Adu Kencang Jepang dan Korea di Pasar Mobil Listrik Indonesia

Hyundai memiliki sejumlah komitmen mengembangkan ekosistem mobil listrik melalui investasi pabrik, membangun jaringan dealer dan layanan purna jual.
Image title
Oleh Ekarina
18 Desember 2020, 20:40
Mobil Listrik, Hyundai, Toyota, Brand Merek, Industri, Bisnis, Jepang .
ANTARA FOTO/REUTERS/Antonio Bronic
Ilustrasi mobil listrik sedang di isi ulang . Sejumlah berand otomotif beradu cepat menggaet pasar mobil listrik dalam negeri.

Pasar mobil listrik di Indonesia semakin semarak. Tahun ini, beberapa brand otomotif dari Korea Selatan serta Jepang mulai unjuk gigi memasarkan model-model andalannya untuk pasar dalam negeri.

Beberapa merek tersebut di antaranya ada Hyundai Ioniq, Toyota Lexus UX300e, Corolla Cross Hybrid, Corolla Altis Hybrid, Nissan Kicks e-Power dan Mitsubishi PHEV.

Di luar kedua negara itu masih ada BMW yang bersiap memasarkan mobil listriknya di Indonesia tahun depan dengan jenis PHEV (Plug-in Hybrid Elecric Vehicle).

Potensi pasar mobil listrik yang sangat besar menjadi alasan Hyundai meramaikan pasar di Indonesia. Apalagi pemerintah memberikan insentif yang diatur dalam Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

"Dengan dukungan ini, Hyundai bisa menjadi pionir dan game changer kendaraan elektrifikasi di tak hanya di Indonesia, tak juga mungkin di pasar Asia Tenggara," kata General Manager Marketing Department Hyundai Motors Indonesia (HMID) Astrid A. Wijana kepada Katadata.co.id, Jumat (18/12).

Astrid mengatakan Hyundai diharapkan bisa mengedukasi dan memperkenalkan mobil listrik di masyarakat. Apalagi Ioniq Electric menurutnya merupakan mobil listrik murni pertama yang hadir di Indonesia. 

Oleh karena itu, dia pun tak mempermasalahkan kompetisi dengan sesama pemain. Pasalnya, semakin banyak kompetitor, pengenalan produk dan edukasi ke masyarakat pun akan semakin besar. Sehingga, banyak masyarakat tertarik, mau mencoba dan akhirnya membeli.

Selain dari sisi produk, Astrid menyatakan Hyundai memiliki sejumlah komitmen mengembangkan ekosistem mobil listrik di dalam negeri, melalui investasi pabrik senilai US$ 1,5 miliar atau setara Rp 21 triliun, membangun jaringan dealer dan layanan purna jual (after sales).

"Pada 2021 kami menargetkan memiliki 100 dealer, angka ini tumbuh signifikan dibanding jumlah dealer saat ini yang baru mencapai sekitar 26 dealer," katanya.

Menurut dia, dealer tersebut akan dibangun sesuai standar Hyundai Global. Namun, dia enggan menyebutkan besaran investasi yang disiapkan untuk membangun satu dealer.

Meski butuh waktu dalam melakukan penetrasi pasar, sejumlah perusahaan otomotif tampak percaya diri memasarkan produk tersebut.

Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy sebelumnya mengatakan, peluang pasar mobil listrik jenis Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dan Battery Electric Vehicle (BEV) masih besar di Indonesia.

Segmen ini menurutnya akan tumbuh bertahap di tengah masyarakat Indonesia seiring masukmya pemain mobil listrik.

PENGOPERASIAN SPKLU KOMERSIL
PENGOPERASIAN SPKLU KOMERSIL (ANTARA FOTO/ Reno Esnir/hp.)

 

Pada akhir November lalu, Toyota telah membawa Lexus UX 300E ke pasar Indonesia. Mobil berjenis sport utility vehicle (SUV) ini diluncurkan untuk segmen atas perkotaan yang sadar lingkungan.

Menurutnya, segmen ini lebih dulu siap memiliki produk elektrifikasi. “Sejauh ini, kita sudah banyak menyiapkan HEV dengan model yang diluncurkan melalui brand Toyota dan Lexus. Saya kira ini pasar yang sangat potensial untuk dikembangkan,” ujar Anton beberapa waktu lalu.

Brand Jepang lain, yakni Nissan pada awal Septmber juga telah meluncurkan SUV kompak bertenaga listrik, All-New Nissan Kicks e-POWER di Indonesia. Tak sampai di situ, perusahaan bahkan siap memboyong koleksi mobil listrik lainnya, yakni LEAF ke Indonesia pada paruh pertama 2021.

Peluncurannya sejalan dengan langkah perusahaan untuk fokus ke segmen kendaraan listrik tanpa emisi.

"Elektrifikasi akan menjadi salah satu fokus utama kami di Indonesia," ujar Presiden Direktur Nissan Motor Indonesia Isao Sekiguchi dikutip dari Antara.

Tantangan Pemasaran

Meski mobil listrik mulai memasuki era baru, pelaku industri otomotif menilai masih ada beberapa persoalan dalam memasarkan produk di dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (GAIKINDO) Kukuh Kumara menyatakan, masalah bahan bakar dan pengisian daya masih menjadi pertimbangan utama konsumen membeli mobil listrik.

Tak hanya itu, keberadaan mobil listrik menjadi kurang populer di masyarakat karena harga jualnya yang tinggi, kendati produk ini lebih ramah lingkungan.

Menurutnya, kebanyakan masyarakat Indonesia masih memilih dan membeli kendaraan dengan harga di bawah Rp 200 juta. Oleh karena itu, harga mobil listrik yang umumnya berharga di kisaran Rp 600 juta ke atas, akan sulit dilirik konsumen.

Sebagai contoh, Hyundai Ioniq untuk yang kelas entry level dibanderol seharga Rp 624 juta per unit. Sedangkan Toyota Lexus UX300e dijual seharga Rp 1,24 miliar.

“Orang membeli mobil masih fokus ke harga jual. Sementara kalau mobil listrik ini dijual 3-4 tahun mendatang, harga baterainya mungkin hampir separuh harga mobil,” ujar Kukuh saat dihubungi Katadata.co.id, Jumat, (27/11).

Berbeda dengan pasar mobil listrik di Tiongkok, yang separuh harganya disubsidi oleh pemerintah, sehingga penetrasi pasarnya lebih cepat. 

The Economist Intelligence Unit (EIU) memprediksi penjualan mobil listrik pada 2020 akan mencapai jutaan unit. Dalam laporan hasil risetnya berjudul Industries in 2020, Tiongkok akan menjadi pasar terbesar mobil listrik dunia, dengan total 1,39 juta unit yang akan terjual.

Pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat berada di bawahnya dengan prediksi penjualan mobil listrik sebesar 597,9 ribu unit dan 425,1 ribu unit.

“Langkah ini kan tak mungkin kalau diterapkan di Indonesia. Tapi tahun lalu subsidi mereka pun sudah dikurangi,” kata Kukuh.

Senada dengan Kukuh, Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto juga mengungkapkan, harga jual mobil listrik yang tinggi akan membuat konsumennya terbatas di kalangan tertentu.

"Karena harga jual mobil listrik masih di kisaran Rp 700 juta, pasti volumenya sesuai dengan pasar di segmen tersebut," kata Jongkie.

Meski begitu, dia optimistis volume penjualan mobil listrik ke depan akan semakin meningkat seiring banyaknya pemain. Kesiapan infrastruktur berupa stasiun pengisian (charging station) juga merupakan faktor penting untuk mendukung eksosistem.

Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait