dana Ventura Sembrani Nusantara, yang dikelola BRI Ventures. Dana tersebut akan digunakan untuk mendorong ekspansi bisnis sepatu hingga memperbesar usaha jasa konsultan pemasaran digital

Pendiri sekaligus CEO Brodo Indonesia, Yukka Harlanda mengatakan, sejak 2018 Brodo merambah jasa konsultan yang diberi nama Boleh Dicoba Digital (BDD). Platform tersebut dibentuk untuk membantu usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan brand lokal memasarkan produk secara digital agar bisa naik kelas. 

"Dari yang awalnya hanya 5-6 UMKM yang bergabung, saat ini jumlahnya meningkat hingga 200-an. Kami ingin membantu brand lokal lebih mengenal digital," kata Yukka kepada Katadata.co.id, Kamis (17/12).

Meski tak berhubungan dengan bidang persepatuan, Yukka menyebut bisnis jasa konsultan tersebut mampu tumbuh signifikan, terlebih di masa pandemi Covid-19. Dalam kurun tak sampai setahun, lini tersebut bahkan telah berkontribusi 30% terhadap total pendapatan Brodo Indonesia.

Alhasil, ketika omzet bisnis sepatu menyusut lantaran daya beli menurun dan operasional gerai offline Brodo tutup akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB), omzet dari bisnis konsultan mampu mengimbangi penurunan. 

Cloud marketing platform BDD saat ini telah digunakan beberapa merek lokal seperti Eiger, Bodypack, Niilon, Never To Lavish dan sebagainya.

Ekspor ke Jepang

Perusahaan menyiapkan strategi kedua menggunakan dana investor untuk mengembangkan brand Brodo melalui ekspor, ekspansi pasar dan menambah kategori baru.

Yukka mengatakan, Brodo akan memulai ekspor sepatu perdana ke Jepang pada kuartal II 2021. Perusahaan telah memiliki mitra untuk memasarkan produknya di toko retail maupun melalui marketplace.

"Jepang merupakan pasar yang paling sulit ditembus, karena untuk ekspor ke sana, kami harus punya kualitas yang bagus, detail dan produk yang unik dan berbeda," kata dia.

Dengan masuknya Brodo ke Negeri Sakura, dia berharap nantinya bisa diikuti oleh ekspor ke negara lain. 

Sementara dari segi produk, pada 2021 Brodo akan memiliki varian baru berupa sepatu olah raga. Alasan perusahaan masuk ke segemen ini dikarenakan selama Covid-19 banyak orang meng8urangi pembelian sepatu kerja dan beralih ke sepatu olah raga. 

Terlebih, fokus dan aktivitas masyarat terhadap masalah kesehatan selama pandemi semakin meningkat. Sehingga, pada tahun depan Brodo menurutnya akan mulai mengurangi produksi sepatu kerja dan digantikan dengan sepatu olah raga.

Dengan berbagai rencana bisnisnya, pada 2021 dia berharap omzet perusahaan masih dapat tumbuh 20% dari tahun ini. "Target 20% sebetulnya cukup konservatif, karena pada tahun-tahun sebelumnya pertumbuhan kami bisa mencapai di atas itu. Tapi dengan adanya Covid-19 kami tidak ekspektasi terlalu tinggi," ujar Yukka.

Untuk pelaku UMKM yang merintis usaha, dia pun membagikan tiga tips. Pertama, percaya dengan brandnya. Memiliki produk bagus saja tidak cukup, tapi sebuah brand harus memiliki story atau narasi agar bisa diingat dna dikenal.

Kedua, go digital. Pandemi corona harus bisa mempercepat UMKM go-digital, sebab semua usaha sudah mengarah ke channel ini. Ketiga, mampu mengubah mindset. Kegagalan menurutnya hal biasa dalam usaha. Oleh sebab itu, jangan mudah menyerah.

Pelaku UMKM sepatu kulit lain yang sukses mengekspor produknya hingga ke empat benua, yakni Asia, Australia, Eropa dan Amerika adalah Chavelier. Pendiri sekaligus Pemilik Brand Chevalier, Egar Putra Bahtera mengungkapkan tiga strategi utama memasarkan produknya hingga ke luar negeri, yakni dengan memperkuat riset, kualitas dan kolaborasi.

Pada awal berdiri di 2011 sepatunya sudah dibanderol di kisaran harga Rp 900 ribu sampai Rp 5 juta. Produk termahalnya ini berbahan kulit kuda yang diimpor dari Italia. Pesaingnya sendiri saat itu cukup banyak terutama dari brand besar.

"Sulit mengubah persepsi masyarakt untuk mau memakai sepatu berharga di atas Rp 1 juta. Tapi kami berhasil persepsi masyarakat, brand lokal punya kualitas baik, " kata Egar dari diskusi Festival Ide Bisnis yang diadakan Detik.com, Kamis (22/10).

Berkolaborasi dengan gerai retail, membuka jalan ekspor sepatu Chevalier. Egar mengatakan, pada 2012 pihaknya sempat berkolaborasi dengan The Goods Dept. untuk memajang dan menjual sepatu.

Tak lama berselang, datang tawaran dari seorang mitra untuk memasarkan produknya di Singapura. Lalu, pada 2013-2014, tawaran ekspor lintas benua juga datang dari Australia dan berlanjut ke Amerika Serikat (AS).

Pasar ini berhasil dirambah berkat pemasaran produk yang meluas dari sosial media, pameran fesyen serta tawaran kerja sama group buying AS dan Australia.

"Produk sepatu kami telah dikirim ke empat benua dengan beberapa kota seperti Tokyo, Seoul, Singapura, Amsterdam, Los Angles, New York, Seoul," katanya.

Selain Cavelier, saat ini Egar pun sukses mengembangkan empat brand lokal lainnya, yakni Cannes, Socia, Monoka, dan bisnis terbarunya di dunia interior, yaitu Etraworks.

Ekspor alas kaki dan sepatu sempat terganggu selama pandemi corona. Survei Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menunjukkan, permasalahan pasar ekspor industri alas kaki saat ini karena diterapkannya lockdown di sejumlah negara tujuan utama ekspor.

Sementara untuk industri orientasi pasar domestik, permasalahannya adalah sepi pemesanan. Hal tersebut lantaran buyer (pemilik merek lokal) membatalkan pemesanan dan meminta penundaan pengiriman karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSSB).

Sebagai informasi, survei ini dilakukan secara internal terhadap perusahaan yang tergabung sebagai anggota Aprisindo.

Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait